
Boleh dibilang, warisan tanah oppung ini masih “numpuk” karena belum pernah terbagi selama empat generasi. Sampai kelahiran ayah, naik tiga generasi ke atasnya, leluhur kami selalu punya anak lelaki satu.
DONGAN SABUTUHA, bagi orang Batak sama artinya dengan saudara satu marga. Si Jaultop Hutabarat dan Si Jaborngin Hutabarat, walau tidak bersaudara [family] kandung akan menyebut diri mereka Dongan Sabutuha, karena sama-sama ber-password “Hutabarat”. Jangankan satu marga, sesama orang Batak sendiri bila bertemu, entah di “hutan” manapun di dunia ini, dipastikan mudar na mangkuling [darahnya berbunyi – ungkapan simbolik menyatakan kekuatan kekerabatan bagi orang Batak]. Dan ini boleh dicatat sebagai kebanggaan orang Batak untuk saling bersinergi dalam menata kehidupan ini.
Kenapa dengan judul tulisanku Dongan Sabutuha?
Aku tidak ingin membahas masalah kekerabatan ini, karena aku sendiri masih lumayan tolol untuk mengimplementasikan diri sebagai orang Batak sejatinya sesuai adat-istiadat dan budayanya. Permasalahan yang muncul untuk bangga sebagai orang Batak, khususnya sesama Dongan Sabutuha, ketika tanah sejengkal bisa menjadi gara-gara untuk saling menindas. Betapa gak ironis gara-gara sejengkal tanah, yang tadinya Dongan Sabutuha, bisa jadi Alo Sabutuha [lawan semarga – berkonotasi bermusuhan/perang].
Aku lahir di Tarutung, dan sangat bangga dengan kota kelahiranku itu, walau besarnya jadi hidup di rantau. Aku tahu betul segala sudut-sudut kota yang dalam ungkapan puitisnya disebut Rura Silindung itu. Aku hafal betul bentuk rumah oppung di Sipolas, Parbaju Julu, Hutabarat. Aku juga tahu betul di mana-mana saja tanah basah dan tanah kering warisan oppung. Boleh dibilang, warisan tanah oppung ini masih “numpuk” karena belum pernah terbagi selama empat generasi. Sampai kelahiran ayah, naik tiga generasi ke atasnya, leluhur kami selalu punya anak lelaki satu.
Satu yang paling aku kagumi dari oppung Polin, orang tua ayah kami, ketelatenannya membuat tulisan-tulisan semacam buku harian. Kami cucunya pernah tertawa membacanya. Di “buku harian” oppung Polin itu dicatat bahwa ayah pernah dipukuli karena tidak mau sekolah. Ada lagi catatan yang menyatakan; oppung si Anu [tidak usah menyebut nama], ketangkap basah mencuri ikan mas oppung dari kolam. Pada lembar berikutnya, oppung mencatat bagaimana ia bersama salah seorang putrinya menanam pohon keras di Gonting-Gonting, tanah di gunung yang luasnya sekitar 4-5 Ha.
Wow! Oppung Polin the best deh! Buku harian “harta karun” yang ditinggalkan sungguh membuat kami kagum sekaligus bangga. Begitu telatennya oppung Polin dengan tanggal-tanggal tulisannya di buku harian itu. Satu spirit yang membuat kami cucunya berani bertarung ketika ada orang lain mengklaim tanah warisan oppung.
Seseorang, atau sekelompok orang yang pulang kampung dan menetap tentu banyak penyebab. Bisa jadi karena memilih hari tua [pensiun] ingin menghabiskan sisa hidup di tanah kelahiran. Ada juga karena ingin mengembangkan daerah dengan modal yang dibawanya dari rantau. Namun, ada juga yang karena “kalah”, tidak mampu bersaing di kota, alias tidak makan lagi…
Kelompok yang aku sebut terakhir ini menjadi bumerang bagi kami. Tiba-tiba saja mereka mengklaim tanah di Gonting-Gonting seluas kira-kira 2 Ha adalah warisan oppung mereka. Mereka ini hanya sebatas Dongan Sabutuha, tidak satu paradaton lagi. Dari silsilah Si Raja Nabarat, mereka ini masih tergolong adik kami, Parbaju. Setahu aku, Hutabarat digolongkan tiga besar; Sisonggulon, Hapoltahan, dan Pohan/Na Tumandi [maaf kalo rada salah] – Nah, keturunan Pohan/Na Tumandi ada 2; Partali dan Parbaju [masih ada sub-subnya ini]… Walaaah…, kok jadi matarombo pulak aku?!
