Sang Bunda

Aku hanyalah pensil dalam tangan Tuhan. Tapi, Dia-lah yang menulisnya,”

19 Oktober 2007.Malam, Jakarta diguyur hujan. Bis PPD 46, jurusan Kp. Rambutan-Grogol terasa lengang, tidak seperti biasa disesaki penumpang. Maklum, libur Lebaran belum usai. Hanya beberapa kantor swasta yang sudah melakukan aktivitas, termasuk kantor tempat saya bekerja.

Hujan makin deras. Bingung saya mau turun di mana? Karena tidak mungkin lagi turun di sekitar Pancoran, saya putuskan turun di halte Supermarket Hero, tidak jauh dari tugu Pancoran. Terpikir juga sekalian nyari makan malam. Namun ketika memasuki foodcourt Hero, tak ada makanan yang menarik minat selera. Lalu kuputuskan naik kelantai 2, toko buku Gramedia.

Tak ada niat beli buku. Tiba di areal DVD dan VCD, mata saya langsung menangkap film VCD Mother Teresa of Calcutta. Saya kontan teringat ke Blogberita Batak News. Ingat bagaimana serunya orang berkomentar saat tulisan Lae Jarar tentang wanita Albania ini dimuat. Maka saya putuskan untuk membeli VCD itu. Dan, karena direkam dalam bentuk VCD maka film ini harus dibuat part 1 & 2, yang terdiri dari 4 keping CD.

Kalau selama ini kekaguman saya kepada Bunda Teresa hanya dari berita-berita di koran dan televisi, namun setelah menonton film Mother Teresa of Calcutta ini, kekaguman saya semakin bertambah. Beliau tidak mengenal jijik. Beliau selalu kokoh dalam pendirian. Beliau sangat bersahaja dengan segala imannya. Beliau selalu berani menolak orang-orang serakah yang ingin memanfaatkan kejujuran hatinya.

Bunda Teresa lahir dari lingkungan keluarga terpandang, di kota Skopje, Albania. Nama aslinya, Agnes. Tapi Nikola, ayahnya, seorang dermawan, suka memanggilnya Gonxha, alias kuncup mawar. Teresa menjadi biarawati bukan karena dipaksa orang tuanya seperti tuduhan Father (pastor) Serrano. Lelaki baik inilah nantinya yang banyak membantu perjuangan Bunda Teresa dalam misinya menolong orang miskin.

Sedihnya, setelah keputusannya menjadi biarawati dan ditempatkan di Calcutta, India, Bunda Teresa tak pernah lagi ketemu dengan orang tuanya.

Bunda Teresa memang seperti “sengaja” diutus Tuhan sebagai pelayannya. Hati wanita ini begitu tulus dan mulia. Awal tergerak untuk mengabdikan diri bagi kaum miskin di antara yang miskin, ketika suatu waktu dia melihat seorang wanita muda menggendong anakya yang sudah sekarat karena kelaparan. Hati Bunda Teresa tersentuh dan pedih melihatnya.

Perjuangan Bunda Teresa dalam pengabdian “suci”nya tidaklah berjalan begitu mulus. Saya seperti disadarkan; kalau seseorang berbuat baik belum tentu mendapat respons yang baik pula. Tapi, sang Bunda tetap tegar dan rendah hati saat sebagian kaum beragama Hindu berdemo dan melempari rumah penampungan orang-orang sekarat yang ditolongnya. “Wali” para pendemo yang merangsek masuk ingin mengusir, kontan terdiam dan mundur teratur ketika Bunda Teresa berkata dengan lembut: “Tidak ada perbedaan bagiku. Seorang Kristen harus menjadi Kristen yang baik. Seorang Muslim harus menjadi Muslim yang baik. Dan, seorang Hindu harus menjadi Hindu yang baik pula”.

Begitu banyak kata-kata bermakna sepanjang menonton film ini. Ordo yang menaungi Bunda Teresa sempat cemas melihat sepak terjangnya. Mereka seperti ketakutan kalau warga Hindu dan Muslim India akan “mengamuk” karena dituduh meng-kristenisasi. Utusan Roma, father Serrano yang awalnya menyamar sebagai wartawan juga tak kuasa merayu Bunda Teresa agar menghentikan kegiatannya. “Aku hanyalah pensil dalam tangan Tuhan. Tapi, Dia-lah yang menulisnya,” ujar Bunda Teresa tetap teguh. Dan, saat Serrano bertemu “Bapa Rohani” Bunda Teresa, pastor Van Exem, sebagai kepala gereja Katolik di Calcutta, Serrano hanya bisa berujar; “Siapakah kita sehingga bisa menghentikan pensilnya Tuhan?

