TermenungBuanaTerang

[Adalah lebih baik bila kita mau belajar dari yang telah lalu. Berpikirlah bahwa hari, minggu, bulan, dan tahun selalu melahirkan kemajuan dalam setiap gerak hidup kita]

Desember 2007

DISETIAP akhir tahun selalu saja ada orang melakukan perenungan diri dengan apa yang sudah dilihat, didengar, dan dirasakannya sepanjang tahun. Siklus kehidupan selalu berubah. Kadang bahagia, kadang nestapa, dan kadang sangat membosankan. Bagi mereka yang suka membuat perenungan diri, tentu saja punya catatan untuk lebih baik tahun yang akan datang.

Akupun suka melakukan perenungan akhir tahun. Biasanya, aku sendirian dalam kamar dengan hanya diterangi sebatang lilin. Lalu mengucap syukur pada Tuhan untuk segala Kasih-Nya sepanjang tahun.

Banyak hal telah terjadi. Setiap detik kehidupan selalu melahirkan yang baru. Setiap pikiran bekerja sehari-hari selalu memunculkan rencana dan pengharapan. Dalam kehidupan terlalu banyak iming-iming yang hendak kita capai. Kadang berhasil, kadang malah menyakitkan. Tinggal bagaimana kita menyikapi. Aku selalu berkeyakinan bahwa segala sesuatu ada waktunya. Jadi tidak terlalu ngotot untuk mengejarnya. Mengalir! Itu yang selalu coba aku usahakan dalam langkah-langkah hidupku.

Catatan Untuk Negeri

Sepanjang yang aku lihat, dengar, dan rasakan, negeri tercinta ini masih stagnan. Pergerakan laju perekonomian masih jalan di tempat dengan masih sempitnya lapangan pekerjaan. Pemberlakuan hukum samasekali tak memperlihatkan taringnya. Masih saja rakyat jelata menjadi korban penguasa dan orang berduit. Rasa saling mencintai, menghormati, dan menghargai perbedaan masih sebatas wacana.

Ketika menumbangkan Orde Baru, teriakan yang paling lantang adalah menciptakan iklim demokrasi. Tidak ada lagi kekuasaan satu arah. Rakyat harus lebih dilibatkan dalam menata negara ini. Rakyat bangsa ini tidak lagi berada sebagai pelengkap penderita. Namun lebih punya kontribusi untuk memajukan negara bersama-sama pemerintah. Itulah impian itu!

Yang terjadi dengan demokrasi malah kebablasan. Di mana-mana anak negeri sering terlihat seperti tidak punya nurani lagi. Selalu ingin memaksakan kehendak. Tidak ada Pilkada di negeri ini yang tidak memunculkan kericuhan. Berbeda pendapat sah-sah saja, coy! Tapi bukan menjadi anarkis. Punya komunitas kelompok boleh-boleh saja, namun perbedaan harus dihargai. Bukan menjadikannya musuh yang harus diperangi. Karena setiap anak negeri wajib hukumnya; bersaudara! Demonstrasi, silahkan saja. Tapi benar-benar keluar dari nurani demi kebaikan seluruh anak negeri. Bukan karena ditunggangi kelompok tertentu demi ambisi mereka.

Aku selalu miris melihat berita di televisi, saudaraku anak negeri seperti kerasukan setan dalam melakukan aksi demonstrasi. Mahasiswa mendemo penguasa kampus, malah merusak prasarana perkuliahan. Buruh juga bertindak hal yang sama. Kelompok Pilkada malah lebih bringas. Apa kesalahan benda-benda itu? Kalau hati sudah reda dalam ketentraman, bagaimana nantinya kita melakukan aktifitas bila benda-benda yang kita pergunakan sehari-hari itu telah rusak? Sebenarnya, mau demo untuk kebaikan atau mau perang saudara?

