Tirtanadi Medan

Aku coba baca nama-nama mereka, tak satupun yang kukenal.
Atau, setidaknya pernah kudengar namanya. Sudah begitu merasukkah
iklim demokrasi yang kebablasan ini kesemua lapisan masyarakat?

Ktr Pos MedanUNTUK SESUATU yang bernama “perubahan” tidaklah mengenal waktu. Dari hitungan detik hingga jenjang tahun, apa saja bisa berubah tanpa kita duga. Mungkin hal ini kurang menjadi perhatian manusia sebagai kodrat alami dari seluruh isi bumi ini. Tiba-tiba saja kita dibuat kaget, kagum, dan tak menduga, kalau “sesuatu” itu tidak lagi seperti apa yang sebelumnya kita lihat; “kok sudah berubah?” – Ujaran yang kerap timbul.

Aku merasa berada di dunia ini sepertinya bertakdir nomaden. Sejak masa sekolah, aku sudah jauh dari hadapan orang tua. Perkembangan hidupku lebih dipengaruhi oleh kemandirian. Sehingga aku tidak lagi merasa gamang selalu meninggalkan orang-orang yang aku cintai.

Sejak akhir 1976 merantau ke Jakarta [tentu saja ada mudik-mudiknya], aku selalu menemukan adanya perubahan pada sosok kota Medan yang tak terbayangkan sebelumnya. Masa kanak-kanak, dan kala libur sekolah tiba, dari Tarutung Among [ayah] selalu membawa aku ke Medan. Di depan stasiun [sekarang disebut terminal] Teladan ada hotel Kenanga. Penginapan ini tidak seperti hotel-hotel sekarang yang lebih terlihat mewah. Sebenarnya lebih tepat disebut “losmen”. Di depan losmen ini, aku masih ingat ada warung Padang yang telor dadarnya sangat aku sukai. Saat Among sibuk dengan urusan bisnisnya, aku akan sendiri ditinggal. Tapi, kepada pemilik warung sudah dipesan untuk menyiapkan segala keinginanku. Sekarang losmen ini masih ada, namun tidak lagi seperti dulu. Stasiun Teladan [termnal bis luar kota kala itu] sudah tidak lagi berfungsi karena terminal sudah dipindahkan ke daerah Amplas. Wajar saja kalau suasana ini berubah setelah berlalu puluhan tahun.

AKHIR 2007 – KOTA MEDAN

Hingga kini, ingatan pada Losmen Kenanga itu tak pernah kulupakan. Kalau sedang ke Medan, aku suka lewat di depannya. Aku tidak lagi kanak-kanak, malah sudah punya sepasang anak yang beranjak dewasa. Kehidupanku tetap nomaden Jakarta-Medan. Istilah bung Medan; “Sudah takdir kaulah itu, nak!

Musim liburan Natal tahun ini, aku mengambil cuti panjang untuk merayakan Natal dan Tahun Baru bersama istri dan anak-anak. Kerinduan setahun berlalu ingin sepuasnya aku nikmati dengan keluarga kecilku.

Disejuki kebahagiaan anak lelakiku dan istri yang menjemput ke bandara Polonia, aku kaget melihat perubahan fasilitas bandara. Rupanya, gedung utama bandara baru terbakar dan belum dibenahi. Menurut selentingan berita, memang tidak akan dibangun lagi karena bandara ibukota provinsi Sumatera Utara itu akan dipindahkan ke Kwala Namu.

Begitu keluar dari ruang kedatangan, para penumpang langsung disambut orang-orang penjual jasa. “Taksi resmi bandara, pak?” – begitu para lelaki menawarkan jasa, yang menurutku kurang sopan karena kadang terkesan setengah memaksa. Kita sudah menolak namun masih terus dibuntuti tetap dengan penawarannya.

Aku bersama istri dan anak terus berlalu. Lebih baik nyari taksi di luar area bandara. Masalahnya, kalo kita mengambil taksi bandara suka dimintai uang jasa oleh para “preman” bandara, yang menurut aku sih pasti kerjasama dengan keamanan bandara. Di mana logikanya di bandara yang termasuk internasional preman bisa berkeliaran? Mending sopan dan rapi. Ini, sudah dekil dengan tampilan semerawut, ucapannya pun kadang kasar. Kalau keamanan bandara betul-betul punya tanggung jawab profesionalisme, tentu para “kutu kupret” itu tidak berkeliaran di bandara. Bagaimana mau menjaring wisatawan manca negara kalau suasana bandaranya kayak gitu?

