
secara tehnis film begitu ngawur, apalagi ceritanya yang gak penting-penting amat!
diaryblogdotcom [24 Maret 2008]. – TADINYA, saya pengin menutup nalar dulu soal sinetron tayangan televisi negeri ini yang kian memuakkan. Saya pikir, terlalu capeklah ngomongin itu mulu, tapi para petinggi dan pemerhati tayangan televisi cuma sebatas wacana doang. Mereka sepertinya cuma pengin numpang tenar saja dengan mengangkat tema; Sinetron Negeri ini Sangat Tidak Mendidik. Jadi, kalau pun hanya sebatas wacana, yang penting udah ngomong ke media untuk dipublis sebagai argumennya. Soal tindakan konkretnya, bukan urusan ane. Kayaknya, kira-kira seperti itu sih pikiran mereka.
Ketika iseng berselancar ke web Kompas, saya tergelitik mengklik rubrik ‘entertainment’. Langsung terpampang wajah aktor/sutradara senior Slamet Raharjo. Beritanya singkat saja. Tentang kegiatan di Kampus Universitas Paramadina yang mengadakan seminar soal ‘potret sinetron remaja di Indonesia saat ini’ – dengan mengusung tema; Wajah Buram Sinetron Remaja Indonesia.
Saya pikir, tema-tema seperti itu mah sudah luber dibicarakan. Paling juga tetap sebatas wacana. Mungkin juga karena aku sudah mengawang dibatas pesimisme. Tapi, lupakan! Saya tergelitik karena ungkapan Slamet Raharjo dan sekitar 24 komentar masuk tentang berita itu.
“Hanya Yogya yang punya gudeg dan Padang dengan rendangnya. Dan hanya masyarakat bodoh yang menonton sinetron remaja yang seperti itu,” Ungkap Slamet Raharjo, ketika dimintai tanggapannya dalam seminar itu.
Sebagai aktor/sutradara senior yang kwalitasnya memang teruji, dan sudah warawiri pengalaman dari masa jaya hingga era terpuruknya film negeri ini, wajar saja Slamet bicara agak keras. Saya coba merasakan kegeraman mas Slamet melihat makin rusaknya logika sinetron negeri, memang terasa menyakitkan. Bagaimana secara tehnis film begitu ngawur, apalagi ceritanya yang gak penting-penting amat!
Nalarku memang lagi gak mood diajak membahas soal sinetron. Saya hanya sedikit ingin mengapresiasi kegeraman mas Slamet Raharjo dan beberapa komentar terhadap tulisan di web Kompas itu, seperti di bawah ini:
agus @ Kamis, 21 Februari 2008 | 19:13 WIB
aku heran dengan sutradara pembuat sinetron Indonesia, katanya belajar dari luar negeri. pas udah balik ke Indonesia, kenapa pembuatan sinteron tidak berkualitas. lebih baik kalian sebagai sutradara pembuat sinetron, ambillah gambar-gambar nyata kehidupan rakyat yang menderita. mungkin itu yang bisa membuat film sinetron Indonesia kita lebih berkualitas. [CP Copy Paste, Red]
[Note: mungkin bukan sepenuhnya itu salah si sutradara. Mereka cuma sebagai “tukang” dari blue print (skenario) yang sepenuhnya diintervensi produser. Itupun seturut pinta dan minta dari para programing televisi yang mayoritas bukan dari orang-orang yang ngerti soal film – kebanyakannya, sok tahu aja!]
pit @ Kamis, 21 Februari 2008 | 20:40 WIB
kok cuma Beliau yang unjuk suara ya?apa aku yang kurang gaul?..tapi memang bisa dikatakan musuh dalam selimut..mereka bisa bilang untuk mengangkat industri persinetronan, tapi… niat aslinya terbalik.. kehancuran bangsa yang menjadi target utama.. [CP – Red]
[Note: Yang mengkritisi soal ini bukan cuma beliau, tapi udah sampai muntah pun. Tetap aja gak ada tindakan konkret dari petinggi negeri yang berkompeten soal itu. Entahlah ada apa dibalik itu. Atau, mungkin juga mereka suka rakyat ini tetap bisa dibodohi?!]
bowie @ Kamis, 21 Februari 2008 | 08:18 WIB
ya inilah fenomena yang terjadi dalam dunia hiburan kita. Ini akibat ulah Raam Punjabi dkk….budaya permisif sudah tak asing lagi. Semua dikorbankan demi materialisme,kapitalisme. Produk akhir dari semuanya itu adalah masyarakat hedonis,egois, individualis, dan tidak peduli dengan orang lain. [CP – Red]
[Note: Inilah egoisme pemilik uang. Mereka tidak peduli suatu bangsa mau jadi apa. Yang penting pundi-pundi mereka makin tebal dan bisa sogok-sogokan. Mungkin mereka berpikir, bisa dipakai ‘kali kekayaannya itu ketika dia sudah meninggal.]
