Jakarta Tempo Dulu2Jakarta Tempo Dulu3Jakarta Tempo Dulu

Di lambung kapal ketika perjalanan “kalah berperang” di tanah rantau itu, aku merenung dalam diam yang bingung. Bagaimana aku bisa hidup di tanah orang Melayu itu nanti, sementara geliat senimannya tak pernah terdengar? Di manakah Tuhan ketika dera kegamangan hidup melanda diri?

BANYAK SUDAH nafas dan jejak kakiku tertuang di bumi negeriku, yang dulu begitu dibanggakan dengan sebutan gugusan Nusantara, Ibu Pertiwi, dan Tanah Air(ku) . Bangga karena terkenal sebagai belahan bumi yang kaya raya dengan segala potensi alamnya. Kaya akan tumbuhan tropis dengan segala rempah-rempah hingga membuat orang Belanda naksir untuk menaklukkan sebagai bagian dari negeri jajahannya. Limpah ruah akan kekayaan hasil pertambangan, minyak, batubara, emas, timah, dll – yang kenyataannnya hanya dinikmati oleh mereka yang bukan anak negeri.

Ketika, kaki remajaku pertama terjejak di Jakarta, Ibukota Negeri, akhir 1976, ada asa upah besar bagi anak rantau. Kesenangan yang di kampung begitu saja sirnah oleh pergaulan anak kota metropolitan yang baru mulai menggeliat. Masa itu, Jakarta masih menawarkan keteduhan. Jakarta masih asri dengan minimnya pencemaran udara. Jakarta masih 2 jutaan penduduknya. Jakarta masih polos, yang rada malu-malu mengembangkan diri menjadi kota kosmopolitan. Jakarta masih enak hingga pertengahan tahun 80-an. Aku begitu menikmati kampungnya orang Betawi ini sebagai asa meneduhkan diri sebelum Sang Khailik memanggil.

Aku tidak segan berjalan kaki dari jalan Slamet Riyadi, tempat SMA-ku mengasah ilmu, hingga jalan Kakap, daerah Rawamangun. Aku suka mampir di warung es campur yang kala itu banyak berjejer di sekitar prapatan Matraman. Jajanan masih begitu nikmat kurasakan. Teriakan-teriakan khas penjual minyak tanah, pedagang sayur, barang bekas, dan tukang bakso masih terngiang hingga kini. Aku yang datang dari pedalaman tanah Batak sono, sampai tidak terpikir lagi untuk kembali ke tanah leluhur. Aku begitu meng-amini lagu Koes Plus: Ke Jakarta aku kan kembali / walaupun apa yang kan terjadi… – Jakarta telah menyihir isme daerahku untuk mengakui tanah rantau ini sebagai kampung halaman kedua.

Ketika terbentur ke dalam tanggung jawab tuntutan istiadat, aku terpaksa takluk sebagai anak lelaki tertua di klan keluarga. Aku belum juga menikah dalam usia 32. Ayah dan ibu tak habis dirundung resah. Walau adik lelaki di bawahku sudah menikah dan punya anak, namun gelisah orangtua tak jua melahirkan bangga. Itulah tanggung jawab yang tidak bisa aku hindari, hingga 1991 dengan berlinang air mata, aku terduduk lesu di atas dipan kelas ekonomi KM Sinabung. Terlalu banyak suka-duka di tanah Betawi yang membuat diriku lumayan berarti, harus tertinggal. Entah sampai kapan aku melihatnya lagi. Tak terbayangkan bagaimana nanti hidupku di tanah leluhur. Ayah telah memboyong keluarga pindah ke Ibukota provinsi. Tuhan cuma memberi talenta sebagai seniman bagiku. Saat masa kanak-kanakku, sering aku dengar para tua-tua Batak melecehkan seorang seniman. Sampai ada ujar-ujar; Nadila parende – yang pengertian luasnya; bahwa seorang penyanyi itu cuma besar ngomong doang, tapi hidupnya melarat. Istilah seniman saat itu seperti terwakili oleh biduan untuk menyamaratakan kehidupan seorang seniman.

Di lambung kapal ketika perjalanan “kalah berperang” di tanah rantau itu, aku merenung dalam diam yang bingung. Bagaimana aku bisa hidup di tanah orang Melayu itu nanti, sementara geliat senimannya tak pernah terdengar? Di manakah Tuhan ketika dera kegamangan hidup melanda diri?

