foto diri

Potret Diri

 

Abstrak

Biarlah tulisku jadi aku menjadikan aku seperti aku, karena aku tidak mau jadi bukan aku.

Dari Balik Chatting Kekol

bela pembela yang membela
diri terseok di seonggok mimpi larang
aku tahu, bela sikap tak bernas
bila maksud menguntai narsis diri
apalah arti seuntai praduga…
sementara cinta terselimut awan
terbawa angin
entah menuju peraduan
aku tak melihat jalan itu

abstrak2

Puisi Kekol Untuk Sang Bunda

kala pekat melumuri lembar-lembar hari…
dan langkah berbeban jadi kawan sejalan…
Engkau, ya, perempuan termulia, rahim Sang Maha Cinta,
Kau temani setiap tetes peluh dan bongkah-bongkah kecewa…
kau ubah rintihan jadi harapan…
dan sampaikan itu semua ke Bapa….
terimakasih, ya, mawar termulia,
kuatkanlah aku ‘tuk dapat berkata;
‘jadilah padaku, menurut kehendakMu’. [by Mila Emmanuella]

HEHEHEHE

Kebirahian Kekol Pada Kantin

murung keriuk dalam raga
cacing pita demo tak terkendali
wajah kekol meringis gulana
diharap se-bunyi kerincing uang logam
yang berputar dan terdiam dalam topi lusuh
harap muncul sahabat mengajak pergi
bukan sebagai gelandangan pengemis
karena lara masih bisa ditahan
hanya rakus yang tak terkendali
birahi kelaparan meronta bringas
nasiblah menjadi orang tak berduit
kaciaannn deh lo…!

Uuuhgghh

Dari Kejengkelan Kepada Pimpinan

Tuhan tidak peduli pada judul,
pada nama dan kedudukan seseorang
Laku dan Imani tak setara dengan harta berlimpah
Hanya berperilaku, mati juga
Hanya mengimani, juga mati
Sehingga ujar dalam ucap, cerminkan karakter sejatinya
Sekiranya manusia menginsafi laku dan imaninya,
arogansi kekuasaan akan diam dalam ketaklukan terang jiwa
Tuhan tak ingin insaniNya menjadi bebal karena rasa malu
Karena kekuasaan manusia bukan harga mati menuju Surga…

Uka deng

Buat Embe

masih terlalu lama tidur sejam lagi
saat kekasih beranjak meninggalkan peraduan
ini waktu jam empat tiga puluh subuh
langkah kekasih begitu pasti menuju matahari

sekiranya kebuntuan pikir tak dihujam asmara
alangkah sejam sangat berarti bagi kehidupan
tak kalah langkah menuju kesiangan
sudah pasti menyusul kekasih membara

Kekol

Kuberi Nama “Kekol”

disetiap melihat gerak langkah mungilnya
serasa terserang demam asmara 30 tahun silam
rambutnya kekol milik rambut Ida dulu
maka kunamai dia; Kekol – kembang kol

lincahnya beda tipis, lebih anggun 30 tahun silam
penuh hitung dalam ucap, kami punya kenangan
villa cisarua, berakhir di ujung kabut pagi
tak lagi ada canda Ida di depan mata

kekol yang hadir, era paroh baya
di balik kaca, matanya lentik mengurai keberanian
ucapnya kadang sulit diartikan
tersembunyi dalam kebimbangan dirinya
tapi dia tetap selalu hadir dalam bola mata