[sebuah cerpen]

Mata 1Lukisan KumuhMata 1

Penonton yang menjagokan amang Ronggur mulai bingung melihat pola permainannya kali ini. Kemenangan yang tadinya sudah pasti di depan mata mulai luntur tatkala pertahanan amang Ronggur mulai goyah.

 

 

GELIAT MENTARI pagi menunjukkan hari akan cerah. Udara lembab di pedesaan lembah terasa lebih hangat. Biasanya, bila musim dingin tiba penduduknya akan terlihat membungkus diri dengan sarung sambil berjalan. Tapi pagi itu, sepertinya semua orang di lembah seakan sepakat untuk tidak peduli pada jasa kehangatan kain lusuh, yang mungkin sudah tahunan menghangati tubuh mereka. Barangkali pula sudah jadi sifat manusia cepat lupa pada jasa setiap benda yang pernah menolongnya.

Lapo “Amang Domu” masih terlihat sepi. Itu memang selalu terjadi bila hari Minggu tiba. Beda kalau hari-hari biasa. Embun masih menempel di dedaunan, lapo sudah dipenuhi pengunjung. Lapo sederhana yang hanya berdinding separoh papan yang tak diketam. Atapnya pun seng tua kusam alakadarnya pertanda lapo itu sudah lama ada di sana.

Lapo Domu, begitu penduduk desa dan para pengunjung luar desa menyebutnya. Lapo ini sudah sangat populer dengan tuaknya yang bagus. Masih rada orisinil, tak begitu banyak dicampur dengan air. Menurut Togu, anak bapak Uda-ku, yang sepanjang hidupnya tak pernah tinggalkan desa, kepopuleran lapo Domu sudah merambah hingga ke seantero Rura Silindung. Bila malam Minggu tiba, pengunjung bisa meluber hingga ke luar lapo. Memang di luar lapo terlihat undung-undung, semacam gazabo tanpa payung.

Sebagai pendatang di lembah, walau leluhurku hingga generasi bapakku lahir di sana, tentu saja aku penasaran mendengar lapo Domu yang jadi buah bibir itu. Setahu aku, lapo tuak cenderung berkonotasi jelek. Tempat orang mabuk, main judi, dan bahkan kadang bisa berubah jadi tempat tawuran. Namun Togu membantahnya halus.

     “Kau akan banyak ketinggalan berita kalau tidak mampir di lapo Domu,” ujar Togu berpromosi, seperti begitu sakral lapo itu bagi penduduk desa.

Menurut Togu, usai lonceng gereja membahana ke seluruh lembah pertanda hari sudah pukul enam petang, lapo Domu sudah pasti diantre orang. Batasan usia pengunjung tak jadi soal. Hanya saja, mereka yang merasa masih remaja atau anak muda, sudah punya tempat khusus di “gazebo” samping lapo yang langsung berhadapan dengan hamparan sawah. Di sini kaum muda ini bebas melakukan apa saja. Biasanya, kalau tidak membicarakan perempuan yang akan ditandangi, mereka akan padu bermain gitar seraya menyanyi dengan paduan suara yang harmonis, enak didengar. Kalau pengaruh tuak masih setengah-setengah, nyanyian mereka masih seputar andung, atau ratapan. Namun bila pengaruh tuak sudah dominan, lagupun berubah riang. Mereka tak lagi mengenal rasa malu. Menari serampangan, bahkan ada yang sampai naik ke atas meja segala. Tak jarang pula berbuntut keperkelahian. Namanya juga sudah mabuk.

Sementara di dalam lapo yang disesaki meja dan bangku panjang, para tua-tua – mininal sudah menikah – lebih terlihat tenang dan teratur. Mereka ini biasanya selalu merasa lebih pintar dan tahu segalanya. Tak jarang, orang muda yang coba-coba berdebat akan terkena umpatan arogansi generasi tua.

     “Tahu apa kau akan hidup ini, hah?! Berakmu saja masih ‘bubur’ sudah mau menggurui aku!” Begitu selalu umpatan khas para generasi tua membungkam anak muda.

***

Malam makin turun. Lapo sudah dipadati pengunjung. Amang Domu, pemilik lapo, terlihat sibuk sekali meladeni. Dia hanya dibantu istrinya yang tampak sedikit dekil, mungkin karena belum mandi. Orang-orang di lembah memang sering mandi sekali saja dalam sehari. Dapat kumaklumi, karena aku sendiri tidak tahan mandi saking dinginnya udara.

