Jakarta 60-an

Biasanya pengendara sepeda motor selalu nyelonong se-enaknya. Aku sendiri kerap jengkel dibuatnya. Kadang tinjuku mau kulayangkan…

 

SEMERAWUT. Itulah sebutan lain untuk kota Jakarta, selain dikenal sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Penataan kota yang tidak merujuk pada; kenyamanan, aman, terkendali, dan asri. “Gimana mau menerapkan Hukum kalau kotanya sendiri masih semerawut?” – Mungkin begitulah gerutuan pesimis masyarakatnya.

Sepagi itu, seperti biasa, aku sudah berada dalam bis kota menuju kantor. Empat bulan terakhir ini aku harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan dan rasa gerah sepanjang perjalanan. Jakarta yang kian disemuti pengendara sepeda motor dan ketidak-terarutan tata tertib lalulintas, sungguh membuat otak cepat stress. Untuk mengurangi kadar stressing inilah aku memutuskan berangkat ke kantor lebih pagi.

Biasanya dari tempat pemondokan, aku selalu naik bis 116, Pahala Kencana, menuju arah Blok M. Turun di halte STM Penerbangan, dan melanjutkan perjalanan dengan bis P45 jurusan Cimone. Biasanya bis ini baru padat kalau sudah sampai di Slipi, yang kadang juga sedikit menyebalkan karena ngetem suka lama.

Tiba di pintu tol Kebun Jeruk, hampir separoh penumpang turun, termasuk aku. Di sepanjang jalan Pejuangan memang terdapat banyak kantor, termasuk komplek televisi swasta pertama di negeri ini. Para penumpang yang hampir saban pagi ketemu denganku, memang masih ada yang melanjutkan perjalanan dengan naik angkot 03 jurusan Citraland-Srengseng.

Di perempatan jalan Pejuangan tidak jauh dari pintu tol, kami biasanya menyeberang bersamaan. Namun pagi itu, kebetulan terjadi kemacetan, jadi lebih mempermudah kami menyeberang. Biasanya pengendara sepeda motor selalu nyelonong se-enaknya. Aku sendiri kerap jengkel dibuatnya. Kadang tinjuku mau kulayangkan saking kesal melihat pengendara sepeda motor seperti tidak mau memberi jalan bagi pejalan kaki. Padahal, sedikit saja mereka nge-rem tidak ada salahnya. Pengendara sepeda motor di Jakarta memang terkesan arogan. Tak heran kalau hampir tiap hari ada saja dari mereka yang terkena bokem, atau sesama mereka saling tabrak.

Ketika mencoba melewati kemacetan di jalan, dan aku sudah melewati satu baris mobil yang macet, tiba-tiba kudengar…gedubraakkk…! Spontan aku berbalik dan undur langkah untuk melihat. Rupanya, seorang pengendara motor baru dibokem oleh seorang lelaki pejalan kaki. Terjerembablah lelaki itu dengan motornya ikut terkapar. Aku kontan bereaksi untuk ikut memukul pengendara sepeda motor itu. Sudah pasti dia dibokem karena menabrak si lelaki berpostur tegap. Terlihat di celananya ada bekas noda lumpur dari ban motor. Si lelaki tegap sangat kesal dan terus menyerang pengendara sepeda motor. Akupun ingin ikut memukul karena akumulasi kekesalan selama ini yang tidak suka melihat tingkah pengendara sepeda motor yang sering arogan. Di bangsa ini memang makin banyak manusia yang tidak berahlak. Tidak menghormati orang lain. Pengendara motor dan mobil tidak punya rasa kepedulian pada pejalan kaki, yang cuma mengandalkan langkah untuk bergerak. Bukan mesin.

Aku tidak sempat ikut memukul pengendara sepeda motor itu karena dihalangi pejalan kaki yang lain serta teriakan kaum perempuan. Lelaki itupun terkapar oleh kesombongannya sendiri. Aku yakin, sepeda motornya yang terlihat baru itu masih kredit. Kenapa sih mesti sombong dengan barang kreditan? Sudah selayaknya pengendara motor dan mobil menghormati pejalan kaki. Cuma nginjak rem sedikit, apa susahnya?

Jakarta semakin semerawut dengan Undang-undang Lalulintas yang cuma digantung di atas traffic light. Polisi bahkan terkesan tak peduli, dengan hanya melambai-lambaikan tangan [kalo siang], dan pake tongkat lampu [kalo malam], menyuruh pengendara motor dan mobil agar cepat berlalu. Jakarta semakin macet dan menggerahkan dengan segala pembangunan jalur busway yang diharapkan dapat menanggulangi kemacetan. Mungkin yang ditanggulangi itu adalah kemacetan duit investor agar cepat balik. Bukan menjadi solusi mengatasi kemacetan yang membuat rakyat ini makin terpojok dengan kebijakan-kebijakan tata kota yang sering tidak populer.

“Jakarta, seandainya di kampungku profesi [talentaku] bisa dikembangkan atau terpakai, sudah pasti aku tidak akan tinggal di tengah-tengahmu”. ***