Kelompok yang mengklaim tanah oppung Polin itu adalah dari golongan Partali, yang seturut sejarah yang dipaparkan orang mereka sendiri, adalah kelompok terakhir datang dari Pagarsinondi ke daerah Hutabarat sekarang. Karena seturut uraian si pemapar sejarah itu, keturunan marga Hutabarat pertama datang ke desa Hutabarat sekarang adalah kelompok Parbaju, Si Abangan. Jadi, sangat tidak dimungkinkan perbatasan daratan langsung berbatas kepada golongan “Si Pengklaim”. Masih lebih baik Parbaju berbatas kepada kelompok oppung *** [lupa namanya, tapi masih abang si pengklaim], ujar pemapar sejarah, ketika persoalan ini sampai ke hadapan Camat Tarutung sekitar 3-4 tahun yang lalu. Menurut pemapar sejarah, ketika Si Abangan Parbaju merantau ke Tarutung, ia juga membawa adiknya kelompok oppung ***. Tidak mengherankan bila sampai sekarang yang terlihat batas-batas daratan Parbaju lebih condong kepada kelompok oppung ***.
Kelompok Si Pengklaim tanah oppung Polin terlalu mengada-ada jadinya. Ketika pertemuan di kantor Camat Tarutung pun kala itu, dua kepala desa yang ikut, di hadapan wakil Camat, menyatakan; kalau di pengadilan kami yang pasti menang. Mereka tidak bisa menunjukkan bukti-bukti konkret kepemilikan/warisan oppung mereka, selain ninna tu ninna [kata-katanya, alias kabar angin]. Cuma bermodal provokator [seorang pegawai kantor bupati, yang tahu betul master planning pengembangan kota Tarutung], mereka memberanikan nyali mengklaim. Walaaah…!
Harus dilihat, hingga pertengahan tahun 90-an, boleh dibilang tak ada orang desa yang mau naik ke Gonting-Gonting karena dianggap tidak akan membawa hasil baik. Namun, ketika negeri ini dilanda demokrasi yang terkesan kebablasan, lantas dibangunlah perumahan Pemda yang langsung berbatas ke tanah warisan oppung Polin, ditambah adanya pengusaha sukses dari Jakarta membangun hotel bintang 3 [katanya], tidak jauh dari pertapakan tanah warisan, menggeliatlah manusia-manusia tak tahu diri itu terprovokasi. Ironisnya, mereka meng-anggar-anggar-kan [jagoannya], family mereka seorang Kolonel TNI yang sudah pensiun. Jangankan yang pensiun, yang belom pensiun pun kalau demi kebenaran dan keadilan, dikira takut apa? Emangnya, jabatan TNI & Polisi mau dipergunakan untuk urusan premanisme, apa? Malu dong anggar-anggar jabatan/pangkat, sudah pensiun lagi! Ingat dong kode etik jabatan! Gaji yang diberikan untuk makan keluargamu adalah dari rakyat! – Kalo memang merasa pemilik, buatlah gugatan ke pengadilan berdasarkan bukti-bukti. Bukan cuma ninna tu ninna [kata-katanya].
Kebodohan yang pernah mereka deklarasikan; “Kalau punya tanah/sawah di jurang, otomatis tanahnya sampai ke atasnya,” ujar mereka kala pertemuan di kantor Camat. Alamaakk…! Yang bodok kalilah Dongan Sabutuhaku ini, pikirku saat itu. Urusan jurang dan bukan jurang, tanah gak ada putus-putusnya. Kenapa gak mengklaim aja seluruh pulau Sumatera tanah warisan oppung kalian? Kan gak ada putusnya itu kalau dilihat dari sawahmu yang di jurang itu!
Malu aku sama Dongan Sabutuha itu! Serius! Sungguh malu aku jadi Mardongan Sabutuha dengan mereka. Selama ini kami keturunan oppung Polin tidak pernah mengaku-ngaku tanah yang bukan diwariskan kepada kami. Memang dapat dimaklumi, kebanyakan tanah di desa-desa manapun seluruh negeri ini masih jarang yang belum bersertifikat. Jadi, hal ini sangat mungkin dimanfaatkan orang-orang serakah, yang kebanyakan mereka muncul dari siboto surat [intelek, pegawai negeri, atau pengusaha]. Mereka masih beranggapan bahwa rakyat negeri ini masih bodoh. Kasihan banget, ya, orang-orang seperti mereka ini, bangga melihat bangsa sendiri masih bodoh.
