Potret Diri
Biarlah tulisku jadi aku menjadikan aku seperti aku, karena aku tidak mau jadi bukan aku.
Dari Balik Chatting Kekol
bela pembela yang membela
diri terseok di seonggok mimpi larang
aku tahu, bela sikap tak bernas
bila maksud menguntai narsis diri
apalah arti seuntai praduga…
sementara cinta terselimut awan
terbawa angin
entah menuju peraduan
aku tak melihat jalan itu
Puisi Kekol Untuk Sang Bunda
kala pekat melumuri lembar-lembar hari…
dan langkah berbeban jadi kawan sejalan…
Engkau, ya, perempuan termulia, rahim Sang Maha Cinta,
Kau temani setiap tetes peluh dan bongkah-bongkah kecewa…
kau ubah rintihan jadi harapan…
dan sampaikan itu semua ke Bapa….
terimakasih, ya, mawar termulia,
kuatkanlah aku ‘tuk dapat berkata;
‘jadilah padaku, menurut kehendakMu’. [by Mila Emmanuella]
Kebirahian Kekol Pada Kantin
murung keriuk dalam raga
cacing pita demo tak terkendali
wajah kekol meringis gulana
diharap se-bunyi kerincing uang logam
yang berputar dan terdiam dalam topi lusuh
harap muncul sahabat mengajak pergi
bukan sebagai gelandangan pengemis
karena lara masih bisa ditahan
hanya rakus yang tak terkendali
birahi kelaparan meronta bringas
nasiblah menjadi orang tak berduit
kaciaannn deh lo…!
Dari Kejengkelan Kepada Pimpinan
Tuhan tidak peduli pada judul,
pada nama dan kedudukan seseorang
Laku dan Imani tak setara dengan harta berlimpah
Hanya berperilaku, mati juga
Hanya mengimani, juga mati
Sehingga ujar dalam ucap, cerminkan karakter sejatinya
Sekiranya manusia menginsafi laku dan imaninya,
arogansi kekuasaan akan diam dalam ketaklukan terang jiwa
Tuhan tak ingin insaniNya menjadi bebal karena rasa malu
Karena kekuasaan manusia bukan harga mati menuju Surga…
Buat Embe
masih terlalu lama tidur sejam lagi
saat kekasih beranjak meninggalkan peraduan
ini waktu jam empat tiga puluh subuh
langkah kekasih begitu pasti menuju matahari
sekiranya kebuntuan pikir tak dihujam asmara
alangkah sejam sangat berarti bagi kehidupan
tak kalah langkah menuju kesiangan
sudah pasti menyusul kekasih membara
Kuberi Nama “Kekol”
disetiap melihat gerak langkah mungilnya
serasa terserang demam asmara 30 tahun silam
rambutnya kekol milik rambut Ida dulu
maka kunamai dia; Kekol – kembang kol
lincahnya beda tipis, lebih anggun 30 tahun silam
penuh hitung dalam ucap, kami punya kenangan
villa cisarua, berakhir di ujung kabut pagi
tak lagi ada canda Ida di depan mata
kekol yang hadir, era paroh baya
di balik kaca, matanya lentik mengurai keberanian
ucapnya kadang sulit diartikan
tersembunyi dalam kebimbangan dirinya
tapi dia tetap selalu hadir dalam bola mata











8 comments
Comments feed for this article
10 Desember 2007 pada 02:21
Dian Sidauruk (laki-laki)
Untuk Mila Emaanuella.
Terimakasih atas puisi: Untuk Sang Bubda. Saya telah membacanya dan berulang-ulang membacanya dan membacanya lagi. Mungkin saya tak akan bosan membacanya. Saya sangat menikmati dan secara utuh saya mengerti puisi itu. Saya terhibur sekaligus mengingatkan saya akan Sang Bunda, Bunda kita, yang kepadanya saya sering ‘merengek, memaksa bahkan mengancam’ nya agar kami disampaikannya kepada Bapa dan Putra-nya: ‘doakanlah kami sekarang dan waktu kami matipun’. Kami, saya dan istri saya beserta anak-anak kami – menghormati Sang Bunda, Mawar Termulia – menaruh aracanya di atas meja ruang tamu. Saya sering membersihkan arcanya. Semoga Sang Bunda, bunda kita menemanimu.
Tappang: Thanks lae Dian udah berkunjung ke blog “ecek-ecek” ini. Kita udah sering pasuo di blog lae Jarar S yang sungguh mati, aku sangat prihatin oleh ulah segelintir orang. Lae gak mudik Natal ini? Aku so pasti mudik lae, karena anak bini masih tinggal di Medan dan aku di Jakarta. Salam kenal, ya lae… GBU
10 Desember 2007 pada 08:28
Dian Sidauruk (laki-laki)
Horas lae, Ini Lae Hatebe ya….tadi aku lihat wajahnya, kok kayak Hatebe….
Santabi lae, memang bangsat para penghujat itu, saya marah betulan kepada para penjahat itu, sok agamis dan munafik…. terus terang, saya merasa bahwa mereka-mereka para penghujat itu gak ngerti apa itu agama….apa pula urusan mereka akan agama dan keyakinan orang lain? Sok pembela agama dan tuhan……
Tgl 19 Des 07 s/d 18 Jan 08, saya cuti lae, pulang ke Kediri, bernatal di sana.
