adam airm-agung.jpgduit

“Pa, kenapa gak nyari kerja di Medan aja? Kenapa gak pindah aja kita ke Jakarta?”

SEKILAS AKHIR 2007

SETELAH delay hampir 3 jam, pesawat Adam Air KI 0226, akhirnya mendarat mulus di bandara Polonia Medan. Sedikit ada kesemerawutan saat mengambil barang karena ketidak-nyamanan bandara setelah kebakaran gedung utamanya.

Di antara kerumunan para penjemput, kuli bandara, dan sopir taksi yang menawarkan jasa, tiba-tiba kudengar; “Papa…!!” – Aku menoleh. Aku melihat anak lelaki remaja dengan postur tinggi. Itu Carlos, anakku yang nomor dua. Betapa bahagia aku melihat pertumbuhan anak lelakiku itu. Rasa lepas rindu setelah setahun tak bertemu meresap begitu dalam di jiwaku. Mana Jessica, putri sulungku? Istriku yang datang menjemput bersama seorang sahabatnya mengatakan kalau Jessie menunggu di rumah.

Betapa haru dan bangga aku melihat sepasang anak titipan Tuhan itu telah tumbuh meranjak dewasa. Begitu drastiskah setahun tidak bertemu, pertumbuhan mereka begitu cepat dan tak terbayangkan sebelumnya?

Cuti tahunan yang kuambil tahun ini memang lumayan lama karena ditambah hari libur besar yang bejibun. Aku akan memanfaatkan betul kebersamaan dengan istri dan anak-anakku. Apalagi sekarang mereka tidak lagi tinggal bersama mertua. Sudah menyewa rumah sendiri. Jadi, lebih leluasa bergerak. Akhir tahun ini, aku sungguh merasakan kebahagiaan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. [cerita tentang Kota Medan, akan aku tulis tersendiri].

SOSONG 2008

JESSICA gadis remajaku, pergi ke gereja. Paginya, ia sudah memberi cium perpisahan. Tadi malam aku memberi nasihat kepada kedua anakku, agar mereka menjadi “garam & terang” dalam setiap gerak kehidupan mereka. Sepanjang aku bekerja di Jakarta, terpisah dari mereka, hatiku sering kuatir akan pergaulan anak-anak remaja zaman ini. Hanya doa kekuatan yang dapat aku panjatkan agar Tuhan terus menjagai dan mengawasi mereka.

Jarum jam menunjuk pukul 10.00 WIB. Tetangga yang punya betor (beca motor) sudah datang, mau mengantar ke Polonia. Istriku dan Carlos turut serta. Hatiku mulai dilanda sedih, sebentar lagi akan berpisah dengan orang-orang yang aku cintai itu. Dalam hati terus berdoa, agar Tuhan memberi waktu yang tepat bagi kami bila kelak bisa bersama terus, entah itu di Medan maupun di Jakarta. Tapi, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi!

Ketika hendak berpisah, kulihat wajah anakku begitu sedih. Sepertinya dia tidak rela melepas kepergiaanku. Anak lelakiku ini seorang yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Sewaktu Natal kemarin, ia menegur aku: “Pa, kenapa gak nyari kerja di Medan aja? Kenapa gak pindah aja kita ke Jakarta?”

Intinya, aku lebih suka kalau sekiranya bisa bekerja di kota Medan. Hanya saja, profesiku belum bisa maksimal dikembangkan di Ibukota provinsi itu. Aku hanya seorang ber-basic jurnalis yang lebih mengembangkan diri pada bidang penulisan skenario dan sebagai konseptor. Di Medan memang sudah ada beberapa stasiun tivi lokal, tapi para pengelola belum terlihat profesional dalam menghargai profesi sebagai broadcaster. Pernah pimpinan salah satu tivi swasta lokal itu mau ngajak kerjasama. Tapi, maunya aku ikut “berdarah-darah” dulu dalam memajukan stasiun televisinya. Terlalu bodoh dong kalau aku sampai meninggalkan pekerjaan di salah satu grup televisi swasta terkenal hanya untuk mengejar yang tak pasti? Padahal, aku sudah bilang gajiku tidak usah sebesar yang aku terima di grup televisi swasta itu. Aku hanya ingin dekat dengan anak-anak dan istri. Eh, tetap saja si bos televisi lokal itu tak berani. Ya, sudah!

Untuk membawa keluarga ke Jakarta, nyaliku belum kuat melihat pergaulan anak-anak remaja metropolis yang sangat hedonis. Belum lagi biaya yang tinggi untuk memindahkan mereka. Yang pasti, aku tidak pernah berpikir dalam usia pensiun menetap di Jakarta yang makin kompleks.