Sepanjang menonton film ini, kita akan melihat bagaimana seorang mother yang memiliki nurani keibuan mengurus “anak-anaknya”. Dan satu hal terhebat yang saya lihat dari sosok “Bunda”nya kaum marjinal ini, ketika Utusan Kemanusiaan, nama kelompok kerja Bunda Teresa, sudah mulai dilembagakan secara profesional. Dalam suasana meeting di New York, Bunda Terasa bukannya mendengar penjelasan perwakilan stafnya. Sang Bunda malah bingung melihat botol-botol bir di atas meja. Tak tahan dengan kegalauan hatinya, Bunda Teresa lalu memanggil pramusaji yang berdiri tidak jauh darinya.

“Berapa harga sebotol bir ini?” tanya Bunda Teresa setengah berbisik agar tidak mengganggu rapat.

“Tiga dolar, Bu…”

Bunda Teresa manggut. Dalam hati dia langsung berhitung; “tiga dolar ini sudah bisa biaya setahun sekolah satu dari “anak-anak”ku di Calcutta.” – Masih penasaran, Bunda Teresa kembali melambaikan tangan memanggil si pramusaji dan bertanya; “Kalau tempat pertemuan kita ini, sewanya berapa?” – Si Pramusaji heran sambil berucap; “Soal itu, saya tidak tahu, bu…”

Bunda Teresa langsung berdiri dan meninggalkan rapat. Dia menolak pelembagaan secara profesional Utusan Kemanusiaan yang dibentuknya. Dia sadar, kalau semua berjalan secara prosedur lembaga, maka aktivitasnya untuk menolong kaum miskin secara spontan akan terbatasi oleh protokoler lembaga. Dia ingin, menolong orang tidak perlu berhitung. Spontan! –

Saya setuju dengan sikap Bunda Teresa. Kita sering gemas melihat korban bencana alam dipermainkan atas nama birokrasi. Hak mereka ditahan-tahan karena si pejabat Mr. X belom menandatangi nota penyerahan… bla bla bla…

Tadinya saya masih ingin mengulas lebih panjang lagi soal sosok Bunda Teresa dari film yang saya tonton itu. Tapi mengingat keterbatasan panjang tulisan di blog ini, maka saya hanya dapat bersyukur tidak mau menyebut “kafir” terhadap wanita yang kukagumi ini. Kalau saya sampai tergerak untuk menulis sosok wanita bersahaja ini di blogberita Batak News, karena saya juga ingin berbagi beberapa ungkapan dan doa Bunda Teresa, yang saya harapkan juga bisa memberi pencerahan terhadap kehidupan kita sehari-hari. – Semoga saja!


Ungkapan-ungkapan Bunda Teresa yang berkesan saya tangkap dari film ini:

  • Saya hanyalah pensil dalam tangan Tuhan… Tapi, Dia-lah yang menulis.
  • Jangan pernah melupakan sukacita di dalam hati dan matamu. Kemanapun seorang Kristen sejati pergi, dia membawa sukacita.
  • Segala sesuatu yang kitalakukan ini hanyalah setitik air di lautan. Tapi, jika kita tidak melakukannya, titik itu akan hilang selamanya.
  • Kita tidak boleh pernah takut menjadi beda dan bertentangan dengan dunia ini.

Saya sangat terkesan dengan doa Bunda Teresa seperti di bawah ini”


Tuhan, jadikanlah aku alat perdamaian. Di mana ada kebencian, biarlah aku membawa kasih. Di mana ada dendam… pengampunan. Di mana ada keraguan… iman. Di mana ada keputus-asaan, biarlah aku membawa harapan. Di mana ada kesedihan, biarlah aku membawa sukacita.

Tuhan…, izinkan aku untuk menghibur daripada dihibur. Untuk mengerti daripada dimengerti. Untuk mencintai daripada dicintai. Karena memberi adalah menerima. Karena kita mengampuni, kita diampuni. Melalui kematianlah kita diberi hidup kekal. Amin…***