
Aku sangat kecewa dengan tingkat keselamatan pekerja di negeri ini. Ini sudah yang puluhan kali terjadi.
diaryblogdotcom [28 Agustus 2008]. BILA sedang dikejar deadline, aku selalu fokus total, gak ingin diganggu suara sekecil apapun. Suasana itulah yang sedang aku nikmati, karena hari ini setelah makan siang, aku sudah harus mengirim skenario episode 14 untuk tayangan striping salah satu stasion televisi swasta.
Sigit, rekan kerjaku yang meja kerjanya persis berdampingan dengan meja kerjaku terlihat anteng baca-baca berita dari internet. Memang, kalo kerjaan di kantor lagi sepi, tim kreatif memang lebih santai.
Agar tidak terganggu suara berisik, aku sering pakai earphone dan mendengar lagu-lagu lawas dari band angkatan 60-70an. Bila sambil dengarin lagu-lagu lama ini, rasanya inspirasiku sangat terangsang. Bergelora seperti lagi berhadapan dengan seorang bidadari cantik dari khayangan.
Sedang asyik ngerjain deadline sambil dengar lagu Wind Of Changes dari Scorpion, tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat keras, sampai bisa mengalahkan suara Scorpion di earphoneku. Saking kagetnya, aku melihat Sigit sampai terloncat sambil berseru: “Suara apaan tuh…?!!”
Karena tidak terlalu keras suara geedeebuuummm itu di telingaku, aku hanya berujar enteng, paling juga truk pecah ban di jalan tol. Memang, kami sudah sering mendengar ban truk pecah, karena kompleks televisi swasta paling tua itu langsung berhadapan dengan jalan tol ke Merak.
Aku masih terus mengerjakan deadline ketika sosok Sigit kulihat melesat meninggalkan ruangan. Aku pikir, paling juga dia iseng cari tahu aja ke lobby. Tapi, gak berapa lama, Sigit muncul lagi dan mengguncang-guncang tubuhku agar earphone yang kupakai dilepas dulu.
“Apaan sih?!” sentakku kurang suka karena merasa diganggu.
“Itu lihat, bang…!” ujar Sigit dengan ekspresi kengerian, sambil menunjuk ke luar jendela belakang meja kerja kami. Aku cepat menoleh. Kulihat rekan-rekan yang lain sudah pada bergerombol di balik pagar memandang ke arah tower antena, yang kokoh berdirinya persis di sebelah gedung kantor kami.
“Apa yang terjadi, Git?” sergahku, jadi penasaran juga.
“Itu bang… pekerja tower jatuh. Lima orang tewas karena sling gondola mereka putus.”
Haah…??!! – Seruku tak percaya, dan langsung melesat ke luar ruangan. Kulihat Sigit mengikuti dari belakang.
Dari pagar gedung kantor, aku langsung melihat ke arah tower. Rupanya aku sudah lumayan terlambat merespons sehingga yang kulihat cuma gondola yang sudah ditutupi terpal plastik berwarna biru. Jantungku berdegup. Bingung dan gak percaya dengan kejadian itu. Hatiku sedih. Sebentar lagi bulan suci Ramadhan. Pasti para korban pekerja tukang las tower itu sudah membayangkan yang indah-indah nantinya berkumpul bersama istri dan anak dalam merayakan Idul Fitri. Aku tidak sempat memikirkan penyebab kecelakaan, karena yang terbersit di otakku hanya keluarga yang ditinggal para korban. Tentu saja, mungkin anak-anak mereka masih kecil, mengharapkan sang ayah mudik Lebaran untuk membeli baju dan sepatu baru. Mereka akan penuh sukacita berkumpul merayakan Lebaran. Ahk, tragis sekali kejadian itu. Hingga malamnya, aku kepikiran terus sama keluarga korban. Sedih sekali rasanya…
Aku sangat kecewa dengan tingkat keselamatan pekerja di negeri ini. Ini sudah yang puluhan kali terjadi. Dalam tahun ini saja menurut detikcom, kejadian putusnya sling gondola dan memakan korban jiwa, sedikitnya sudah 4 kali terjadi dengan 9 nyawa melayang dan 2 luka parah. Bah?! Cemmana ini masih bisa terjadi?
Kemarahan hatiku bertanya; “Tidakkah anak bangsa negeri ini mau belajar dari kejadian-kejadian yang lalu? Kenapa yang selalu korban para pekerja kasar? Kenapa tidak pernah memikirkan safety? – Apakah para kontraktor itu terlalu pelit membeli tambang untuk safety para pekerja? Seandainya pekerjaan itu berisiko tinggi, seperti untuk para pekerja di gedung/tower pencakar langit, kenapa tidak meniru cara para pendaki gunung dalam memperhitungkan keselamatan? Kenapa pulak sling yang sudah kadaluarsa masih dipakai? Atau, kenapa tidak memaksimalkan perhitungan kekuatan sling untuk beban yang harus ditahannya? Dan, kenapa pula pemerintah tidak menghukum maksimal para kontraktor yang membandel, yang suka anggap remeh keselamatan para pekerja?
