Gambar Natal

[setiap Natal menjelang, hati selalu bias pada kenangan masa kecil. Natal selalu indah dikenang ketika kepolosan hati seorang anak memaknai Natal sebagai pesta yang penuh kebahagiaan]

Yesus & manusia

EXT. HALTE BIS JAKARTA – MALAM.

RENAI gerimis menitik satu-satu. Aku masih dalam teduhan halte bis. Jalanan di depanku lumayan basah, sehingga menimbulkan cipratan kala kendaraan melindasnya. Aku tak peduli. Hatiku terasa sesak oleh ketidak-pastian hidup. Baru tiga bulan aku kembali ke Ibukota negara ini setelah sepuluh tahun kutinggalkan. Banyak yang berubah. Banyak yang tidak kumengerti. Jakarta begitu asing, bukan seperti yang pernah kucumbu dahulu.

Desember 2000. Seminggu lagi sudah hari Natal. Apa yang akan kukirim kepada istri dan anak-anak di kampung? Honor yang dijanjikan setelah usai 13 episode aku tulis skenario dari ceritaku yang menang sayembara, tidak bisa terlalu diharap. Lelaki paroh baya yang akrab aku panggil “lae” seperti tidak mau tahu dengan apa yang sedang aku rasakan. Dia malah sibuk sendiri bikin film layar lebar dan persiapan pernikahan putrinya di Bali.

Sonang ni borngin nai… Senandung lagu ini berkeriapan dalam jiwa, makin menambah remasan pedih di hati. Rasanya, aku tak sanggup untuk mengikuti Natal kali ini. Tak terbayangkan bagaimana kesedihan kedua anakku pajojorhon di gereja tanpa kehadiran ayah. Atau, bahkan tidak pakai baju dan sepatu baru.

Uju ro Yesus i… Tak bisa kutepis, irama lawas itu terus mengalun di jiwaku seakan mencoba memberi kekuatan. Bayang-bayang masa kecil berpendar memenuhi benak. Tak peduli derai hujan yang kembali deras. Kusandarkan tubuh ke tiang penyangga halte. Bias kilau lampu-lampu hias jalan bertema Natal mulai kabur oleh hujan yang kian mengguyur. Kucoba untuk bertabah dan hanyut pada kenangan.

FLASHBACK

CUT TO

EXT/INT. KOTA TARUTUNG – ANOTHER DAY.

SEKITAR TAHUN 60-an. Udara di lembah Silindung terasa dingin. Sepagi itu, kabut melayang rendah di atas dedaunan yang telihat dilaburi butir-butir air. Aku sudah tidak sabar menunggu malam untuk pajojorhon [liturgi; mengucapkan hafalan Alkitab] di gereja. Setiap perayaan Natal tiba semangatku memang selalu melebihi semangat 45. Kalau biasanya susah disuruh ibu atau kakak-kakak, kali ini aku akan selalu dengan sigap melakukan. Aku takut diadukan sebagai anak nakal kepada guru sekolah minggu. Bisa-bisa kue hadiah pajojorhon tidak diberikan. Atau, aku selalu takut kalau ibu mengancam tidak akan membeli baju dan sepatu baru.

Masa kecilku memang tidak susah. Ayah seorang kontraktor yang lumayan terpandang. Setiap Natal tiba, kami anak-anaknya selalu punya baju baru yang bagus-bagus. Jadi, aku tidak pernah takut gak punya baju dan sepatu baru yang menjadi kebanggaan setiap anak untuk dipakai pajojorhon.

CUT TO

EXT/INT. GEREJA – MALAM.

Sebelum perayaan Natal anak-anak sekolah minggu dimulai, kami biasanya saling memamerkan baju dan sepatu. Tapi tidak saling iri. Rasanya Natal tidak membuat kami untuk saling membenci. Natal selalu mendatangkan kebahagian yang tiada tara. Penuh sukacita bila ikut menghias gereja, walau cuma bermodal ranting-ranting pohon pinus yang ditancap-tancapkan ke batang pohon pisang. Hiasan lampunya pun cukup dengan lilin-lilin. Namun tetap bahagia biarpun gereja hanya diterangi beberapa petromaks. [sekarang, aku rindukan itu].

Di antara teman-teman, aku terbilang paling berani dan egois. Sebelum giliran pajojorhon dipanggil, aku sudah mewanti-wanti teman agar tidak berdiri dekat gaba-gaba [pohon terang]. Itu tempatku! Aku akan selalu bangga pajojorhon kalau berdiri persis di samping pohon terang. Gayaku pun belagak sekali, dengan kedua tangan ke belakang dan badan setengah dimiringkan. Aku sangat menyukai aroma pohon pinus. Setiap kali mencium aroma pohon pinus pasti suasana natal yang melintas di benakku. Begitu sugestifnya aroma ini hingga kelak aku dewasa menjadi kerinduan yang begitu dalam.

BACK TO REALITY

EXT. HALTE BIS JAKARTA – MALAM.

Hujan masih deras. Biskota yang kutunggu belum juga muncul. Rasanya memang aku lagi tidak ingin beranjak. Masih terlalu galau hatiku. Nostalgia masa kecil kian membuat aku sedih, teringat keberadaan kedua anakku yang akan merayakan Natal. Dalam kegundahan, aku hanya bisa menatap langit gelap, berharap Tuhan mengerti kesedihan hati.