Tuak di gelasku baru dua teguk aku minum, sementara Togu sudah mengisi gelasnya untuk yang ke-empat kali. Ketika aku tegur agar jangan terlalu banyak minum karena nanti bisa mabuk, dia malah mentertawiku. “Udara dingin lembah ini tidak akan membuatmu mabuk kalau baru meminum tujuh gelas,” sergah Togu.

Dari arah tempat para pemuda minum mulai terdengar nyanyian merdu. Di dalam lapo aku lihat beberapa orang sibuk membahas togel. Rupanya, masih ada saja orang yang nekat jadi bandar. Aku pikir, lebih baiklah lotre seperti ini dilegalkan. Bisa menambah pajak untuk pemerintah. Toh, urusan ke Sorga atau ke Neraka tanggung jawab masing-masing orang. Kalau mau ke Sorga, berbuat baiklah dan tidak ikut-ikutan main judi.

Tak jauh dari kelompok pembahas togel, aku melihat satu meja panjang dipenuhi orang yang sedang serius main judi kartu. Kelompok ini biasanya tidak mau diusik. Bisa-bisa kena damprat mereka yang sudah kalah banyak. Sedang di meja lainnya kulihat dua pasang pemain catur. Mereka cuma bertaruh, yang kalah bayar tuak. Lapo benar-benar penuh. Tapi, aku sangat heran melihat meja di sudut. Sejak aku duduk dan berinteraksi di lapo itu, meja di sudut tetap dibiarkan kosong. Pengunjung yang sudah tidak kebagian tempat duduk lebih memilih berdiri. Lagi-lagi Togu menerangkan, meja yang di sudut itu sudah dibeli seseorang yang disegani. Bah…?!

Meja yang persis di samping aku dan Togu duduk, sedikit rame dan ricuh. Kudengar mereka tengah berdebat tentang pergolakan politik negeri ini. Aku betul-betul kagum sekaligus geli dibuatnya. Mereka yang rata-rata berpendidikan rendah bisa memberi argumentasi jujur. Padahal, acuan mereka hanya sebatas berita di koran dan televisi. Kecanggihan tehnologi sekarang memang telah merubah dunia ini menjadi sempit.

     “Apa itu anggota dewan?!” Kudengar suara keras bapak yang lebih tua. “Kau jangan terlalu percaya dengan berita di surat kabar. Buat saya, mereka yang bangga disebut anggota dewan, wakil rakyat, tidak lebih dari orang-orang munafik! Mereka tidak pernah membela rakyat! Mereka cuma membela kelompoknya,” lanjut si bapak tua sengit.

     “Tapi, waktu pemilu kemarin kenapa kau ikut?” tantang lawan bicaranya.

     “Itu kecelakaan.”

     “Ahk, cammana kau bilang itu kecelakaan? Bukannya waktu itu kau yang paling hempot membela partai yang kau dukung?”

     “Itu dia yang kumaksud kecelakaan itu. Saya merasa ditipu. Setelah mereka jadi anggora dewan, mereka lupa pada janji kampanye. Itu yang bikin saya mangkel. Mereka buat undang-undang, tapi mereka sendiri yang tak mematuhinya. Mereka buat hukum, mereka juga yang melanggarnya. Menyesal aku bantu mereka waktu itu,” balas bapak tua. Nada suaranya mengandung penyesalan yang dalam.

     “Perjuangan demokrasi negeri ini cuma jargon dan untuk kepentingan orang-orang tertentu saja,” sergah lelaki muda, yang sejak tadi diam saja.

     “Aku setuju apa kata kau itu. Demokrasi yang kebablasan! Dikit-dikit demonstrasi, dikit-dikit tawuran antar kampung. Hukum di negeri ini seperti mandul. Mentang-mentang alam demokrasi, jadi semua orang bebas mau bertindak semau udelnya. Kebablasan kan itu?” ujar bapak tua. Nafasnya sedikit sesak karena terlalu banyak bicara. Teman-teman bicaranya terdiam.

