Kasih


Rimba terkesiap. Jantungnya berdebar lebih keras. Ayunan tangan yang gemulai itu membuat ketiak gadis itu tersingkap. Kedua bukit yang tersimpan di balik lilitan kain sarung bergoyang kenyal. Rimba menelan ludah. Goyangan itu membuat kedua bukit itu seakan mau melompat menembus kain yang membalutnya…

Nukilan kisah di atas adalah penggalan yang saya kutip dari cerpen Irama Tembang Purba karya Nestor Rico Tambunan. Judul cerpen itupun menjadi label dari buku Kumpulan Cerpen Pilihan, yang diterbitkan tahun 2004 oleh Penerbit Progres Jakarta. Di dalam buku ini ada 12 cerpen dari berbagai aliran penulis, seperti paparan editornya, Nadjib Kartapati Z, dalam Kata Pengantar; “Dalam kumpulan ini Anda akan menjumpai berbagai jenis cerpen yang bernuansa misteri, klasik, psikologi dan bahkan remaja…”

Awal membaca judul cerpen Nestor ini, saya sempat dibuat berpikir keras. Apa maksudnya Irama Tembang Purba? Saya coba mengartikan kalau itu berhubungan dengan nyanyian atau musik tradisional – atau irama nyanyian zaman purba (?). Namun setelah membaca tuntas cerpen itu, saya malah tidak menemukan secuil pun cerita tentang sebuah “tembang”. Satu pemilihan judul tulisan yang memikat dan penuh makna. Itulah salah satu kelebihan lae kita si Nestor, anak kelahiran Hutajulu, Lumban Lobu, Tapanuli Utara ini dalam membuat judul-judul tulisannya sejak dulu. Memikat, penuh rangsangan untuk membaca tulisan dari judul yang dibuat. Dalam penulisan pun, Nestor selalu fokus dengan bahasa yang gamblang dan sedikit puitis dalam menggambarkan situasi. Nestor juga tidak ragu-ragu mengkritisi ketidak-benaran yang dilihatnya. Jiwa jurnalis sejati begitu kuat melekat dalam dirinya, ditambah rasa ketidak-sungkanan diri seorang anak Batak untuk mengatakan “tidak” jika “tidak” dan “ya” bila memang harus “ya”.

Saya tertarik membahas cerpen “Irama Tembang Purba” ini, karena saya sungguh mendapat satu kejutan yang lucu sekaligus ironis. Kalau kandungan ceritanya sendiri, streotip dengan cerita-cerita percintaan sepasang anak manusia yang sudah banyak dimunculkan. Saya anggap, Nestor berhasil memunculkannya dalam cerita ini.

Rimba, si anak desa yang lugu, digambarkan begitu kaget dan terpesonanya saat menyadari kalau Orsina, putri Ompu Porhas, dukun yang merangkap raja adat di desa mereka – dan sejak kecil Rimba sudah mengenal Orsina – kini telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang menggairahkan dengan tonjoloan bukit dadanya yang kenyal. Hal inilah kemudian yang membuat hari-hari Rimba begitu menggelisahkan. Menghadirkan perasaan tak bernama di sudut hatinya… (ungkapan Nestor dalam ceritanya ini). Dan bagi Rimba, perasaan tak ternama itu bagai tembang purba; asing, tetapi agung dan menggetarkan sukma, betapa nikmat.

Alinea demi alinea membaca cerita ini, Nestor berhasil memberi “kegemasan” bagi pembacanya dengan cara tuturnya yang begitu memikat; …Rimba baru saja membantu menaikkan hudon ke atas kepala Orsina. Rimba mengangkat bibir atas gentong tanah liat itu, sementara Orsina memegangi bawahnya. Ketika Rimba mengangkat, Orsina menyorongkan kepalanya ke pantat hudon. Gerakan yang kurang terukur membuat bukit Orsina menyentuh tipis dada Rimba yang telanjang. Srrr. Rimba terpaku bagai kena tenung, terdiam bagai patung.

Saya begitu gemas membayangkan bagian ini. Saya rasakan Rimba itu adalah saya, Orsina itu wanita yang paling saya taksir. Sayangnya, Rimba tidak mudah menguntai harapan cintanya. Amang Jonggur, ayah Rimba, terkejut mendengar permintaan putra kesayangannya itu untuk melamarkan Orsina untuknya. Di samping status ayah Orsina yang begitu disegani penduduk, sudah pasti Amang Jonggur tidak mampu memberi boli, mas kawin, sebagai syarat. Tapi, Rimba ngotot harus kawin dengan Orsina. Ayahnya tak tega juga.

Sialnya, Ompu Porhas tidak menolak lamaran itu asal boli-nya enam kerbau dan empat petak kebun. Dukun dan raja adat itupun meminta waktu seminggu sebelum menerima lamaran itu secara sah. “Seperti diwariskan kakek moyang kita, kita perlu menangkap isyarat sebelum melakukan sesuatu.” Alasan Ompu Porhas sehingga meminta waktu seminggu.

