[dari sebuah permenungan diri]

Kartu Natal 2

Aku sungguh tidak peduli akan tanggal tersebut sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, karena yang terpenting buat aku hanya IMAN.

NATAL yang jatuh setiap tanggal 25 Desember dan akrab dikenal sebagai kelahiran Tuhan, Yesus Kristus, selalu memunculkan beragam situasi. Yang mengimaninya sebagai kelahiran Yesus yang manusia Illahi, tentu saja moment ini merupakan yang patut disyukuri. Dirayakan seturut pemahaman masing-masing. Bagi mereka yang menolak, sudah barang tentu sibuk membuat dalil-dalil, bahwa sesungguhnya Natal itu bukan ajaran dari Alkitab. Jadi, kenapa harus menjadi salah satu perayaan umat Kristen?

Sudah terlalu banyak penafsir, pemikir, bahkan penghujat yang menyibukkan diri untuk pembuktian tanggal “kramat” di bulan Desember itu. Segala sejarah, latar belakang, dan adat istiadat setempat dipelajari [capek-capek amat sih?], hanya untuk mengatakan bahwa Natal itu sesungguhnya tidak ada. Tanpa disadari bahwa mereka sesungguhnya hanya ingin membenarkan diri dan pemahamannya saja.

Bagiku itu semua tidaklah berarti! Kenapa aku harus repot mikirin pandangan orang lain, yang belum tentu juga dia benar? Mau Yesus itu lahir tanggal 25 Desember [tahun masehi], mau tanggal 22 Januari seperti tanggal kelahiranku, atau tanggal berapa pun itu, kenapa aku harus pusing mikirin itu? Aku sungguh tidak peduli akan tanggal tersebut sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, karena yang terpenting buat aku hanya IMAN. Yesus adalah Juruselamat! Tanggal tidak akan membuat imanku pada hakikat kehadiran Tuhan Yesus Kristus menjadi kosong, atau tidak berarti. Kalau orang lain mengatakan; Natal berasal dari kata Latin yang berarti kelahiran, maka kelahiran Yesus sudah seharusnya tiap hari “kurayakan” dalam hidupku. Jadi gak perlu pusing mempertentangkannya. Imanku biarlah kunyalakan sendiri, dan iman orang lain dinyalakan sendiri-sendiri pula.

Persoalan yang kerap mendera otakku yang kecil, kenapa perayaan Natal lebih heboh ketimbang perayaan Paskah? Sebagai penganut Kristen, Paskah sering diartikan sebagai hari ‘kemenangan’. Hari dimana Tuhan Yesus bangkit dari kematian sebagai kerja nyata penebusan dosa manusia. Terserah mau percaya atau tidak, itu urusan masing-masing iman. Toh, agama apapun itu sama-sama mengimani bahwa hari kiamat itu ada. Jadi, nanti saja semua kita buktikan bersama-sama, ya! Gak perlu ngotot dengan segala pembuktian dalil-dalil itu. Mana ada manusia yang sempurna? Kalo sampai ada yang mengaku sempurna, marilah kita buang jauh-jauh semua agama itu. Bila kesempurnaan sudah ada di dunia ini, maka di manakah tempatnya Tuhan? Bukankah Dia dipercaya pemilik kesempurnaan itu?

Natal pada akhir-akhir zaman ini kecenderungannya sudah lebih mengarah ke perayaan yang begitu seremonial, “hura-hura”. Baju baru, penampilan baru, dan makanan yang enak-enak. Perayaan pun banyak digelar di hotel-hotel berbintang. Boleh-boleh saja! Namun, adakah sedikit saja dalam benak orang-orang yang merayakan Natal secara berlebihan itu, bagaimana kehidupan gelandangan, pengemis, dan orang miskin lainnya? Sudahkah kita melakukan perenungan diri, apa saja yang telah kita capai dalam satu tahun berlalu, bukan semata karena kehebatan kita? Pernahkah kita merenung kalau sesungguhnya kita ini hanya seonggok ciptaan Tuhan? Kalau sudah mati akan kembali menjadi tanah dan debu. Apakah kita memiliki thanks giving kepada Tuhan?

Natal yang telah menjadi moment perayaan umat Kristen seluruh dunia memang bermula dari budaya wong bule seturut zaman kakek moyang mereka dulu. Tapi, akan lebih bermakna kalau Natal kita sikapi sebagai perenungan ketimbang mengadakan pesta hura-hura, apalagi sampai berlebihan.

Aku malah lebih setuju kalau Paskah juga mendapat porsi seperti perayaan Natal. Di mana-mana pun kemenangan itu selalu dirayakan dengan kegembiraan, bukan kesedihan seperti yang dipertontonkan perayaan Paskah selama ini. Aku memang bukan seorang theolog. Hanya seuntai pemikiran awam yang lugu, yang selalu berusaha menyalakan api iman. Aku selalu mengagumi kata-kata Yesus; bahwa manusia itu harus seperti anak kecil. Lugu, sederhana dalam berpikir, dan selalu ingin tahu. Bukan menjadi yang sok pintar, sok menggurui, dan berlagak paling benar. Perayaan-perayaan agama sudah seharusnya kita kembalikan pada esensi ajaran Firman Tuhan seutuhnya.

Mungkin aku mau menyodorkan diri sebagai salah satu pengagum Bunda Teresa, maka kuungkapkan dalam bentuk puisi suka-suka:

Bunda Teresa hanyalah pensil di tangan Tuhan
Tercepit di antara jemari lembut Sang Khailik
Pasrah dalam diam yang tenang

Ketika tangan lembut itu mulai menggores dalam irama kasih,
terbentuklah wujud sesuai yang diinginkan Sang Pencipta

Pasrah dalam tangan Tuhan,
biarlah hidup kita ini dibentuk sesuai rencana-Nya,
sehingga keseharian kita melahirkan bentuk-bentuk
seperti yang diinginkan Allah.

Biarlah Natal tahun ini menjadi anugerah
pembentukan diri kita.
Amen…

SELAMAT MERAYAKAN NATAL 2007