Gde @ Kamis, 21 Februari 2008 | 16:12 WIB
Saya muak dengan sinetron, tidak mendidik dan sangat berbahaya untuk perkembangan anak-anak yang baru tumbuh menginjak remaja. semestinya badan penyiaran dan para anggota Dewan yang tidak saya hormati segera bertindak selagi belum terlambat. [CP – Red]
[Note: Membaca komentar ini, saya masem-masem karena berharap badan penyiaran dan anggota dewan (dewan mana nih?) untuk bertindak. Sudah capeklah ngomongin ini, namun mereka tetap memandang sebelah mata. Hanya doa yang keraslah mungkin yang bisa kita perbuat agar Tuhan sendiri yang turun tangan... – Eh, Tuhan masih mau gak sih dengarin doa kita yang suka ngomongin orang lain ini?]
pingky @ Kamis, 21 Februari 2008 | 16:53 WIB
setuju, 3 sinetron yg dpt saya sampaikan adalah film azizah,.begitu mudahnya perusahaan milik sendiri dikuasai org lain? dan rafli tak bisa di tolongin sedang tempat persembunyiaannya udah ketahuan..benar2 tak masuk nalar..film kasih,sebegitu mudahnya mendepak dan menguasai perusahaan kelnya sedang kakak dan ibu kandung sendiri tak berdaya..film cinta bunga, sinetron ini terlalu dipanjang2in jadi tak bermutu..lama2 membosankan. tolong di improve sinetron jangan asal tayang. [CP – Red]
[Note: Semasih rating menjadi “dewa” sebagai perujuk yang hanya dikelola satu lembaga saja, tentu saja rating yang diperoleh tidak bisa maksimal seturut wilayah audience televisi. Jadi, gak perlu heran kalau cerita sinetron dipanjang-panjangi. Semasih hasil rating menungjukkan share tinggi, cerita gak logika pun akan dikarang-karang.]
Saya gak tahu lagi mau bilang apa. Mungkin ungkapan mas Slamet Raharjo dan komentar yang masuk ke berita itu sudah lebih mewakili suara rakyat pintar. Aslinya silahkan baca di sini ***
Tulisan terkait:












11 comments
Comments feed for this article
Nove03beWed, 26 Mar 2008 22:13:41 +0000 1, 2007 pada 12:41 pm03
Panda
ah, kayaknya aku harus belajar nulis skenario nih bang. Siapa tahu bisa melahirkan sinetron atau film berkualitas. bukan tak mungkin kan? serius nih bang. bantulah dulu aku..
TAPPANG:
Betul itu. Di mana ada kemauan di situ ada jalan [kata orang sih]. Wah, sangat ditunggu tuh karya-karya skenariomu. Sayang, lae jauh sih di Siantar… hehehehe…
Nove03beThu, 27 Mar 2008 07:22:21 +0000 1, 2007 pada 12:41 am03
Farida Simanjuntak
Horas, tulang………..
Emang benar, sinetron sudah makin memuakkan dan memberi pengaruh yang tidak baik. Korbannya anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan asal saja mengikuti apa yang dia lihat dan dengar selama menonton sinetron. Contohnya Asido. Setiap dia kasar atau buat hal yang sangat mencengangkan untuk anak seumurannya, maka dia akan jawab “Adek lihat di sinetron macam itu kok…”
So, siapa lagi mau disalahkan. Memang betul, di sini peran orang dewasa dalam membimbing anak-anak dalam memilih tontonan di TV.
Please lah… Sinetron dibuat berbobot sedikit dan mendidik….
GBUs
TAPPANG:
Cepek untuk bere. Kalo masih seperti itu keadaannya, peran orangtua memang sangat penting sekali untuk menyaring tontonan yang layak bagi anak-anaknya. GBU too…
Nove03beThu, 27 Mar 2008 11:17:54 +0000 1, 2007 pada 12:41 am03
Toga
aku kira malah pembuat sinetron itu orang2 cerdas, dan jeli melihat pasar. jadi, mereka menyuguhkan tayangan yang sakit kepada masyarakat yang sakit.
