imagesfilm-2.jpgHoror Goblokimagesfilm-2.jpg

 

Jor-joran bikin fiml hantu [horor] dengan streotype hantu yang itu-itu juga. Kalau hantu itu dikasih honor sudah kaya kale dia. Norak dan tidak membuat aku takut atau tegang.

AKU BARU SAJA didamprat ibu. Amarahnya begitu tinggi hingga membuat aku cuma bisa terdiam dan tertunduk. Persoalannya sangat sepele. Adikku yang baru duduk di kelas 4 Sekolah Dasar menghardik ibu, persis seperti tokoh anak-anak dalam peran di sinetron. Tangannya berkacak pinggang. Matanya melotot dengan ekspresi sinis. Rupanya dia minta tambahan uang jajan, tapi ditolak sama ibu.

Kok jadi aku sasaran ibu? Ya, karena pekerjaanku adalah penulis skenario. Ibu menuduh aku sebagai penyebab tidak mendidiknya sinetron-sinetron sekarang. Anak seusia adikku digambarkan sudah mulai naksir-naksiran. Membentak orang tua se-enak udelnya. Memperdaya temannya tanpa rasa kasihan.

“Kok, ibu marahnya ke aku?” rutukku tidak terima.

“Jadi kepada siapa lagi ibu marah?! Kenapa kamu tidak membuat cerita atau skenario yang mendidik?” selak ibu makin marah.

“Maunya aku begitu, bu. Tapi, produser dan programing televisi lebih suka yang begitu. Nanti kalau aku tidak mau nurut, bisa gak punya kerjaan?”

“Memangnya kamu tidak bisa kasih usul, apa?” Ibu tak mau kalah.

“Sudah, bu. Tapi alasan mereka, tontonan yang gitu-gitu disukai pemirsa,” balasku mencoba memberi pengertian. Parahnya, ibu tidak bisa dikasih pengertian. Aku maklum kalau ibu susah dikasih pengertian. Pekerjaannya sebagai guru tidak bisa terima melihat anak-anak didiknya menjadi pembangkang.

“Bilang sama produser dan programing tivi itu, kalau mereka akan jadi orang pertama masuk neraka. Siapa bilang sinetron-sinetron sampah seperti itu disukai masyarakat. Buktinya ibu tidak suka,” celoteh ibu melebihi pidato presiden.

“iya, iya… nanti aku bilang ke mereka. Tapi, seharusnya ibu jangan marah-marah gitu dong. Lebih baik ibu doakan aku agar kelak jadi produser. Nanti biar bisa bikin sinetron atau film yang seperti ibu inginkan.

Aku termenung dalam kamar. Bingung harus bagaimana? Melabrak produser dan programing tivi seperti permintaan ibu, atau masa bodo aja? Sebagai penulis cerita dan skenario memang aku sering diperhadapkan pada tanggung jawab moral. Maunya sedikit idealis. Tapi, aku tahu tidak akan dipakai produser lagi. Congek di kuping mereka sudah terlalu tebal sehingga tidak mempan lagi dimaki-maki orang.

Memang sungguh memprihatinkan melihat kreatifitas para sineas negeri ini terbelenggu oleh arogansi para produser cuma berorientasi pada keuntungan. Lihat saja imbasnya sampai ke produksi layar lebar yang gak ada mutu-mutunya. Jor-joran bikin fiml hantu [horor] dengan streotype hantu yang itu-itu juga. Kalau hantu itu dikasih honor sudah kaya kale dia. Norak dan tidak membuat aku takut atau tegang. Pakai sekwel lagi, kayak udah hebat saja. Udah gitu, sutradaranya masih setaraf sutradara sinetron dengan shot-shot “telor ceplok” alias master cover-cover, tak ada rasa dan kedalaman.

Ada juga yang mencoba sedikit idealis, tapi sutradaranya, yang juga ngeborong penulisan skenario, masih baru tahap pemula. Aku sih berharap para sutradara yang sedikit idealis ini bisa memberi warna pada film negeri ini.

Aku masih dalam perenungan diri. Seandainya aku jadi produser dan bikin film yang bernas, baik secara skenario, maupun tehnis filmis, kira-kira laku gak, ya? Aku juga lumayan kuatir karena penonton negeri ini belumlah menjadi penonton yang apresiasif. Masih sebatas penonton numpang lewat, kayak figuran-figuran numpang lewat di sinetron, sebagai penggembira, yang cuma butuh hiburan. ***