You are currently browsing the category archive for the 'opini' category.

Rating cuma “pemaksaan” kepuasan penonton karena tidak ada pilihan lain yang lebih berkwalitas dari yang sudah ada.

Pola pikir hidup manusia layaknya sebuah bangunan. Tidak serta-merta lahir menjadi seorang cedekiawan, ahli ekonomi, atau ahli agama…etc.

Mereka yang bepikiran hebat, membicarakan ide-ide. Mereka yang berpikiran sedang, membicarakan peristiwa. Mereka yang berpikiran sempit membicarakan orang lain.


![]()
![]()
![]()
“Happy Valentine. Biarlah kita menjadi virus untuk menebar cinta kasih di manapun langkah terjejak. Dengan begitu dunia pun akan diterangi” Read the rest of this entry »
Berhasil melewati jalan Patra, papa berharap menemukan angkutan umum menuju Grogol. Ternyata tak satupun yang beroperasi. Makin dongkollah hati papa karena harus berjalan kaki sampai Grogol, kira-kira 2-3 Km. Read the rest of this entry »



Boleh dibilang, warisan tanah oppung ini masih “numpuk” karena belum pernah terbagi selama empat generasi. Sampai kelahiran ayah, naik tiga generasi ke atasnya, leluhur kami selalu punya anak lelaki satu. Read the rest of this entry »
![]()
![]()
![]()
![]()
Tak dapat dipungkiri bahwa keadaan huta di Batak sono sudah sangat memprihatinkan. Tidak ada kemajuan dan perkembangan.
“Ini kan keset kaki kamar mandi! Handuk tamu hotel ada di lemari… wakakakakaaakkk…! Dasar Batak kampung!!” teriak Rano tergelak sangat keras. Wajahku terasa panas karena malu… Tepatnya, malu-maluiiiinnnn…!!! Read the rest of this entry »
![]()
![]()
![]()
[Adalah lebih baik bila kita mau belajar dari yang telah lalu. Berpikirlah bahwa hari, minggu, bulan, dan tahun selalu melahirkan kemajuan dalam setiap gerak hidup kita]
[dari sebuah permenungan diri]
Aku sungguh tidak peduli akan tanggal tersebut sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, karena yang terpenting buat aku hanya IMAN.
Di lambung kapal ketika perjalanan “kalah berperang” di tanah rantau itu, aku merenung dalam diam yang bingung. Bagaimana aku bisa hidup di tanah orang Melayu itu nanti, sementara geliat senimannya tak pernah terdengar? Di manakah Tuhan ketika dera kegamangan hidup melanda diri?



















Komentar Terakhir