*ini komen saking muaknya, lae*
TAPPANG:
Wakakakakkk… ngertilah aku kemuakan lae itu… Lebih memualkan ketimbang mabuk tuak, ya, lae. Kalo dulu zaman jayanya TVRI ada gambar yang rada blur, atau rusak, pasti ditulis “kesalahan bukan pada televisi anda…” Hehehe… bukan mau bela diri nih. Pembuatnya gak 100% bisa disalahkan lae. Mereka hanya butuh agar asap dapur tetap ngebul… Secara aku, lae, para produser dan programing televisi sekarang inilah yang kurang mau mencerdaskan bangsanya. Alasan mereka; ini industri… ke hepeng-hepeng itu juga larinya, lae. Kalau kita sih, mau banget bikin yang lebih cerdas… Antar songon i do da na huantusi laeku…
Nove03beFri, 28 Mar 2008 09:27:02 +0000 1, 2007 pada 12:41 am03
Hanna
aku setuju banget dengan pernyataan Agus pada tanggal 21 Maret 2008.
sinetron kita terlalu membuai penonton. endingnya bisa ketebak, pasti bahagia. si miskin yang beruntung bertemu dengan si kaya lantas pacaran dan menikah. hehe. dalam kehidupan nyata tidak hanya sebagian kecil orang yang bisa seberuntung itu. belum lagi dandanannya. seorang artis berperan sebagai petani, wajahnya kok dirias cantik. tidak mirip petani yang sesungguhnya. tidak tampak kepolosan seorang gadis desa yang tidak berdandan. ya, semoga ada angin segarrr untuk dunia perfilman kita, Bang. berjuanglah untuk itu, Bang. aku yakin Abang pasti bisa.
TAPPANG:
Doakan aja, ya, Hana…
Sinetron kita kan bukan karakter… tapi jual tampang. Jadi gak usah heran kalo tokoh yang baru bangun tidur kelihatan kayak mau ke pesta pernikahan… Peace!
Nove03beFri, 28 Mar 2008 12:30:55 +0000 1, 2007 pada 12:41 pm03
partalitoruan
Belakangan lagi tren sinteron amnesia, anaknya tertukar, kelicikan, ibu tiri, penyiksaan, mimpi yang terlalu tinggi (yang terkesan tidak mungkin) yang membuat orang jadi pemalas, sibuk bermimpi, ibu-ibu jadi mencontoh “ibu-ibu aneh di TV” akibatnya anak-anak juga ikut-ikutan (gimana ngga,ibunya sudah seperti itu), akhirnya tak jelas deh. Dan sepertinya dunia perfilman sudah mulai diracuni. Terbukti film sebagus Perempuan Punya Cerita, The Photograph penontonnya sangat sedikit dibanding dengan film-film yang membawa hantu-hantu blau ke kancah layar lebar. Aneh!
Saya jadi bingung, ini semua tujuannya apa yah?
TAPPANG:
Yang pasti boru, tujuannya; mempertebal kekayaan para pemilik modal. Yah, imbasnya; pembodohan masyarakatlah! Makanya senior perfilman negeri ini, Slamet Raharjo, ngomong; orang yang menonton sinetron adalah orang bodoh. Boruku kan udah pintar, makanya gak mau nonton. Baguslah itu! Hantu-hantu dibawa ke layar lebar? Yah, karena di dunia dedemit gak ada bioskop tuh! Hehehehe…
Nove03beMon, 31 Mar 2008 10:59:49 +0000 1, 2007 pada 12:41 am03
partalitoruan
Horas Bapa,
sebetulnya sempat juga aku tonton Sinetron-sinetron yang memuakkan itu, makanya aku tau trend sinteron yang sedang terjadi, karena kebanyakan orang justru taunya komentar aja taunya tanpa tau isinya. Setelah aku lihat dan aku tau, barulah aku muak. Bukannya aku tak tau banyak pembuat film bagus yang bisa membuat pencerahan di negeri ini, bukannya tidak banyak fikiran, ide dan tangan-tangan jagoan untuk mewujudkan film yang bisa turut mencerdaskan bangsa. Tapi orang-orang dengan pemikiran ini, untuk dikalahkan dan disingkirkan di negeri ini.Karena dianggap memperlambat perputaran modal para kapitalis-kapitalis itu.