Itulah salah satu atmosfir lapo yang aku tangkap. Walau terasa keras dan agak kasar mereka bicara, namun selalu diakhiri dengan kesepahaman yang bisu. Atau, mungkin juga mereka sudah terlalu lelah mendengar dan melihat para pejabat yang makin rakus mengkorupsi uang negeri ini. Jadi masa bo’do, tak peduli negeri mau ke mana arahnya.

Kualihkan pandanganku ke meja di sudut. Tampak amang Domu membawa seceret tuak dan dua gelas kosong, dan meletakkan di atas meja. Kemudian membuka papan catur dan mengatur bijinya.

     Ampara,” sergahku setengah berbisik pada Togu yang lagi asyik ngupasi kacang. “Kenapa pemilik lapo melakukan itu?”

     “Sudah waktunya yang menguasai meja itu datang,” balas Togu enteng.

Benar juga. Seorang lelaki kurus tinggi berpenampilan lebih rapi dari pengunjung lainnya memasuki lapo dengan langkah berwibawa. Beberapa pengunjung yang tertangkap matanya memberi hormat segan padanya. Kutaksir umurnya sudah kepala enam. Tapi masih terlihat tegap dan kekar. Diam-diam aku juga kagum melihatnya. Amang Domu dengan sigap menarikkan kursi untuk didudukinya.

     “Apakah dia akan main catu sendirian?” tanyaku bodoh, masih setengah berbisik.

     “Ahk, macam mana kau ini? Mana ada orang main catur sendirian? Dia sudah punya lawan tetap. Namanya amang Ronggur. Mereka selalu taruhan. Dia menjadi ladang pencarian uang amang Ronggur,” jelas Togu ringan seakan baginya itu sudah tidak perlu diherankan.

Aku hanya manggut saja mendengar penjelasan Togu. Namun hingga lapo hampir tutup, amang Ronggur tak juga menampakkan batang hidung. Aku jadi penasaran sekali dibuatnya. Aku ingin tahu kehebatan kedua orang yang disegani itu.

***

Kabut masih menyelimuti dedaunan. Udara terasa dingin hingga menusuk ke sumsum tulang. Pagi itu cuaca mengalami perubahan. Di dataran tinggi seperti desa di lembah, yang mirip kuali dikelilingi pegunungan, cuaca memang sering berubah-ubah tanpa aturan. Namun karena rasa penasaran semalam, aku sudah duduk di lapo tanpa ditemani Togu. Menurut cerita Togu, lelaki kurus bernama amang Ronal itu, setiap hari minggu akan seharian berjudi catur dengan amang Ronggur.

Jalan tanah menuju lapo masih lengang. Di dalam lapo sudah ada beberapa pengunjung dengan kopi panas di atas meja. Amang Ronal juga sudah duduk sendirian tanpa terusik pada pengunjung lain. Terlihat dia sibuk melinting tembakau. Kopi panas untuknya baru dihidangkan amang Domu. Letak kursi amang Ronal yang langsung merapat ke dinding lapo yang hanya separoh membuat dirinya lebih leluasa memandang ke luar. Hamparan sawah yang sudah menguning menjadi pusat perhatiannya. Itulah bisnisnya. Dia seorang makelar ijon, mantan preman di Medan, yang sudah pensiun di usia tua. Rupanya, lawan preman yang sejatinya hanyalah usia yang kian rapuh. Ada yang hidup enak dengan memanfaatkan hasil kejahatannya sebagai modal bisnis, tapi tak jarang juga yang justru menderita di hari tua. Tak punya apa-apa dan dilecehkan orang.

Perhatian amang Ronal yang mencoba hitung akan keuntungannya nanti dari hasil panen padi, seketika buyar oleh sosok tubuh yang melangkah tergesa di atas pematang sawah. Amang Ronal sangat mengenali sosok tubuh itu walau terbungkus kain sarung hingga ke atas kepala. Dialah sosok tubuh yang tak kunjung hadir semalam. Lalu kudengar suara pelan amang Ronal berujar senang.

     “Rupanya kau rindu juga tidak berjumpa dengan aku.”

Amang Ronggur sudah sampai di tepi jalan. Ternyata keinginan amang Ronal meleset. Amang Ronggur bukanya melangkah ke lapo. Sepertinya ia sedang bingung. Kemudian melangkah ke lain arah. Amang Ronal kontan bersingsut, setengah tergopoh ke luar lapo.

