potret diriLampu Natal

[puisi ini saya tulis sekitar tahun 80-an, dan dipublisir dalam bentuk Bunga Rampai, yang diterbitkan kelompok kerja PERPENA – Persekutuan Penulis Nasional, dibawah arahan penerbit Bina Kasih].

Di jalan-jalan kulihat pohon Natal
Mirip yang ada di gereja…
Gemerlap kelap-kelip lampu berwarni
Takjub dalam keprihatinan

Di rumah-rumah kulihat pohon Natal
Juga mirip yang ada di gereja…
Kado-kado tukar menukar, serta kata saling memaafkan.
Sekali setahun tak apalah…

Di cafe, bar, diskotik dan tempat dugem lainnya,
tak ketinggalan berhias pohon Natal…
Dansa-dansing aroma alkohol, tertawa dalam kemunafikan diri…

Aku merenung…
Coba meraba atmosfir saat Yesus dilahirkan di kandang domba…
Tak ada pohon Natal…
Pesta Ulang Tahun siapakah yang aku rayakan
setiap tahun bulan Desember?
Bukankah DIA Mesias?
Bukankah DIA Putra Allah?
Bukankah DIA Raja Penebus Dosaku?
Hatiku belum bersih…

“Selamat Ulang Tahun Yesus, Tuhan yang turun ke dunia…”

[Ini kadoku… hati yang penuh percaya kepada-MU…]