TAPPANG:
Itulah dilematisnya dunia yang makin tua ini, boru. Duit sudah dipetuan-agung untuk menghalalkan segala sektor demi mencapai impian Paman Gober…
Nove04beWed, 16 Apr 2008 08:50:27 +0000 1, 2007 pada 12:41 am04
tobadreams
Sinetron kita… STUPID.
TAPPANG:
Hahahaha… Gimana kabar, lae? Maju terus tobadreamer!
Nove05beFri, 09 May 2008 13:08:17 +0000 1, 2007 pada 12:41 pm05
Stella Rajagukguk
Mamaku penonton setia sinetron. Tapi dia sama sekali bukan orang bodoh. Malah saya berani bilang dia jauh, jauh lebih pintar dan berbakat dari saya. Bakat logika saya justru turun dari beliau.
Tapi kenapa beliau yang begitu cemerlang masih saja menonton sinetron ke sinetron?
KARENA.
Tidak punya pekerjaan di luar rumah (ibu rumah tangga full time), dan di rumah tidak ada hiburan lain.
My mother is a perfect representative of our Indonesian people. Kebanyakan orang yang menonton sinetron JUSTRU BUKAN ORANG BODOH (karena pada dasarnya manusia indonesia secara fisik atau kapasitas otak bukan orang bodoh), tapi orang yang memang tidak punya pilihan lagi.
Jadi sebenarnya pemerintah ini ya, kalau mau bangsa ini jadi bangsa yang cerdas, sederhana banget caranya. Mulai suntikkan tayangan2 yang lebih bermutu. Karena satu2nya cara yang paling praktis saat ini yang bisa dilakukan pemerintah untuk meraih masyarakat HANYA MELALUI TELEVISI. Televisi bisa menjangkau semua usia, semua golongan ekonomi, semua gender, semua tempat di Indo.
Gak usah lah dulu pikir macam2 oh pemerintahku sayang, memblok porno2an dari Internet atau Youtube atau Multiply, dengan harapan memperbaiki moral masyarakat. Emang pengguna internet di negeri ini mencapai angka berapa persen sih?
Mulailah dulu merencanakan strategi, siaran tv apa yang paling tepat untuk disuguhkan kepada masyarakat Indonesia yang punya terlalu banyak waktu untuk nonton tv ini? Please take a look at your children and grandkids, akan jadi apa kami penerus kalian ini jika kalian tidak SEGERA menghentikan pembodohan2 massal?
God, I’m tired of preaching. Hehe… Maap yah kalo rada2 gapen…
TAPPANG:
Benar sekali pendapatmu itu. Memang tidak ada lagi pilihan tontonan di negeri Simsalabim ini karena semua televisi sangat streotype. Tidak inovatif. Tahunya hanya meniru keberhasilan tayangan yang dibuat televisi kompetitornya. Salam untuk mama Stella…
Nove05beSat, 17 May 2008 20:01:00 +0000 1, 2007 pada 12:41 pm05
danalingga
Waduh, saya nonton sinetron cuma mau lihat yang bening bening itu bang. Kalo ceritanya saya nggak tahu.
TAPPANG:
Kai brita na, sli? Manjuah-juah…
Hahahaha… Pastinya. Kau kan belum menikah, sli…
Nove05beThu, 22 May 2008 18:04:36 +0000 1, 2007 pada 12:41 pm05
Chassy S'tak
Salam kenal..
Ada yg lebih konyol, cerita sinetron ceritanya kerajaan zaman dulu tp dilatar belakangnya ada Menara telepon selular, kayaknya lebih jago opera sitilhang dulu..ya khan lae..mauliate
TAPPANG:
Salam kenal juga lae. Iya iyalah, lae. Lebih enak nonton opera Sitilhang, atau Serindo daripada sinetron sekarang. Aku dulu paling suka nonton opera. Sayang, gak ada lagi sekarang… Kok hilang, ya?
Nove07beMon, 07 Jul 2008 16:57:47 +0000 1, 2007 pada 12:41 pm07
glorialimbong
Ugh.. Pemain2 sinetron dan ceritanya yang sudah ketebak itu emang bener2 bikin sakit kepala.. Kadang nonton sinetron kalo udah gak ada piihan lagi.
Tapi sekarang aku mending baca buku ketimbang nonton sineron yang tak seberapa itu.
TAPPANG:
Yap. Tulang setuju itu. Buku lebih memberi kita ilmu. Moga aja sinetron2 kita ada perubahan dengan genjarnya terlihat sekarang ini KPI meneliti kelayakan tayangan televisi.