     “Hooiii! Amang Ronggur!!”

Amang Ronggur berbalik. Sarung yang menutupi kepalanya diturunkan hingga ke bahu. Tampak jelas wajah keras seorang lelaki baya dengan sorot mata tajam. Rambut ikal yang tak terurus dibiarkan melambai oleh tiupan lembut angin lembah. Amang Ronal melambai tangan memanggil. Amang Ronggu undur hingga ke depan lapo.

     “Sepertinya kau sedang buru-buru?” tanya amang Ronal setelah mereka berhadapan.

     “Ya. Anak bungsuku muntah berak. Aku harus segera mencari mantri Galung,” balas amang Ronggur. “Apa tadi kau melihat dia?”

     “Baru saja dia lewat naik sepeda. Tidakkah kau tahu sekarang hari Minggu?”

     “Hari Minggu?” Amang Ronggur berpikir seperti tidak menyadari. “Bagaimana aku bisa lupa? Tapi, tidak. Aku harus mendatanginya.”

Amang Ronggur berbalik dan melangkah.

     “Kau mau ke gereja?” Langkah amang Ronggur terhenti. Lalu berbalik sambil menatap tajam kepada amang Ronal yang bicara seperti mengejeknya.

     “Apa ada yang salah?” sinis amang Ronggur.

    “Hei, amang Ronggur! Kamu ini sadar tidak siapa dirimu? Belum lagi kau pijakkan kaki kotormu di halaman gereja, bisa bangunannya rubuh duluan karena tak sudi menerima orang-orang macam kita ini,” beber amang Ronal seraya tertawa kecil.

     “Tapi, aku harus bertemu dengan mantri Galung.”

  “Pasti dia tidak akan meninggalkan tugasnya di gereja,” sergah amang Ronal, coba mempengaruhi. Dia paham betul sifat lawan main caturnya itu yang mudah bimbang. “Ah, sudahlah. Lebih baik kita duduk di lapo sambil menunggu mantri Galung pulang.”

     “Sakit anakku parah,” balas amang Ronggur penuh kuatir.

    “Apapun alasanmu, matri Galung tidak akan mau. Tapi, kalau kau memang bernyali, pergilah.”

Amang Ronal pura-pura berbalik hendak masuk kembali ke lapo. Telihat amang Ronggur makin bimbang. Lalu buru-buru berkata;

     “Tugas mantri Galung kan untuk mengobati orang sakit?”

 Langkah amang Ronal tertahan di bingkai pintu lapo. Perhatianku begitu terpusat kepada kedua orang itu sampai lupa meminum kopi yang sudah dingin karena udara lembab. Kulihat senyum amang Ronal dihiasi kemenangan. Untuk sesaat ditatapnya lembut kepasrahan di wajah amang Ronggur.

     “Mantri Galung akan lebih suka mengobati orang yang sakit rohani ketimbang orang yang sakit fisik. Yakinlah. Anakmu tidak akan apa-apa hingga usai orang dari gereja. Jadi, daripada kau mempermalukan diri di hadapan orang-orang suci itu, bukankah lebih baik kita main catur sambil menunggu mantri Galung pulang? Taruhan kita lipat duakan dari yang biasa. Bagaimana?” desak amang Ronal, yakin sekali kalau lawannya itu pasti terpancing dengan taruhan dua kali lipat.

     “Kau yakin anakku tidak apa-apa sampai matri Galung pulang dari gereja?”

     “Aku memang bukan seorang mantri atau dokter. Tapi, semua orang tahu kalau terjadi serangan muntah berak, langkah pertama pengobatan adalah dengan memberi oralit. Kau saja yang tolol. Oralit kan sama saja dengan gula dicampur garam,” jelas amang Ronal, sok pintas sekali.

     “Kenapa bukan dari tadi kau bilang begitu?”

     “Itu juga karena ketololanmu. Kau terlalu ketakutan. Sudahlah! Mari kita ke lapo. Sudah tiga hari kita tidak tanding. Kali ini, aku punya firasat akan menang melawanmu. Aku sudah dapat rumus baru,” goda amang Ronal sambil menarik tangan amang Ronggur memasuki lapo. Nafasku tertahan. Rasa penasaranku sebentar lagi akan terpuaskan.

