Harrison Ford

Negeri ini bagiku adalah satu negeri simsalabim. Seseorang bisa dengan gampang menguasai beberapa bidang profesi sekaligus.

AKU SELALU kagum dalam kegamangan melihat “kehebatan” artis negeri ini, yang selalu bangga disebut para selebriti. Hampir semua selebriti negeri ini multi talenta. Jadi pemain film/sinetron, merangkap presenter, merangkap penyanyi, merangkap pelawak, merangkap komentator, dan bahkan bisa mendadak jadi penari (???).

Sungguh sangat patut dibanggakan kalau mereka benar-benar ahli, atau menguasai, atau mumpuni disemua bidang itu. Nah, jadi berabe karena terkesan dipaksakan alias aji mumpung. Tak mengherankan kalau yang muncul di semua saluran televisi hanya wajah yang itu-itu saja. Sungguh sangat membosankan dan memuakkan. Kayak tidak ada lagi manusia lain di negeri ini yang layak diorbitkan jadi selebritis sesuai talenta yang dimilikinya.

Negeri ini bagiku adalah satu negeri simsalabim. Seseorang bisa dengan gampang menguasai beberapa bidang profesi sekaligus. Dalam hal ini, aku bukan mau katakan, tidak ada orang yang Tuhan kasih multi talenta. Ada! Tapi, enggak kale dipaksa-paksain. Rusaknya, semua dagelan atau kekonyolan ini dimulai dari stasiun televisi itu sendiri. Persaingan tidak sehat di antara pengelola televisi suasananya sudah sangat ricuh. Televisi negeri simsalabim ini belum tersegmentasi. Masih mengekor keberhasilan salah satu acara televisi lainnya. Siapa yang salah? Pengusaha televisi atau tim kreatifnya? Susah menjawabnya. Sudah terlalu rundut [kompleks] semua bagai kumpulan benang kusut. Mungkin, hanya rumput-rumput di depan komplek televisi itu sendirilah yang tahu jawabnya. Karena OB aja, yang “suka-suka” masuk ke kamar kerja boss aja tidak tahu.


Selebritis Komentator

Alaa makjang! Ngeri kali aku menontonnya. Sangat-sangat tidak nyambung. Bisa-bisanya seorang pelawak mengomentari ajang pencarian bakat menyanyi. Konyolnya, komentar sang pelawak tentang seni vokal lagi. Apa urusan pelawak dengan tehnik menyanyi? Apa urusan pemain sinetron [ yang aktingnya sendiri dalam sinetron masih ancur-ancuran], jadi penyanyi untuk dijual kepada penonton? Mending kalau suaranya bangus. Ini bukan fals lagi, tapi filsss… Acara televisi negeri simsalabim ini memang sungguh membodohi rakyat.

Ada satu acara variety show yang membuat aku sungguh terhenyak, kaget dan tidak habis mengerti. Salah seorang komentatornya memposisikan dirinya jadi tuhan. Betapa arogannya! Bisa-bisanya dia menyuruh peserta untuk berdoa ke Tuhan, padahal dia sendiri sudah tahu ke mana posisi si peserta. Di posisi aman atau tidak. Si komentator yang menjadi tuhan itu sok bijak lagi dalam mempetuahi:

“Bagaimana perasaanmu sekarang [kepada peserta bernama F****]?”
“Deg deg-an, om…” sahut si F**** dengan kepala setengah mendongak karena dia memang buta.
“Bagaimana kalau malam ini kamu tidak aman, apa perasaanmu?”

Si F**** terdiam dalam wajah penuh kuatir. Emosi haru penonton terpancing, kasihan melihat F**** yang buta dengan raut muka seperti tak terima. Lalu sang “tuhan” komentator berkata lagi;
“Kalau begitu, kamu coba berdoa pada Tuhan.”
Dengan polos didera rasa takut, F**** berdoa, yang terlihat dari mulutnya yang komat-kamit. Penonton menahan nafas melihatnya. Sungguh trik penjualan rasa haru yang patut diacungin jempol. Si F**** usai berdoa. Wajahnya masih diliputi kecemasan. Lantas, dengan bangga dan arogannya si “tuhan” komentator berkata kalau doa F**** dikabulkan. Gila! Padahal, sebelumnya si “tuhan” komentator bersama rekan-rekannya yang lain sudah tahu kalau F**** sebenarnya masuk pada kelompok aman.

Betapa sombongnya orang ini telah memposisikan dirinya sebagai tuhan. Barangkali, benar juga ujar-ujar pak Muin si tukang ojek di dekat rumah; semakin tinggi populeritas seseorang, maka semakin tinggi pula arogansinya. Aku juga jadi ingat pada John Lenon, pentolan The Beatles, yang mengatakan dirinya lebih populer dari Yesus. Ujung-ujungnya, Si John yang arogan malah mati tertembak pengemarnya sendiri. Kwalat gak sih namanya itu?

Pada tulisan bagian pertama ini, aku masih berada pada suasana keprihatinan soal tayangan di televisi negeri ini. Aku sendiri tidak tahu, sebenarnya kapasitas KPI [Komisi Penyiaran Indonesia] itu sejauh apa sih? Apa cuma jadi mbeekk [suara kambing] yang terikat pada satu tiang? Ngembeekkk, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat oleh kepentingan sang juragan?

Tema ini kuangkat ke blog aku ini karena sudah lama terpendam dan selalu membuatku resah. Tadinya mau membahas semua ke-melencengan berkarya seni di negeri simsalabim ini, tapi karena menulisnya buru-buru oleh prioritas pekerjaan kantor, maka kusimpan dulu ide-ide tulisan lainnya. Masih banyak lagi. ***