Oh, Dongan Sabutuha! Sampai ke tingkat tinggi Pengadilan apapun di negeri ini, kami tidak akan surut selangkah. Miris aja aku melihat watak kotor kalian, kok sesama Dongan Sabutuha bukannya diajak membangun huta, malah mau menciptakan “perang”. Malulah sebagai orang Batak yang dikenal seluruh bangsa di dunia ini, suku yang kental dengan kekerabatan dalam ikatan Dalihan Na Tolu. Sekiranya tidak ada tona [pesan] dengan bukti-bukti, yang bukan saja surat, tapi mayoritas penduduk desa mengamini tanah Gonting-Gonting itu milik oppung Polin, kami keturunannya tidak akan pernah mengklaimnya. Di rantau kami tidak kurang makan, pren! Sadarlah para provokator di desa, jangan sampai turun murka Tuhan kepada keluargamu! Hidup di dunia hanya sementara. Kekayaan tidak terbawa mati. Tapi, laku dan perbuatanmu di dunia akan dihitung sebagai hukuman laknat bagimu nanti!
Kekuatan provokasi harus diakui, dan sangat berbahaya. Di antara Si Pengklaim terdapat pula Dongan Sabutuha, yang masih satu paradaton. Dalam punguan [kumpulan] adat masih satu klan, hingga punguan di tanah rantau. Namun, dasar “anak ini” tidak pernah makan sekolah, ikut-ikutan pula memihak Si Pengklaim, ngaku-ngaku bahwa tanah dia berbatas ke Si Pengklaim. Tanah yang mana? Sedang kami sudah dapat pengakuan dari empat orang pemilik tanah batasan yang menyatakan bahwa oppung Polin-lah batas mereka. Itu dituangkan dalam surat pengakuan batas di atas meterai. Aneh bin ajaib kan yang Mardongan Sabutuha itu? Kenapalah, hanya karena tanah yang tak seberapa, cuma dilandasi keserakahan, Pardongan Sabutuhaon tercabik-cabik?? Plis-lah, dongan [kawan]ku sesama suku Batak, kita lebih bijak dalam menghadapi era globalisasi ini. Lebih merapatkan persatuan, membangun bersama huta [kampung] kita itu. Botima! ***












5 comments
Comments feed for this article
5 Februari 2008 pada 10:14
Mula Harahap
Kau punya blog. Aku punya blog. Tembus juga kita yang merantau itu, ya? Ha-ha-ha-ha.
TAPPANG: Hahahaha… Hanya itu lae yang bisa kita lakukan di zaman cyber ini… Gak takut tulisannya ditolak editor… Hehehe… Sabas do na mangaranto on ate lae [mantap kali yang merantau ini] hehehehe… Horas ma laeku…!
5 Februari 2008 pada 11:45
Farida Simanjuntak
Horas Tulang
Wah, kayaknya aku ketinggalan “trend” ompung Polin tentang diarynya. Atau mungkin ini buku yang bentuknya panjang pernah aku lihat sekilas beberapa tahun lalu (sudah sangaaaaat lama).
Tapi aku jadi penasaran pengen baca juga pasti lucu-lucu isinya, hehehe.
Tanah ompung yang diklaim sama orang-orang yang haus harta itu, biar aja dia bersibuk ria teriak sana sini untuk klaim tanah itu. Mungkin dia bisa kenyang makan itu tanah…
Buat apa kita susah hati yang pasti sudah ada kejelasan tentang batas tanah kita…
Salam rindu buat semua keluarga kita… Tunggu bulan 10, aku pasti pulang……
TAPPANG: Betul bere… Ada yang agak panjang bukunya, ada juga di buku tipis 12 halaman [model najolo] – Cepatlah kau pulang… Udah rindu kali katanya si Asido…
16 Juni 2008 pada 15:10
iqbal hasibuan
horas sude hita halak batak.Biado kabarna sude hita dongan mungkin sehat do.dalm kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita tidak tahu bagaimana bersosialisasi dengan orang lain,nah sekarang kita tingatkanlah kesadaran yang tinggi dan kita bisa membantu sesama manusia yang sangat membutuhkan batuan kita,memang orang batak itu keras namun tidak seperti yang kita bayangkan yang kita lihat dilapangan,suara keras bukan berarti hatinya keras.