Dari sinilah cerita makin menarik. Nestor cukup piawai menghadirkan esensi dari budaya adat di desanya si Rimba. Hal ini tentu saja semakin memikat untuk konflik yang akan dibangun semacam suatu perjuangan tokoh cerita dalam menggapai tujuannya. Dan yang menarik buat saya, ketika Rimba harus dihadapkan pada kepercayaan turunan dari leluhur. Konyolnya, selama ‘menangkap isyarat’ boleh tidaknya melakukan sesuatu, harus seturut kajian Ompu Porhas sebagai dukun dan raja adat. Adakalanya melalui mimpi atau ada burung elang yang berkuik-kuik sambil berputar-putar di atas rumah Ompu Porhas. Rimba tidak terima. Ia curiga akan manfaat wewenang yang diberikan kepada Ompu Porhas. Bagaimana kalau Ompu Porhas tidak menyukai Rimba? Bukankah dengan enteng dia bisa berkata kalau isyarat yang dia dapat, mereka tidak bisa menikah. Bah…?!

Membaca kelanjutan cerita ini, saya sungguh mendapat pencerahan bagaimana sesungguhnya kita sebagai manusia merdeka, bisa menjadi bijak dalam menanggapi atau menyikapi prihal adat istiadat yang sudah turun temurun dimiliki manusia. Apalagi zaman ini semakin canggih, dan orang kian mudah mempertentangkan iman agamanya terhadap budaya adat.

Tiga hari sudah penantian yang mendebarkan itu. Tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Rimba semakin tak sabar. Rasanya ia ingin siang cepat-cepat berganti dengan malam, memperoleh jawaban, kemudian… menyunting Orsina! O, impian yang mendebarkan…

Saya sendiri membaca kelanjutan cerita ini turut berdebar. Amangoi…! Pada hari ke-4 penantian tiba-tiba burung Sipahut mencicit-cicit pedih di atas bubungan jabu gorga, rumah ukir, milik Ompu Porhas. Orang sekampung, termasuk Rimba, tahu bahwa cicitan burung bermuka hantu itu pertanda buruk.

Seturut cerita Nestor ini, bila ada kejadian seperti itu, Ompu Porhas akan segera memerintahkan kepada penduduk untuk membatalkan segala niat berhelat, dan menyuruh memberikan persembahan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon.

“Tidak, Sina! Hubungan kita tidak boleh putus karena burung itu,” ujar Rimba menunjukkan kegalauan hatinya saat bertemu Orsina yang turut sedih. – Menurut Rimba, burung “sialan” itu masih satu malam bercicit, belum tiga malam. Harapannya masih ada dua malam lagi. Penduduk desa pun tahu itu.

Sampai di sini, saya belum bisa menebak ke mana akhir cerita ini. Apalagi malam keduanya, burung itu masih tetap mencicit. Alamat pertanda buruk bagi Rimba. Dan akhirnya aku tertawa tanpa bisa kutahan. Malam ketiga burung itu tidak lagi mecicit. Orang sekampung geger. Pesta perhelatan putri raja adat mereka akan segera digelar. Betapa beruntungnya (mungkin) Amang Jonggur berbesan dengan orang yang peling dihormati di desa mereka.

Pembaca. Tahu tidak kenapa saya akhirnya tertawa sekaligus merasakan ke-ironi-an? Nestor sungguh mampu memberi akhir dari ceritanya dengan satu kejutan besar. Burung Sipahut itu tidak lagi mencicit pada malam ketiga, ternyata karena siang harinya sudah diketapel oleh Rimba, mati. Ya, jelas saja tidak mencicit lagi. Sekarang, apa yang kita dapat dari Irama Tembang Purba ini? – Mungkin cinta sejati yang penuh pengorbanan dengan tidak peduli akan “ke-magis-an” budaya adat leluhur? Ternyata, Nestor mengistilahkan “Irama Tembang Purba” ini sebagai cinta kasih. Bahwa sejak terciptanya manusia di dunia ini, yang namanya cinta, saling cinta, cinta yang berpadu sudah ada. Bahwa kalau dua insan sudah saling mencinta, dan cinta itu sudah ada sejak purba, apapun akan dilakukan. Tergantung bagaimana kita mengarahkannya kepada kebenaran cinta itu sendiri. Tapi, saya tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan Romeo & Juliet…

Rimba telah mengetapel dan membuang burung yang mereka anggap sakti itu sebelum hinggap dan mencicit di atas bubungan jabu gorga, rumah ukir Ompu Porhas, pada malam ketiga. Ia nekat. Ia tak mau kehilangan tembang purba yang menggetarkan irama sukma dan denyut nadinya. Ia ingin tembang itu mengalun sampai ke masa hidup anak cucunya. Anak cucu Orsina.

Aturan adat istiadat memang penting dan patut kita hormati. Hanya saja, setiap mereka yang ditunjuk sebagai “punggawa” dari setiap sisi budaya adat itu janganlah sampai menyalahgunakan demi kepentingan diri sendiri. Biarlah budaya adat, tidak melulu tradisional, beriringan seturut mengalirnya hidup kita sehari-hari tanpa ada yang tersakiti dan yang menyakiti. ***