Pengunjung lapo makin bertambah. Ceret dan botol tuak mulai dihidangkan. Melihat kedua musuh-berbuyutan sudah duduk saling berhadapn sambil mengatur biji catur, para pengunjung mulai berbisik-bisik. Mereka sudah sibuk membicarakan jagoan masing-masing. Taruhan samping pun digelar. Tapi, lebih banyak yang pro amang Ronggur. Karena dari ratusan temu tanding mereka, amang Ronal hampir tidak pernah menang. Dia hanya hobby saja. Sedang amang Ronggur sudah pernah mewakili desa dan menjadi juara catur se-kabupaten.

     “Silahkan buah putih jalan duluan,” ujar amang Ronggur setelah langsung meneguk tuak satu gelas, tuntas.

     “Baik!” balas amang Ronal, lalu menggeser pion di depan raja dua petak.

Pertandingan awal terlihat masih lamban, tak ubahnya pemain tinju yang masih dalam tahap awal penjajakan permainan lawan. Amang Ronal dan amang Ronggur masih terlihat sibuk mengatur pertahanan dan strategi serangan. Namun tidak berlangsung lama. Menit-menit berikut permainan makin seru dan menegangkan. Aku yang cuma sedikit mengerti permainan catur kagum melihat permainan mereka yang penuh perhitungan. Para penonton yang ikut taruhan di samping mulai kasak-kusut tanpa mengeluarkan suara. Itu memang sudah semacam peraturan yang tak tertulis.

Satu kuda, satu peluncur, dan tiga pion milik amang Ronggur, tumbang oleh keganasan ster amang Ronal. Sedang ia baru memperoleh saru kuda dan empat pion. Penonton yang menjagokan amang Ronggur mulai bingung melihat pola permainannya kali ini. Kemenangan yang tadinya sudah pasti di depan mata mulai tiarap tatkala pertahanan amang Ronggur mulai goyah. Amang Ronggur sendiri bingung menyadari permainannya kali ini begitu buruk.

     “Skak…!!” seru amang Ronal sambil menyorongkan peluncur menusuk langsung ke depan raja milik lawan.

Amang Ronggur kaget melihat serangan yang tak terduga itu. Ia terpana. Otaknya mulai diperas untuk menyelamatkan rajanya. Satu-satunya cara hanya dengan mengorbankan kuda yang tinggal satu. Itupun masih berbahaya karena kuda milik amang Ronal sudah berjaga, siap menerjang kuda yang akan dikorbankan.

Mata amang Ronggur seperti bara menyala menghitung petak-petak papan catur untuk menyelamatkan rajanya. Peluangnya terlalu kecil. Namun kuda harus tetap dikorbankan. Dengan begitu ster bisa mengawasi raja. Itulah keputusan akhir diambil amang Ronggur dengan harapan, satu langkah saja peluang diberikan lawan, dia masih bisa menyusun pertahanan. Perkiraannya, kuda amang Ronal akan langsung menerjang kudanya.

Ternyata, amang Ronal tidak membunuh kuda yang dikorbankan amang Ronggur. Ia malah memacu kuda mengintai ster dan benteng amang Ronggur.

     “Betapa bodohnya!” Rutuk amang Ronggur membatin. Dengan pola serangan lawan seperti itu sudah pasti keselamatan rajanya sulit dipertahankan. Grand Master kelas dunia pun tak akan sanggup menutup serangan kuda amang Ronal.

Nyali amang Ronggur kontan ciut. Harapan untuk memenangkan taruhan besar bagai bintang tujuh, puyeng, menari-nari di benaknya. Debar jantungnya tak lagi irama kesehatan. Wajah pias anaknya yang sakit berpendar membayang di pelupuk matanya. Uang untuk menebus obat yang baru dipinjam dari tetangga sebentar lagi akan berpindah ke kantong lawan.

     “Hoi, amang Ronggur! Giliran kau sekarang!” sentak amang Ronal membuyarkan lamunan lawannya.

Di bawah meja tangan amang Ronggur terkepal menahan amarah. Nafasnya mulai terdengar mendengus. Para penonton di dekatnya satu per satu bergeser duduk dengan beragam alasan. Ada yang bilang mau buang air kecil, ada yang pura-pura minta tambah tuak sambil bersiul-siul berlalu. Aku yang duduk di sebelah meja tanding catur terus memperhatikan reaksi amang Ronggur. Wajah legamnya tampak membeku.