Kejadian-kejadian di negeri sering kita temui sangat tidak masuk akal. Masih ingat kan tabrakan kereta api komersil dengan kereta api pengangkut batu bara yang baru terjadi di Lampung? Bisa-bisanya pulak kedua kereta api itu masuk dalam satu sepur, seperti sengaja mau diadu kambing? Bah?! Bah?! Bah?! Prihatin kali aku memikirin semua ini. Pusing, kesal, marah, dan muak aku selalu mendengar berita tragis yang berulang-ulang dengan kejadian yang sama.
Aku hanya bisa mengelus dada, berdoa, dan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya bagi keluarga korban yang ditinggalkan.
Turut Berdukacita; Semoga arwah para korban diterima di sisi-Nya.











3 comments
Comments feed for this article
30 Agustus 2008 pada 16:36
Farida Simanjuntak
Horas tulang…
Memang menyedihkan nasib para buruh/ pekerja kasar. Sering tidak dianggap. Padahal dengan merekalah seharusnya kita lebih menaruh perhatian dan menghargai karena tanpa mereka tidak akan ada gedung/bangunan yang luar biasa. Ibaratnya, para arsitek hanya menggambar tapi yang menjadikan bangunan itu berdiri adalah para pekerja yang bergelar kuli bangunan. Tapi siapalah mereka itu bagi orang berduit ?
Tak pernah dianggap. Mengharapkan pemerintah ? Maaf aja deh, yang punya modal lebih penting. Rasa prihatin dan “sedikit” peduli bagi nasib mereka ini hanya pada saat kecelakaan kerja/kemalangan terjadi. Sekedar menunjukkan betapa pemerintah dan kontraktor masih memikirkan pekerjanya. Itupun masih diusahakan mencari kesalahan korban. Bukankah orang kaya susah untuk dipersalahkan ???
Ibaratnya, bangunan yang diharapkan jauh lebih berharga dari pada nyawa para pekerja. Sudah pekerjaannya berat, mempertaruhkan nyawa, siap disalahkan kalau ada kesilapan, kena panas dan hujan, gaji pun ga seberapa tambah lagi mendengar makian boss/kontraktor. Lengkap sudah penderitaan mereka. Tapi semua ga berarti saat mereka mengingat istri dan anak atau orang tua yang menanti sedikit jerih payah mereka. Saat mereka meninggal karena kecelakaan kerja, sebentar saja gaungnya kedengaran, setelah itu mereka hanyalah sepenggal cerita.
Turut berduka cita, semoga arwah mereka diterima di sisi Tuhan YME dan keluarga diberi ketabahan.
TAPPANG:
Horas bere, bentar lagi mau pulang,ya…
Yah, hal-hal seperti itulah yang masih harus dibenahi manusia negeri Simsalabim ini. Tidak lagi menjadi manusia kemaruk yang kurang peduli dengan para kuli/pekerja kasar. Janganlah selalu menganggap rendah orang bawahan, karena tanpa mereka, segala sesuatu tidak mungkin berwujud. Semoga tidak terulang lagi di masa depan.
1 Oktober 2008 pada 15:35
binchoutan
ngomong2 soal gondola.. kemarin sewaktu saya magang di salah satu gedung di Gatot Subroto.. kebetulan saya dapat meja yang menghadap ke Wisma Mulia.. saat sedang mengerjakan pekerjaan, saya sempat tertegun melihat dua orang pekerja diatas gondola sedang terombang-ambing karena angin, wisma mulia itu sangat tinggi sekali!… apalagi saat itu sering banyak berita tentang kecelakaan pekerja karena tali gondola putus.
itulah susahnya mencari uang
TAPPANG:
]
Benar kawan. Nyari duit itu susah-susah gampang. Susah bagi pekerja kelas bawah yang safety nya gak pernah dipikirin, tapi sangat gampang bagi muncung-muncung para koruptor untuk menilep duit negara. Mereka ini boleh dipastikan tidak punya keprihatinan sama pekerja “penyabung” nyawa itu. Kita berharap aja, kejadian-kejadian pekerja gondola tidak terulang lagi. Peace…! [Sorry neh... lama baru update; ke-enakan libur Idul Fitri...
4 November 2008 pada 13:16
togi sianipar
hmmm..sadis kali ceritanya tulang.
kadang kala buruh kasar ini juga gak berfikir panjang untuk ambil suatu tawaran kerja. tapi semuanya itu karna tuntutan kebutuhan yang sangat mendesak, jadi sulit juga untuk disalahkan.
benar yang kata tulang itu, mungkin karna mendekati idul fitrilah makanya mereka berjuang dengan tawaran kerja yg beresiko tinggi itu. dengan harapan bisa memberikan kebahagian di hari kemenagan, hape las mate do puang.
oh ya..kenalkan aku togi sianipar, asal dari tarutung, sekarang tinggal di jakarta pusat, dapat link blog tulang dari blognya gloria limbong.
Jbu
TAPPANG:
Semoga dengan kejadian ini, kita [manusia] bisa ambil pelajaran sehingga tidak terulang lagi kejadian yang sama. Oya, di manalah rumah kalian di Tarutung? Apa kegiatanmu sekarang di Jakarta. Memang blog si Gloria bagus dan penuh cerita-cerita menarik. Gbu too…