Berdua Untuk Berteman

Si ibu muda jadi merasa terganggu oleh prilaku pria di sebelahnya. Iapun berguman saking dongkolnya: “Huh…! Menyebalkan! Ingin rasanya kutampar saja mukanya!”

SEDANG asyik-asyiknya mengelana ke beberapa blog, tiba-tiba di layar monitor komputerku muncul pemberitahuan adanya imel yang masuk. Aku langsung klik halaman intra-mail kantor. Tampak ada imel baru yang dikirim seorang teman, boru Harahap, penulis skenario. Biasanya, si ito ini kalau mengirim email ke aku hanya sebatas konsep, sinopsis atau skenario yang harus aku periksa. Namun, pada subject imel yang dikirimnya kali ini berbeda tulisannya; Renungan. Aku masih sempat mengerjit heran sebelum akhirnya kuputuskan untuk membuka attachment ikutannya.

Dalam format PPS – Power Point Slide si ito itu ternyata mengirim satu cerita yang benar-benar membuat aku harus merenung. Sebuah cerita ringan, namun mampu mengusik rasa kesejatian manusiawiku.

Diceritakan: Di ruang tunggu salah satu bandara, seorang ibu muda terlihat tengah menunggu pesawat yang akan membawanya terbang. Karena harus menunggu keberangkatan cukup lama, ia memutuskan untuk membeli buku. Ia juga membeli sebungkus biskuit sebagai camilan sambil membaca buku. Itu memang lebih baik sebagai pengusir kejenuhan.

Si ibu muda duduk di salah satu kursi ruang VIP. Dengan menyadarkan tubuhnya yang terlihat terawat dengan baik, ia mulai membaca buku yang baru dibeli. Karena mungkin isi bukunya menarik, si ibu muda langsung saja tersihir untuk tetap fokus pada bacaan. Dia seperti tidak ingin terganggu oleh kesibukan di sekitarnya.

Di kursi sebelah, yang cuma dipisahkan meja kecil, duduk seorang pria yang lantas saja sibuk membuka majalah dan larut membaca. Di atas meja tampak sebungkus biskuit. Untuk beberapa saat, si ibu muda tak terusik oleh kehadiran pria lumayan tampan di sebelahnya. Ia hanya sempat melirik sejenak memastikan orang yang duduk di sebelahnya adalah orang baik-baik. Matanya juga sempat menangkap bungkus biskuit di atas meja.

Si ibu muda mulai terusik ketika ia mengambil sepotong biskuit dari bungkusnya di atas meja. Si pria pun ikut mengambil sepotong. Untuk kedua kalinya pun begitu. Si ibu muda jadi merasa terganggu oleh prilaku pria di sebelahnya. Iapun berguman saking dongkolnya: “Huh…! Menyebalkan! Ingin rasanya kutampar saja mukanya!”

Sialnya, kejadian itu tidak berlangsung satu-dua kali. Tapi setiap si ibu muda mengambil sepotong biskuit, si pria pun selalu ikut mengambil sepotong. Hampir amarah si ibu muda meledak kalau tidak ingat sedang berada di ruang VIP. Ia begitu geram melihat perbuatan pria yang dianggapnya sangat tidak sopan.

Ketika biskuit tinggal sepotong, si ibu muda bergumam dalam hati: “Coba saja! Ingin lihat apa yang akan dilakukannya.” – Konyolnya, tanpa merasa jahil, si pria membelah biskuit. Ia mengambil separoh dan mempersilahkan si ibu muda untuk menikmati sisa parohannya. Walau si pria tersenyum simpatik menawarkan, namun hati si ibu muda sudah tidak tahan. “Keterlaluan!!” rutuknya dalam hati sambil bergegas mengemasi barang dan pindah ke boarding room. Ibu muda merasa harga dirinya telah dipermainkan. Benar-benar menjijikkan laki-laki yang tidak kenal sopan santun itu!

Masih dengan kegeraman hati oleh kejadian yang baru dialaminya, akhirnya si ibu muda berusaha lebih menangkan diri setelah duduk di dalam pesawat yang akan membawanya pergi. Dia pikir, lebih cepat berangkat, lebih cepat pula melupakan si pria “kurang ajar”.

Minat untuk melanjutkan bacaan buku yang sempat tertunda tadi sudah hilang. Ibu muda ingin mencoba tidur saja. Maka, ia membuka tas jinjing miliknya untuk mengambil kaca mata. Betapa terkejutnya dia… Ternyata biskuit yang dibelinya tadi masih utuh dalam tas jinjingnya. Melihat itu mulut si ibu muda kontan ternganga dengan mata besar seperti tak percaya. Rasa malu, merasa bersalah, dan menyesal menyesak dada hingga membuatnya sulit bernafas.

Pria tadi membagi biskuit kepunyaannya kepada si ibu muda tanpa merasa marah, terganggu, ataupun merasa rugi. Sementara si ibu muda, tanpa menyelidiki terlebih dulu biskuit itu milik siapa, sudah begitu marah saat sesamanya manusia turut menikmati kebahagiaannya.

Akhir dari imel teman ini dibuat 4 hal yang tidak dapat diraih kembali: Pertama; Batu… setelah dilempar. Kedua; Kata-kata… setelah diucapkan. Ketiga; Kesempatan… setelah berlalu. Keempat; Waktu… setelah beranjak pergi.

Sungguh perenunganku hari ini benar-benar begitu dalam. Betapa seringnya aku berlaku ceroboh dalam hidup ini. Betapa kerapnya aku bertindak tanpa berpikir lebih dulu. Sungguh ironinya aku sering menilai seseorang hanya dari penampilan. Bagaimana egoisnya aku tanpa berusaha menyapa sekitarku berada oleh karena merasa lebih unggul… Semoga pembaca juga bisa mengambil hikmah dari cerita di atas.! ***