Ketika, jadinya aku bekerja sebagai kontraktor “ecek-ecek”, selalu tak bisa kuingkari rasa seniku yang terus bergolak. Banyak kejadian yang tidak kusukai dalam dunia proyek-proyek pembangunan dari pemerintah itu. Terlalu menumpuk dosa. Kami dapat proyek karena sogok dulu Bupati-nya. Kami kerjakan proyek sogok dulu pengawas lapangan PU agar tidak terlalu “berlebihan” dalam menulis laporannya. Aku bingung dan tak habis pikir, ketika mandor lapangan kami berujar; “Pak… Untuk mengerjakan irigasi kayak gini, kita harus pintar. Kita mencuri, tapi tidak ada orang yang kehilangan.” – Alaamak?! Apa pula maksudnya itu?

“Coba jelaskan, pak Ono,” sergahku bingung.
“Dana proyek ini kan, dari tingkat Menteri sampai Bupati sudah banyak “disunat”. Kalau kita kerjakan juga sesuai bestek, kita bukan rugi lagi, tapi malah nombokin,” jelas pak Mono, sok tahu betul.
“Begitu, ya? Lantas kita mau gimana?”
“Ya, kalo di gambar ukuran kepala bangunan 30 cm, kita bisa bikin pasangan di tengah 15 cm. Kan ini pasangan [bangunan] miring. Jadi tidak akan ketahuan kalau difoto. Toh, kepala pasangan tetap 30 cm,” urai pak Mono enteng, hingga membuat aku bengong mendengar teorinya.

Sebagai orang yang berjiwa seni dan selalu berusaha untuk jujur dalam berkarya, aku tidak tahan lagi dengan kehidupan para kontraktor yang penuh kebusukan dalam ber-KKN. Pantas saja negeri ini susah majunya. Korupsi sudah mengakar kuat hingga ke lapisan paling bawah. Gimana mau menebangnya?

Ketika, pernikahan menjadi “konpensasi” diri, tidak tahu arah yang akan dituju. Hanya karena dorongan kebanggaan bersosialisasi per-adatan budaya leluhur, kureguk juga nikmat tidur di samping seorang perempuan. Namun, alur kisah satu rumah tangga yang sakinah tidak aku dapatkan. Mengawali diri menjadi bagian dari hukum alam diperanak dan beranak-pinak, aku justru gamang karena tidak adanya penyaluran intensitas talenta diri sejatinya. Bahtera rumah tangga beberapa kali terancam bubar. Aku hanya bisa pasrah. Tapi Tuhan tidak ber-mau. Hingga kini masih aman-aman saja dan sepasang anak yang Tuhan berikan sudah beranjak dewasa.

Ketika, akhir tahun 2000 aku terpanggil kembali ke Jakarta, aku bingung dan sedikit takjub melihat hingar-bingar Ibukota negeri ini. Ke mana sirnahnya suara-suara penjual minyak tanah, pedangang sayur, dan barang bekas yang dulu begitu akrab di telingaku? Di manakah warteg yang selalu menyuguhkan tempe kering nan renyah, dan telor dadar tipis, namun mampu menciptakan kenikmatan sebagai lauk nasi? Warteg tidak lagi memiliki lang di mana para pengunjung bisa dengan mudah mengambil lauk-pauk tersaji. Warteg telah berubah jadi etalase, hingga mengurangi nikmat.

Ketika, memantapkan diri kembali berkarier di dunia seni, walau harus terpisah dari anak-bini, Jakarta semakin menyesakkan. Tingkat kriminalitas menjadi pemandangan sehari-hari. Kesemarawutan jalan yang kian tak terkendali. Janji para pejabat hanya sebatas ludah yang terbuang. Ketika rakyat ini menuntut janji kampanye, maka dengan se-enaknya memberi statement seakan dia itu tidak merasa bersalah telah ingkar. Sok smart dan politis lagi dalam memberi argumentasi di layar televisi. Pejabat, pengamat, politikus, pengacara, demonstran dan rakyat ini semua seakan berlomba jadi “selebritis” numpang nampang di televisi. Tapi, tidak memiliki rasa untuk menyentuh kaum marjinal.

Ketika, ketika, ketika… Masih banyak lagi. Tapi, kuakhiri dulu di sini karena pekerjaan kantor adalah prioritas. ***