TAPPANG:
Horas appara… Betullah seperti yang appara bilang itu… Suara keras bukan berarti hati keras… Salam kenal.
28 Mei 2009 pada 11:12
dewi shintyasha hutabarat
horas dan salam sejahtera untuk kita semua.
Au dewi shintyasha hutabarat parbaju no.17.sonari tinggal di manado dohot suami.aku bingung soal silsilah marga kami ini.siapa oppung pertama.au no 17 kata bapa,tapi gk diterangkan siapa” saja diatas kami.oppung amang sudah meninggal,dulu dia yg sering bercerita tentang marga kami( sewaktu kecil ) sering jg ak cari informasi di internet tp gk dapat.aku jg belum pernah ke tarutung apalagi ke hutabarat.mama sama bapa tinggal di jakarta dari sejak lahir.tolong bantuannya.mauliate balga,GBU
TAPPANG
Horas ito… Saya juga parbaju no.17… Waduh, gimana mau menerangkan, ya, ito… Karena Hutabarat Parbaju itu sendiri masih ada cabang-cabangnya… ada yang disebut Parbaju Bosi, Raja Sule, dsb… Jadi, kita harus tahu dulu Hutabarat Parbaju kita itu bercabang dari mana? Saya kurang jelas, Parbaju-nya ito ini dari Parbaju mana. Jadi sulit untuk menarik garis silsilahnya.
*** Tu sude dongan sabutuhaku, terutama Hutabarat Parbaju, molo adong na boi membantu ito Dewi on, lehon hamu majo tingki muna berkomunikasi tu borunta on. Ito Dewi boi dihubungi melalui email: wieche@yahoo.com
GBU too, ito Dewi dan keluarga
30 Mei 2009 pada 16:35
agust hutabarat
Maaf Bapak Tua,,,
yang saya tau dan diajarkan bapak…
Hutabarat parbaju itu paling atas itu ada 3..
yaitu Parbaju Raja Na Gok, parbaju Donda Raja dohot Parbaju Raja Na Godang.
Kalau di tarutung sandiri, keturunan Raja Na Gok itu tinggalnya di desa Parbaju julu, Parbaju Donda Raja tinggalnya di desa Parbaju Tonga, dan Parbaju Raja Na Godang tinggalnya di desa Parbaju Toruan.
Molo ahu sandiri sian Parbaju Raja Na Godang ma bapak tua, oppung nami di ginjang Margoar Datu Soaloon sian Parbaju julu, tubu ni boru Panjaitan nasian Sipahutar.
Kalau yang Parbaju bosi itu yang aku tau Bapak tua, itu parbaju Raja Na Godang, cerita nya dahulu ada seorang pemuda misterius yang bertamu ke rumah Datu Soaloon. Waktu itu karena Datu Soaloon menjamu tamunya dengan baik, maka pemuda misterius itu memberikan beberapa harta pusaka, diantaranya Baju Bosi (cikal bakal parbaju bosi), Raut (pisau yang kelak digunakan untuk memotong ari-ari bayi yang baru dilahirkan) dan harta emas lainnya.
Sementara baju Bosi itu sendiri hilang ketika infasi pasukan Bonjol datang ke Tanah Batak. Masa itu dikenal dengan “Haroro ni halak Monjo”, terjadi pembunuhan massal dan penjarahan di tanah batak. Banyak pusaka yang hilang termasuk baju bosi tadi.
Sattabi Amang Tua,,,
dang na manggurui,, na tarsingot do tu sude angka hata ni Bapa…
Angka on do na dipodahon ni Bapa tu ahu di ha metmet on hu..
jala holan tu ahu do di podahon Bapa on sian sude anak hon na….
HORAS BAPAK TUA…
TAPPANG:
Horas amang… denggan do hita masi pasingotan… Ahu pe memang hurang mangantusi hian do silsila on. Alai, hea do hubenge barita na, parbaju bosi i ima memang parsadaan di naginoaranmu i, ima pinompar ni Baginda (ndang Datu – molo i do maksudmu) – ima Baginda Soaloon. Jala, na hea hubege, boru Panjaitan i sian si Torang, arah Parsoburan do. Jala baju bosi-bosi i sian ido didapot… Rap masipatorangan hita amang, alana hita pe barita sian barita na ma hita bege. Nang pe songon i, boi do hita susuri sian halak na lebih tangkas mamboto ate. Molo antar diboto amang do taringot tu hita Parbaju on, boi ma antong kontak dohot namborumu na di Manado i. Lehon hatorangan saotik, ate… Gbu.