Catatan Lainnya

Di negeri tercinta ini masih sulit mendapatkan kejujuran dan kepercayaan. Yang terlihat adalah kerakusan demi eksistensi kelangsungan hidup. Betapa teganya orang membuat pemalsuan, terutama untuk barang makanan. Setiap hari selalu saja terberitakan bagaimana orang-orang tertentu begitu lihainya membuat barang tiruan persis seperti aslinya. Kok, sangat tidak bernurani, ya? Padahal, yang membeli barang-barang itu kebanyakan rakyat jelata. Sudah hidup miskin, harus lagi tertipu dengan barang tiruan. Ke manakah larinya para penegak hukum hingga “tiru-meniru” ini masih berlangsung? Atau, memang sengaja dibiarkan agar rakyat ini tetap bodoh? Atau, bisa jadi mereka tidak mau peduli karena hidupnya sendiri sudah aman dengan gaji bulanan yang sudah pasti. Sungguh tak punya moral! Menerima gaji tapi tidak melakukan tugas sesuai gaji yang diterimanya.

Tak jauh beda. Tayangan televisi dan film layar lebar pun di negeri ini belum juga memberi pembelajaran kepada masyarakat. Sinetron-sinetron yang setali tiga uang dalam corak masih menyunguhkan kebosanan. Tidak kreatif, tidak inovatif, dan sangat membodohi kalau aku bilang. Pengelola televisi belum punya keberanian untuk berbeda. Masih suka mengekor satu dengan yang lainnya. Ooo tahe! [keluhan dalam bahasa Batak].

Membicarakan ketidak adilan, para anggota dewan, para pejabat, dan para pengusaha yang korup? Rasanya sudah capek kuping ini mendengarnya. Tak pernah tuntas. Para pejabat baru hempot [sibuk menyibukkan] kalau sesuatu kejadian sudah parah sampai merenggut nyawa manusia. Bukannya hanya mereka, para pengamat pun mendadak jadi selebritis di televisi memberi argumen, namun tetap saja selalu kejadian. Sepertinya, kita anak negeri ini tidak pernah belajar untuk lebih pintar dari kejadian yang memiriskan hati.

Lihat saja, bagaimana produk-produk makanan, barang-barang, dan narkoba seludupan bisa melenggang masuk ke negeri ini. Lihat saja, bandar narkoba yang sudah dibui masih bisa beraktifitas dari balik teralis. Ketua Umun salah satu cabang olah raga bisa memimpin dari “hotel” prodeo. Para pejabat korup yang mendadak sakit bila sudah hendak disidangkan. Raja pembalakan liar yang bebas dari “dosa”nya. Bah! Bah! Negeri ini memang negeri simsalabim! Capek deh!

Catatan Potret Diri

Banyak hal yang kurencanakan dan kuharapkan terealisasi sepanjang tahun ini. Pertama, tentu saja melihat negeri ini lebih baik dalam perekonomian, kesejahteraan rakyat meningkat, percaturan politik yang pintar dan bijak, dan suasana kondusif saling menghormati perbedaan tanpa rasa curiga mencurigai. Kedua, realisasi penyesuaian gaji, menulis skenario layar lebar, lebih sabar dalam hidup ini, dan makin bijak dalam situasi apapun.

Yang pertama, aku masih percaya kalau tahun depan keadaan negeri tercinta ini akan lebih baik lagi. Yang kedua, kabar untuk menulis layar lebar masih belum ada. Sedang penyesuaian gaji, malah jauh lebih baik dari yang aku perkirakan. Dan, aku merasa lebih sabar menghadapi keruwetan kota Metropolitan dengan segala kemacetan jalan yang sering menimbulkan stres.

Dari apa yang aku lihat, rasakan, dan dengar sepanjang tahun ini, tentu saja sangat berharap bahwa tahun yang akan datang jauh lebih baik di segala bidang. Namun, aku hanyalah seorang manusia biasa. Biarlah kehendak Tuhan yang jadi, bukan kehendakku! Tahun 2008, marilah kita yakini sebagai tahun penuh pengharapan. ***