funny-babys-_11.jpgRumah adalah tempat bernaung bagi Ayah, Ibu, dan Anak-anak. Rumah merupakan perwujudan dari seni budaya kehidupan].

Rumah Bolon (Batak)

Sewaktu lajang dulu, saya juga pernah mengalami kekuatiran; gimana kalo nanti saya tidak punya anak laki-laki? – Kala itu saya sedang terjebak oleh doktrin tua-tua; “habislah garis margamu kalau kau tidak punya anak laki-laki. Anak perempuanmu, dia akan ikut suaminya”.

Saya berpikir keras. Coba memahami, kalau “harga tinggi” seorang anak laki-laki di keluarga orang Batak, utamanya cuma penyambung garis keturunan marga. Apalagi zaman millenium ini. Lelaki orang Batak tak lagi selalu bisa bertanggung-jawab sendiri untuk membutuhi keluarga. Banyak yang kita lihat, justru perempuan Batak lebih lihai mencari nafkah.

Dari zaman kapal Tampomas hingga era kapal Kelud, saya selalu kagum melihat kegigihan “inang-inang”, wanita Batak, yang menjadi kuli angkut di pelabuhan Tanjung Priok. Mereka tangguh. Mereka bercucur keringat [mungkin sakitnya hampir sama ketika para wanita “pejuang” ini hendak melahirkan anak lelaki atau anak perempuan].

Suatu hari, ketika baru tiba dari Medan. Biasanya saya tidak mau ikut-ikutan berebut turun. Untuk apa? Toh, kapal tidak akan pergi ke mana-mana sebelum seluruh muatannya diturunkan. Saya pun cuma menonton saja dari lambung kapal. Karena banyak orang berdesak turun, ditambah “kebringasan” para porter [kuli angkut] naik, tiba-tiba saya melihat seorang “inang” terpeleset di jembatan tangga, dan kakinya langsung mejulur ke arah bawah. Sebaiknya “inang” itu terjatuh langsung. Tapi tidak! Dia malah tergantung dengan leher tercepit ke tali jembatan tangga, sementara para kuli angkut tidak peduli. Saya kontan shock melihat. “Mati sudah! Mati sudah “inang” itu,” batinku ngeri melihat “inang” tergantung seperti orang yang dihukum gantung. Beruntung beberapa temannya berterika-teriak, hingga membuat penjaga keamanan segera bertindak menolong. Hatiku sangat lega. Kulihat si “inang” dibawa berteduh ke bawah gudang pelabuhan. Wajahnya pucat. Nafas tersengal. Sedih saya melihatnya. “Itu ‘ibu’ ku…” – Perasaanku campur-aduk ketika membayangkan “inang” itu adalah omakku yang boru Panggabean.

Di lambung kapal, saya termenung. Si “inang” itu, omakku, hampir mati terhimpit tali pinggir jembatan kapal. Saya anak lelaki Batak. Untuk genderku “inang” bertarung nyawa. Di manakah tempatnya dalam adat Batak?

Saya pastikan, saat terjepit itu, di benak “inang” langsung terbayang wajah anak-anaknya, entah itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Si “inang” rela pertaruhkan nyawa tanpa membedakan anak laki-laki atau anak perempuan. Anakhon hi do hamoraon di ahu [kekayaanku adalah anakku], entah itu laki-laki maupun perempuan.

Akhirnya saya disadarkan, tidak akan kuatir lagi kalau kelak tidak memiliki anak laki-laki [Puji Tuhan, kini saya dianugerahi sepasang anak]. Pikiran saya buka lebar-lebar. Bukan manusia yang memberi keturunan, tapi Tuhan! Bagaimana mungkin saya mau mengatur kehendak Tuhan, hanya karena tuntutan untuk penerus garis marga. Siapakah saya di hadapan Sang Khailik itu? Semua anugerah yang Dia berikan kepada manusia samalah harganya di hadapan-Nya.

Bertolak dari pemikiran ini, sekitar akhir 80-an, saya coba menulis novelet dengan mengangkat tema tentang “mahalnya” anak lelaki Batak ini. Dalam novelet dengan judul Penjara Jiwa Yang Terkoyak itu, [dimuat di majalah Kartini], saya mengisahkan bagaimana “tega”nya sang bapak dan ibu memaksa anaknya pulang ke Medan. Mereka akan menikahkan lagi si anak sasada karena boru sileban tidak bisa memberi keturunan anak laki-laki.

Si cucu perempuan, yang saya beri nama tokoh Ibeth, marah dan protes kepada sang mama yang asli boru Manado.

“Kenapa mama biarkan papa dibawa oppung seperti kerbau yang dicucuk hidungnya?” protes Ibeth keras dalam tangis.

“Apa daya melawan adat mereka,” sergah mama, berusaha menahan tangisnya.

Intinya dari tulisan ini. Bagi saya, anak perempuan atau anak laki-laki haruslah selalu kita syukuri sebagai anuegerah pemberian Tuhan yang sangat berharga. Tuntutan adat-budaya sah-sah saja kita junjung asal kita tetap menyadari kalau kelahiran, jodoh dan kematian adalah hak mutlak dari Sang Pencipta. Tentu saja kalau kita percaya kalau Tuhan itu ada dan menjadi Junjungan Tertinggi di atas segala kehidupan manusia.