     “Tiiidaaaakkk…!!!”

Tiba-tiba tangan amang Ronggur terayun ke atas meja. Seketika suasana lapo berubah heboh. Suara gelas, botol, dan papan catur serta biji-bijinya tumpang tindih berhamburan ke lantai tanah. Kemudian, tangan amang Ronggur mencengkram keras kemeja amang Ronal.

     “Kau iblis, amang Ronal!” geram amang Ronggur penuh amarah. “Kalau tadi kau tidak merayu, obat anakku sudah pasti kudapat! Orang-orang boleh takut dan segan memandang kau mantan jagoan di Ibukota provinsi. Tapi aku, tidak!”

     “Kau ini kenapa?” suara amang Ronal tenang, namun mengandung nyali besar. “Pertandingan tadi sah, bukan? Mengapa kalau aku menang, kau begitu emosi? Padahal, disaat aku kalah, aku selalu menghormati kemenanganmu…”

Repleks tangan amang Ronal terayun, telak mengenai dagu amang Ronggur. Bhuukh! Tubuh amang Ronggur terjungkang ke belakang menabrak meja. Amang Ronal tak berhenti. Diterjangnya amang Ronggur bagai banteng mengamuk. Amang Ronggur berusaha meronta, namun pitingan lawan telah mengunci jalur tenaganya. Kemarahan tertahan melihat sikap amang Ronggur yang sok petentengan telah sampai di ubun-ubun amang Ronal. Tak ada lagi kendali diri. Tangan amang Ronal dengan cepat meraih pecahan botol tuak dan langsung menghujamkan ke tubuh amang Ronggur yang sudah tak berdaya. Aku terkesima. Bengong. Tak tahu mau berbuat apa oleh kejadian yang begitu cepat. Kurasakan tubuhku bergetar hebat melihat darah berbuncah dari tubuh amang Ronggur. Lenguhan rasa sakit terdengar lemah. Lalu diam membisu. Keringat dingin membasahi wajahku yang hanya bisa melongo melihat kepergian amang Ronal meninggalkan lapo dengan langkah tenang. Semua pengunjung lapo seperti orang yang terhipnotis, tak berani beranjak mendekati tubuh amang Rongguh yang sudah terdiam kaku. Suasana beku baru mencair ketika istri amang Domu yang baru muncul menjerit histeris melihat ada mayat di laponya.

***

Di langit ada mendung. Senja yang buram kupandangi dengan kepiluan. Lonceng gereja penanda pukul enam sore menjadi lonceng kematian terdengar di kuping. Tak lagi ada iring-iring langkah menuju lapo. Seisi desa lembah terpana, tafakur dalam perenungan diri. Aroma gurih dari buih tuak telah melahirkan kebusukan, tak layak untuk direguk.

Dari kejauhan, dendang dan ratap seorang janda semakin menorehkan sesal pada ungkap-ungkap pada lapo. Sang preman tua meringkuk di balik teralis besi dingin. Dosa perbuatan harus dibayar mahal.

     “Begitu lama kau memandangi lapo itu. Dia akan tetap di sana, menjadi lapuk dan terlupakan.” Aku dikejutkan suara Togu yang sudah berdiri di sampingku.

     “Yaah… Di situlah wadah komunitas desa. Sayang, jadi tercemar oleh ego dan arogansi diri,” balasku lemah.

 Lapo tuak sepi. ***

  
Catatan:

  • Lapo            : Warung.
  • Uda              : Panggilan bagi adik bapak kita.
  • Ampara        : Panggilan hormat yang lebih tua kepada yang lebih muda, di

                            mana seharusnya menurut kekerabatan yang lebih tua harus

                            memanggil abang kepada yang lebih muda.

  • Amang         : Bapak.
  • Andung2      : Ratapan.
  • Hempot        : Sok sibuk.

[Cerpen ini sudah pernah diterbitkan dalam Kumpulan Cerpen Pilihan, terbitan Progres, Jakarta @ 2004, dengan judul cover buku; Irama Tembang Purba. Ketika kembali saya tulis untuk blogku ini, telah kulakukan penyuntingan kembali].