Selamat mudik lae ya, semoga sukses selalu.
Keluarga kami keluarga Katolik lae……GBU…..
TAPPANG: Benar lae… Aku Hatebe [Hutabarat], yang suka sok nulis gitu di bataknews. Sudahlah itu lae, biarkan saja mereka “manortor” di penderitaan orang lain. Toh, mereka juga gak bakal di-sangko Tuhan. Sayang aja aku lihat, blog sebagus yang lae Jarar buat harus “mengekang diri” – Kalo aku digituin orang lae, pasti gak bakal aku ladeni… “anjing menggonggong, kafilah berlalu” – Ngapain pula ngurusin manusia kayak gitu. Makanya, aku marah sekali waktu kejadian kemarin di bataknews. Kok ada ya halak hita yang gitu?
Okelah, lae. Selamat mudik juga ke Kediri. Mila udah balas komentar lae… Dia satu kantor kok sama aku. Dia perempuan Katolik yang punya bakat besar di dunia script film. GBU too.
10 Desember 2007 pada 09:01
mila
@ Dian [laki-laki]
amin….
salam kenal…bang,om, mas…(hihi…enaknya aku panggil apa ya?)
terimakasih sudah mau mengomentari puisiku yang masih jauh dari sempurna….
Puisi ini aku buat ketika aku merasa hopeless…
Skripsi gak selesai2..padahal aku tahu ibuku selalu berdoa untuk keberhasilan aku….Aku jadi malu sendiri saat itu….
Aku gak mau bikin ibuku gak bangga sama aku…apalagi aku anak paling kecil. Saat itu aku cuma bisa ‘curhat’ sama Bunda….aku berdoa dan berdevosi pada dia…Karena aku mencontoh ibuku yang punya hubungan sangat dekat dengan Bunda Maria…Dan hanya dengan dia, semua doaku disampaikan pada Bapa dan Putranya..
Aku sangat yakin akan kekuatan doa…terlebih doa para Bunda….
Thanks a lot to bang Tappang, yang udah bersedia mempublikasikan puisiku..
GBU.
TAPPANG: Puisimu memang bagus dan layaklah aku bilang dibaca orang sebagai pencerahan diri tentang apa yang kita yakini lebih membuat hidup kita makin indah di hadapan sesama. Kirim lagi, ya, Mil, kalo ada tulisanmu… Aku tunggu.
11 Desember 2007 pada 01:16
Dian Sidauruk
@mila.
Thanks Mila, semoga kau baik-baik saja, tekun dan semakin tekun. Panggil saya pak Dian saja.
It is a hymn.
Saya baca lagi dan saya semakin ‘masuk’.
‘jadilah padaku, menurut kehendakMu’. Ini yang terakhir dia ucapkan sebelum malaekat itu lepas dari pandangannya. Ini pula kalimat Yesus ketika dahiNya berkeringat darah di taman Getsemani: “Bukan permohonanKu yang akan terjadi, tetapi kehendakMu”
TAPPANG: Betul lae. “Jadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku” – ucapan yang paling sulit diucapkan kita manusia dalam doa, karena takut nantinya kehendak Tuhan tidak sesuai dengan kehendak kita. Sudah sejak masa muda dulu aku selalu mengucapkan kata ini dalam setiap akhir doaku. Aku gak peduli, kehendakku sesuai gak dengan kehendak Tuhan? Toh, belum tentu yang kita kehendaki itu sebenarnya cocok dengan kehidupan kita sendiri. Buktinya, Tuhan selalu kasih yang memang sudah menjadi bagian hidupku. Meminta boleh-boleh aja sama Tuhan, tapi harus menjadi kehendak DIA agar semua berjalan dalam kepastian. Eh, manusia kan maunya yang enak-enaknya saja…hehehehe….
8 Mei 2008 pada 23:32
Andreas
Betul skali. Rencana Tuhan adalah yg terindah.
TAPPANG:
Amin. Salam kenal, kawan… GBU.
2 Juli 2008 pada 14:30
endo
benar bgd smua yg dikatakan,
apa yg tlah TUHAN lakukan sllu yg terbaik buat pengikut2 n murid2 YESUS trus tekun smp slmnya.smg Tuhan YESUS membrkati kt smua.
TAPPANG:
Salam kenal. Semakin bijaklah kita dalam mengarungi kehidupan ini. GBU.
25 September 2008 pada 14:34
Hasan
Assalamu’laikum…..
maaf numpang coret-coret disini z……….
BTW blog kamu seru juga…….
TAPPANG:
Thanks. Gbu.
Walaikum’salam… Ini blog iseng-iseng aja mas, kala hati sedang merasakan sesuatu. Oh, silahkan ikutan numpang coret-coret mas asal santun dan menjunjung tinggi segala perbedaan.
4 Oktober 2008 pada 18:59
Fernando Sibagariang
Horas buat Tulangku di Jakarta. Apa kabar tulang disana… moga-moga tulang sukses selalu dalam pekerjaandan senantiasa dilindungioleh Tuhan Yesus Kristus. Salam buat semuanya ya Tulang…
TAPPANG:
Bah, berkunjung juganya kau ke ranah tulang ini. Horas juga bere… Semoga kalian juga sehat-sehat, terutama cucu2 tulang… Senantiasalah mensyukuri hidup, apapun adanya itu… Salam buat semua keluarga kita. GBU.