[puisi ini saya tulis sekitar tahun 80-an, dan dipublisir dalam bentuk Bunga Rampai, yang diterbitkan kelompok kerja PERPENA - Persekutuan Penulis Nasional, dibawah arahan penerbit Bina Kasih].
Di jalan-jalan kulihat pohon Natal
Mirip yang ada di gereja…
Gemerlap kelap-kelip lampu berwarni
Takjub dalam keprihatinan
Di rumah-rumah kulihat pohon Natal
Juga mirip yang ada di gereja…
Kado-kado tukar menukar, serta kata saling memaafkan.
“Sekali setahun tak apalah…”
Di cafe, bar, diskotik dan tempat dugem lainnya,
tak ketinggalan berhias pohon Natal…
Dansa-dansing aroma alkohol, tertawa dalam kemunafikan diri…
Aku merenung…
Coba meraba atmosfir saat Yesus dilahirkan di kandang domba…
Tak ada pohon Natal…
Pesta Ulang Tahun siapakah yang aku rayakan
setiap tahun bulan Desember?
Bukankah DIA Mesias?
Bukankah DIA Putra Allah?
Bukankah DIA Raja Penebus Dosaku?
Hatiku belum bersih…
“Selamat Ulang Tahun Yesus, Tuhan yang turun ke dunia…”
[Ini kadoku... hati yang penuh percaya kepada-MU...]











3 tanggapan kepada “Natal Abad 21 [sebuah puisi]”
Dian Sidauruk (laki-laki)
Desember 10th, 2007 pada 09:24
Natal telah salah interpretasi, salah tafsir, salah arah dan salah tempat.
Bagi kebanyakan orang – Natal telah menjadi dan akan mejadi pesta, bukan ritual agama lagi – bukan keprihatinan lagi – bukan pembagian suka dan duka lagi – bukan lagi tangisan duka oleh karena dosa – bukan lagi pemberian diri agar menjadi orang lain dan penerimaan diri orang lain agar menjadi diri sendiri. Natal telah menjadi dan akan menjadi tradisi hiruk pikuk – telah jauh dari maksa sejatinya.
Pesan Natal selalu tak lepas dari: “Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri” tetapi sekarang telah salah jalan…..
Natal adalah pengampunan dari Surga – Dia adalah kasih sayang yang tercurah dari Ibu dan Bapa yang menyangi anak-anakNya – seharusnya saya menangis haru atas kasih sayang itu – sebab siapakah aku sehingga merasa pantas mendapat kasihsayang ITU? Rupanya saya, anda, kita semuanya adalah Bola MataNya – yang perih bila tersentuh oleh debu sehingga harus dilindungiNya.
Para pemuka agama Kristen itu dan umat itu ikut-ikutan – berlomba-lomba menghimpun dana untuk membuat Natal menjadi pesta. Untuk apa? Agar gereja mereka heboh dan karena itu menurut mereka: Tuhan pasti senang. Untuk apa? Agar gereja lain memuji mereka: “O, betapa mereka sangat menghormati dan memuji Tuhan. Untuk apa? Agar semarak……”Tuhan suka yang semarak” kata kita. Untuk apa? ………
Natal adalah Cintakasih. Natal adalah sarana agar dapat merasakan kelaparan orang lain, agar dapat merasakan dinginnya orang yang tidak punya baju, agar dapat merasakan perihnya penyakit seseorang, agar dapat merasakan pedihnya orang miskin.
Bukankah Dia datang dengan kemiskinan? Bukankah Dia lahir di kandang binatang? Bukahkah para gembala upahan yang miskin itu mengerubungiNya? Ini contoh yang Dia tunjukkkan. Tetapi kita pura-pura dan pintar mencari alasan agar kita dapat berpesta – pesta yang menghimpun dana dari para simiskin – yang harus memberi karena malu kalau tidak memberi – “nggak enak sama …….kalau nggak ngasih”. Tahukah anda bahwa ini keterpaksaan?
Tahukah anda si Farisi yang mengolok si janda miskin yang hanya mampu memberi sepeser persembahan?
“Hahahaha, tertawaan yang kita natali ITU terbahakbahak ….melihat kemunafikan kita.
Kawan, Tuhan kita tidak sama. Tuhanku sangat sederhana bahkan Dia telah menunjukkan bahwa Dia miskin – Dia lahir di kandang binatang – Dialah Tuhanku. Tuhanku tidak suka yang hingar bingar tau’?
Membela nih yeeee….
TAPPANG: Peace, lae…
tobadreams
Desember 20th, 2007 pada 15:47
seperti apapun interpretasi natal buatmu, lae
tetap akan aku ucapkan : SELAMAT NATAL
sekalian salam kenal lae
Horas ma di hita sude halak batak
Raja Huta
http://tobadreams.wordpress.com/
TAPPANG: Terima kasih lae, Raja Huta… Salam kenal juga lae. Saya juga mengucapkan Selamat Merayakan Hari Natal 2007 & Tahun Baru 2008 untuk lae dan keluarga. Kebetulan saat ini saya lagi mudik ke Medan dan baru buka blog… GBU. Horas!
lala
November 23rd, 2009 pada 20:27
Aq ultah nya natal…
TAPPANG:
Berarti dirayakan sebagian besar umat manusia dong, ya… selamat deh… Moga selalu membawa kedamaian, seperti kandungan makna Natal. Gbu.