Saat tubuh pesawat Adam Air KI 0223 mulai terangkat, aku yang duduk di kursi 14E menoleh ke bawah. Tampak kota Medan makin menjauh. Hatiku tiba-tiba dirundung kesedihan. Di bawah sana anak dan istriku harus tertinggal dengan sejuta harapan, kelak waktu cepat berputar dan aku kembali lagi ke hadapan mereka. Hatiku sungguh perih. Padahal, ini bukan yang pertama aku meninggalkan mereka demi “sejengkal” isi perut kami.

Untuk mengusir rasa sedih, aku coba ngobrol dengan seorang pemuda di sampingku. Marga Siburian dari Raya [Pematang Siantar]. Pemuda ini kuliah di Yogya jurusan Informatika. Sudah 6 tahun dia tidak pulang kampung. Namun karena penerbangan terasa lamban dan membosankan, kucoba untuk tidur. Kembali bayangan wajah anak-anak dan istri berkelebat. Aku berdoa. “Tuhan, tahun 2008 ini aku harus berubah. Aku akan serius merenda kehidupan ‘mandiri’ keluargaku. Tolong diberi kekuatan dan pencerahan”.

Di sisi lain, aku juga merasa gamang. Negeri ini belum beranjak pulih. Malah kenaikan-kenaikan harga mulai terjadi. Bagaimana mau merenda hidup kalau gaji masih pas-pasan? Sedang ditelevisi sepanjang dua pekan terakhir, para pejabat, politikus, dan pengamat konsentrasi “penuh” pada sakitnya Soeharto, sang mantan presiden negeri. Perdebatan saling silang soal status hukum si Bapak Pembangunan itu mengalir begitu deras. Doa-doa juga dipanjatkan agar beliau sembuh. Namun semua hanya sebatas retorika. Aji mumpung! Siapa tahu melalui “heboh”nya sakit kritis Soeharto ini bisa nampang di televisi sekadar numpang ngetop.

Negeri ini memang semakin aneh. Semua lapisan berlomba jadi “selebritis”. Para calon gubernur dan bupati daerah sudah berani mengiklankan diri melalui televisi nasional. Padahal, biaya slot iklan untuk televisi berskala nasional tidaklah murah. Terlalu bodoh dan arogan kalau aku bilang. Untuk apa mengiklankan diri secara nasional kalau toh pemilihnya cuma sebatas daerahnya doang? Bukankah itu menunjukkan kesombongan yang bakal tidak akan memperhatikan kepentingan rakyat? Gimana mau merenda hidup kalau memang para calon pemimpin negeri ini seperti berlomba jadi selebritis kagetan?

Perhatian berlebih yang ditujukan kepada keluarga Cendana itu menunjukkan bahwa negeri ini masih susah bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bagaimana dinasti keluarga ini masih punya “taring”. Sampai-sampai 10 kamar VIP RS Pertamina dibooking, yang seturut yang aku dengar, biayanya ditanggung pemerintah. Apakah kepada mantan presiden setelah era Soeharto akan diperlakukan juga seperti itu? Entahlah!

Secara pribadi aku kagum pada sosok Soeharto. Berwibawa dan disegani. Sayang aja para kroninya membuat beliau akhirnya ikut terpuruk. Ketika negeri ini dipimpin beliau, tak pernah ada demonstrasi yang anarkis. Tidak ada bom teroris. Pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Negeri ini terbangun, aman dan kesejahteraan hidup lumayan baik, walau itu katanya hanya kamuflase untuk menutupi kemarukan mengkorup uang negara. Hingga saat ini, presiden negeri bagi aku cuma Soeharto yang the best, tanpa terkontaminasi dengan kroni-kroni tolol yang dulu lihai menjilatnya.

Tapi, apa mau dikata. Karakter para politikus negeri ini kebanyakan masih dangkal. Suka menjilat dan asal ngomong. Mementingkan diri sendiri dan kelompok untuk memperkaya diri. Uang negara habis dikorup. Kesejahteraan rakyat? nanti dulu…! Mereka tidak sadar, janji kampanye yang begitu indah dan seakan paling pintar dan benar, justru menambah dosa mereka. Selamat jadi penghuni neraka!

Haruskah aku peduli dengan semua itu? Tidak! Aku tidak peduli dengan segala kehebohan negeri ini. Aku tidak peduli dengan suasana kantor yang makin melempem dan sangat tidak inovatif. Aku hanya peduli kepada masa depan kedua anakku dan istri, sehingga kubuat komitmen perubahan untuk 2008. Mencoba merenda hidup ke arah yang lebih baik dan peningkatan diri. Idealisme akan aku pinggirkan dulu. Sudah capek berteriak soal negeri ini. Aku mau lebih fokus pada masa depan keluargaku. Semoga Tuhan menunjukkan jalan. ***