Holan dua na dungo dope… Aku terkejut. Sayup kudengar suara siul pengemis yang lewat menyenandungkan lagu itu. Langkahnya yang ringkih terus melangkah menerobos derai hujan. Tidak seperti biasa. Pengemis selalu menadah tangan untuk mengemis. Kenapa pengemis ini tumben ceria? Pikirku, sedikit mengalihkan kegundahan. Aku perhatikan ditangannya ia membawa kresek plastik berisi barang yang berbalut kertas kado. Pantes aja! Pengemis itu pasti baru mengikuti salah satu perayaan Natal. [pengemis aja bisa bahagia di saat Natal tiba].

Aku melenguh. Bis yang aku tunggu datang. Hujan telah berhenti. Malam telah larut. Aku duduk persis di belakang sopir. Mataku nanar memandangi lampu-lampu hias bertema Natal sepanjang jalan. Aku rindu aroma gaba-gaba pinus… Tapi, saat ini semangatku pada Natal, entah terkurung di mana. Aku cari. Tak jua mampu menyentuh rasa syukurku… Aku tak peduli lagi!

CUT TO

INT. MALL CITRA LAND – SIANG.

Perempuan itu. Namanya, Niken Maria Pratiwi. Aku selalu memanggilnya “Niken”. Dulu, dia masih banyak belajar dariku soal tulis menulis, walau dia lulusan salah satu sekolah tinggi publisistik. Waktu itu kami masih sama-sama berkerja di majalah Rohani. Niken masih polos dengan keremajaannya, dan akan menangis tak henti kalau sakit giginya kambuh.

Kami bertemu di foodcourt mall bilangan Grogol itu setelah dia menelponku. Niken telah menjadi redaktur senior dan kepala devisi Jakarta. Sudah punya mobil dan juga mengelola biro iklan miliknya. Dia sudah menganggap diriku sebagai abangnya sendiri. Niken sangat bangga menikah dengan orang Batak. Suaminya tidak pernah cemburu bila kami sering makan bersama. Suaminya tahu bagaimana sejarah kedekatan hubungan kami.

Usai makan sambil ngarol-ngidul ngobrol, Niken mengajakku ke toko pakaian. Katanya mau beli baju Natal untuk “keponakannya”. Aku menurut saja, walau kegundahan semalam kembali berbuncah. Anakku belom punya baju baru untuk perayaan Natal? Ah, sudahlah!

Tiba di toko baju Niken menyuruhku untuk memilih. Aku terdiam dalam bingung. Aku bilang, aku tidak mengerti maksudnya.

Kan abang yang tahu ukuran kedua ponakanku yang di Medan,” jelas Niken seraya tersenyum geli melihat kebingunganku.

“Ponakanmu? Emangnya kamu punya saudara di Medan?” tanyaku konyol.

“Kedua anak abang, kan ponakanku juga.”

“Ah! Gak usahlah, Nik…”

“Abang gak perlu ragu. Berkat yang aku dapat akhir tahun ini sudah lama aku ingin bagikan kepada “ponakanku” yang di Medan itu. Ayolah. Terserah abang mau pilih baju yang kayak apa,” tutur Niken meyakinkan.

Penuh haru, aku lalu memilih baju bagus untuk kedua anakku. Setelah itu, Niken masih membeli buku-buku bacaan rohani untuk kedua anakku. Hal itu makin membuat aku terharu. Saking senangnya membayangkan kedua anakku akan memakai baju baru saat perayaan natal, aku lalu bilang ke Niken:

“Niken, adikku… Lebih baik kamu saja yang kirim ini ke “kakak”mu di Medan. Biar dia sekalian kenal sama kamu.”

Tadinya Niken ragu. Tapi, menurut aku itu lebih baik, ketimbang nanti istriku mikirin yang negatif. Dan, Niken pun bersetuju dengan usulku. Sungguh baik “adikku” yang satu ini pada aku. Dari pertama dia kukenal tak ada perubahan. Sayangnya, saat ini kami sudah bertahun tidak ketemu dan saling kontak walau berada dalam satu kota. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Ada rahasia yang mungkin tidak mau Niken ungkapkan ke aku. Karena, setelah barang itu sampai di Medan, istriku bukannya senang. Dia mengamuk oleh kecemburuan yang tak beralasan menurutku. Menurut pengakuan istriku, semua barang yang Niken kirim langsung dibakar. Oh, bodohnya…

Oh, Natal! Di manakah sengatmu? Orang kok jujur dicemburuin? Yang aku reka-reka, menurut pengakuan istriku, ia pernah melabrak Niken yang baik via telepon. Ia mendapat telepon Niken dari majalah tempat dia bekerja. Mungkin gara-gara inilah Niken membuat jarak di antara kami. Entahlah?

CUT TO

INT. RUANG KERJAKU / KANTOR JAKARTA – SIANG.

Senin, akhir November 2007. Sambil mendengar lagu-lagu Koes Plus dari komputer, aku menyelesaikan tulisan ini. Tahun ini aku akan mudik. Merayakan Natal bersama istri dan kedua anakku, setelah beberapa tahun merasa hampa dengan Natal. Entahlah tahun ini… Di benakku selalu terbayang Natal masa kanak-kanak di lembah Silindung, Tarutung. Aku rindu aroma gaba-gaba pinus… Aku rindu rumbai umbul-umbul dan gerai-gerai kertas krep. Aku rindu lagu; Sonang Ni Borngin Nai… “Selamat Ulang Tahun, Yesus Kristus” – Freeze.

T A M A T