Melewati parkiran, tiba-tiba muncul seorang laki-laki menawarkan jasa tumpangan gelap. “Mau ke mana, pak? Pakai taksi mobil kijang saja.” Tawar si lelaki rada memaksa. Aku sudah menolak, namun masih terus dibuntuti. Aku cuek aja. Tiba-tiba si lelaki berkata; “takut, ya?” – Kalau tidak sedang bersama istri dan anak, orang itu sudah pasti aku tantang berkelahi. Sudah gak sopan, memberitahu dirinya lagi sebagai penjahat. Kalau dia orang benar dan punya etika, tentu dia tidak akan bicara seperti itu. Adakah para “kutu kupret” ini menjadi perhatian pengelola bandara? Alawalam aja… Seharusnya, bandara internasional seperti Polonia [nantinya di Kwala Namu], harus bersih dari para “kutu kupret” itu. Bikin semak aja dan gak penting-penting amat muncul ke bandara. Nyari nafkah mbo yang beretika gitu, lho?! Sialnya, warga Medan begitu bangga dengan slogan; Ini Medang, bung!Ujaran yang berkonotasi negatif.

Di luar area bandara, kami naik taksi menuju rumah. Malam telah dua jam turun di atas kota Medan. Sambil sesekali berbincang mataku keriapan melepas rindu pada suasana jalan-jalan kota Medan. Alaaamak…! “Kok, banyak kali spanduk para calon gubernur?” – Aku coba baca nama-nama mereka, tak satupun yang kukenal. Atau, setidaknya pernah kudengar namanya. Sudah begitu merasukkah iklim demokrasi yang kebablasan ini kesemua lapisan masyarakat? Mboo, ya, logika sikitlah! Kalau mau unjuk gigi jadi pemimpin rakyat tunjukkan dulu dong prestasi Anda-Anda yang membuat rakyat itu bersimpati. Jangan asal main slonongboy gitu, pren! Rakyat negeri ini sudah bosan dan muak dengan jargon-jargon politik praktis. Jangan lagi bohongi rakyat ini dengan kemunafikan diri. Pada ngaca dulu, napa? Anehnya, seturut berita teman, ada balon [bakal calon] Gubsu itu mantan walikota dari provinsi lain. Alaaamaakkk…!! Ini Medan, Bung!

Aku selalu berharap, ibokora provinsi tanah leluhurku itu tidak melekat dengan istilah kota preman. Kota cowboy yang melahirkan preman-preman kampungan, yang beraninya cuma sebatas wilayahnya doang. Beraninya main keroyok dengan mengatas namakan ormas pemuda. Kalau mau jadi preman betulan, kayak legenda Al Capone dong. Pake otak hingga bisa mempengaruhi para pejabat rakus untuk menghalalkan bisinis haramnya. Kalo mau berantuk jangan sama rakyat kecil, tapi sesama mafia-lah kalian saling baku bunuh. Dengan begitu ke depannya rakyat bisa aman dan nyaman dalam menata kehidupan. Tapi, gimanalah mau awak bilang? Para calon pimpinan daerah pun lebih dipengaruhi rasa premanisme, sukuisme, dan kelompokisme yang cuma mau memperkaya diri sendiri. Hebatkan? Para preman yang tidak punya skill jenjang pendidikan tinggi berani maju jadi calon pemimpin daerah. Tidakkah seharusnya negeri ini dipimpin mereka yang betul-betul para profesionalis di bidang ketata-negaraan? Bukan oleh mereka yang suka anggar otot! Akh…, lagi-lagi; Ini Medan, Bung!

Selama liburan cuti panjang di Medan, memang ada aku lihat usaha perubahan dalam menata kota. Maju terus! Tapi, selain ingin lebih mempercantik diri, masih dibutuhkan dan sangat urgent untuk dibenahi; pembenahan moral seluruh lapisan masyarakat. Para sopir angkot [sudako] yang masih se-enak jidat nenek moyangnya melanggar rambu-rambu lalulintas. Para abang becak yang sering tak sopan kepada penumpang bila terjadi tawar menawar. Para sopir taksi yang belom jelas bagaimana sebenarnya aturan dan peraturan pertaksian di kota Medan. Hampir semua armada taksi di Medan tidak mau pake argo. Sudah gitu, sopir-sopirnya pun galak sehingga sering memancing adrenalin untuk mengajak berkelahi. Kayak cuma mereka saja yang berani adu jotos. Anda juga manusi, bung!

Sebenarnya, aku tidak mau ambil pusing siapapun yang bakal jadi gubernur Sumut, yang Pilkada-nya akan dilaksanakan tahun ini. Namun, ya, yang benar-benarlah berpihak kepada kepentingan rakyat. Membenahi perekonomian rakyat yang kian terjepit. Menciptakan lapangan pekerjaan. Memberi keamanan yang maksimal pada rakyat. Memberangus segala bentuk premanisme sampai ke akar-akar. Memajukan pendidikan, hingga kota Medan tampak smart. Slogan; Ini Medan, Bung! Diganti saja menjadi; Welcome to Medan! ***