Kekol

[Orangnya selalu pengin dimanja. Mungkin kepengaruh dari dirinya yang seorang anak bontot alias bungsu. Dan tak sungkan membeberkan kedekatannya dengan sang ibu.]

 

ketika melihat gerak langkah mungilnya
serasa terserang demam asmara 30 tahun silam
rambut kekolnya milik rambut Ida dulu
maka kunamai dia; Kekol – kembang kol

lincahnya beda tipis, lebih anggun 30 tahun silam
penuh hitung dalam ucap, kami punya kenangan
villa cisarua, berakhir di ujung kabut pagi
tak lagi ada canda Ida di depan mata

kekol yang hadir, era paroh baya
di balik kaca, matanya lentik mengurai keberanian
ucapnya kadang sulit diartikan
tersembunyi dalam kebimbangan dirinya

tapi dia tetap selalu hadir dalam bola mata

MENGAKU terpesona kepada lelaki Batak, walau ia putri Jawa tulen. Tubuh mungil padat berisi, isyaratkan kalo kekol ini doyan makan yang enak-enak. Dia selalu merindukan pancake, entah kue macam apa pula itu.

Tapi, itulah Kekol, yang punya nama baptis, Emmanuella, karena dia seorang Katholik yang taat. Bertubuh mungil nge-gemasin, dengan mata lentik, yang mungkin juga kepengaruh karena udah lama pake kacamata minus. Senyumnya kadang terkesan nakal, memikat burung Onggang, si paruh besar. Suara kecilnya renyah mempipit, sedikit fals kalo udah cerewet. Tapi, akan menjadi galak kalo dia merasa dizolimi. Matanya kontan bulat dari balik kacamata, milik khas putri Jawa.

Ketika menyusuri malam Jakarta, Kekol dengan lincah menyetir mobil sedannya. Kadang aku turut menumpang, dan akan menjadi cerewet karena Kekol suka nekat nerobos. Namun, dia selalu berbaik hati, kalo gak terpaksa, mengantar aku sampai di depan rumah kost. Sering juga aku merasa cemas melepas dia nyetir sendiri menuju daerah Bekasi. Dan, bila kupertanyakan hal itu, dia cuma berujar; “Udah biasa, bang… Semasa kuliah juga dulu udah biasa pulang jam 2 dini hari”.

Kekol memang baru selesaikan skripsinya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) jurusan Sinematografi. Sepertinya, dia tidak minat jadi sutradara film karena major-nya sendiri memang penulisan skenario. Setidaknya itu pengakuannya. Konyolnya, dia bisa gamang kalo udah “keselimpet” pesona lelaki Batak. Aku sih enggak ge-er karena itu. Toh, setiap pribadi bebas menyuarakan kejujuran hatinya. Masalah rasa suka pada setiap orang, itu sangat relatif. Itulah Kelol. Bisa-bisa pacar yang sudah lama digaul boleh diputus. Aku pikir sih, itu suatu obsesi yang rada berlebihan.

Sepertinya, sekarang ini Kekol udah lebih merasa nyaman setelah ada berita gembira soal pengangkatan dirinya sebagai karyawan tetap. Akan semakin panjang hari-hari yang tentu kami lewati bersama nanti di kantor, in house salah satu grup televisi swasta. Akan semakin tinggi kesimpang-siuran perdebatan otak kami, yang kadang berbalut canda atau sinisme.

Mau dikata apalagi kalo memang Kekol maunya gitu. Orangnya selalu pengin dimanja. Mungkin kepengaruh dari dirinya yang seorang anak bontot alias bungsu. Dan tak sungkan membeberkan kedekatannya dengan sang ibu. Kadang katanya, mereka seperti berteman saja. Boleh jadi sih, sebab Kekol emang udah gak punya ayah, sama seperti diriku. Kekol sampe “bela-belain” otaknya yang kecil untuk menulis puisi untuk sang ibu:

kala pekat melumuri lembar-lembar hari…
dan langkah berbeban jadi kawan sejalan…
Engkau, ya perempuan termulia, rahim Sang Maha Cinta,
Kau temani setiap tetes peluh dan bongkah-bongkah kecewa…
kau ubah rintihan jadi harapan…
dan sampaikan itu semua ke Bapa….
terimakasih, ya mawar termulia,
kuatkanlah aku tuk dapat berkata;
‘jadilah padaku, menurut kehendakMu’.

[Emmanuella Mila]

Betapa indahnya Kekol menyanjung sang ibu yang sangat dia banggakan dalam kata demi kata puisinya itu. Kedekatan absolute yang tak terbagi kepada orang lain. Itulah Kekol, yang kini tak lagi kekol aku lihat. Semoga jalanmu nanti makin indah aku lihat. ***