keluarga si doel

“Ini kan keset kaki kamar mandi! Handuk tamu hotel ada di lemari… wakakakakaaakkk…! Dasar Batak kampung!!” teriak Rano tergelak sangat keras. Wajahku terasa panas karena malu… Tepatnya, malu-maluiiiinnnn…!!!

Rano1ZAMAN kanak-kanak sekitar pertengahan tahun 70-an, aku begitu mengidolakan Rano Karno sebagai bintang cilik di era itu. Aku sangat kagum melihat aktingnya di film Di Mana Kau ibu dan Rio Anakku. Kekaguman itu terus berlanjut hingga Rano makin jadi idola pada masa remajanya. Hampir setiap film remaja yang dibintanginya kala itu selalu meraup sukses, seperti Romi dan Juli, Gita Cinta Dari SMA, hingga akhirnya Rano mendapat penghargaan tertinggi sebagai aktor terbaik FFI 1991 melalui aktingnya di film Taksi.

Kesuksesan atau kepopuleran Rano Karno ternyata terus berlanjut hingga era maraknya kemunculan sinetron di televisi swasta. Melalui debutnya sebagai produser, sutradara, dan penulis skenario Si Doel Anak Sekolah, hingga 7 sesion, nama Rano seperti tak lekang termakan zaman. Kepada Rano pun masyarakat menyematkan sebutan bintang tiga zaman. Memang begitulah adanya.

Waktu itu sosok Rano bagiku hanya sebatas angan-angan, seperti pepatah; jauh panggang dari api. Namun sekitar akhir tahun 2000 arah langkahku untuk menghampiri sosok idolaku itu mulai terlihat. Berawal dari kemenangan cerita yang aku tulis dalam sayembara menulis cerita film. Rano tertarik membeli ceritaku itu melalui seorang sutradara senior yang lebih dulu menghubungi aku ke Medan. Tapi, karena banyak pertimbangan, sinetron yang bercerita tentang anak-anak jalanan di kota Medan itu belum terproduksi. Padahal, aku sudah menulisnya hingga 16 episode. Tapi, rencana Tuhan jualah yang terjadi!

Sekitar awal Pebruari 2001, aku dihubungi oleh seorang teman, asisten sutradara. Teman ini memberi kabar kalau Rano ingin bertemu. Aku bingung dan tak percaya. Masya sih aku akan bertemu dengan idolaku sejak masa kanak-kanak? Apakah seorang Rano Karno akan menerimaku dengan sinis? Atau, dia akan terkesan sombong dan memandang sebelah mata nanti padaku? – Begitu banyak pertanyaan negatif berkecamuk dalam benakku, hingga membuat langkahku ragu untuk menemuinya.

Siang itu dengan jantung berdebar, aku mendatangi lokasi syuting sinetron Kau Di Atas, Aku Di Bawah, di daerah Cinere. Di depan rumah yang akan dipakai sebagai set syuting ada gardu hansip. Di sanalah aku berteduh disesaki keragu-raguan diri. Hampir saja aku mau pulang karena tidak berani bertemu dengan sosok seorang bintang film besar dan menjadi idola masyarakat.

Dalam kebimbangan hati, teman Si asisten sutradara memergoki aku duduk sendiri di depan gardu. Aku langsung dibawa ke dalam set rumah syuting. Di sana sudah banyak kru sinetron yang sibuk dengan tugas masing-masing. Aku semakin gelisah karena Rano belum datang.

Sekitar jam 1 lewat, kudengar salah seorang kru mengatakan kalau Rano sudah datang. Jantungku berdegup keras. Tak lama, aku melihat sosok idolaku itu muncul di ruang tamu rumah yang akan dijadikan set. Aku terdiam. Rano langsung sibuk bertanya kepada sutradara tentang angle kamera. Dari sudut yang agak tersembunyi kulihat teman Si asisten sutradara berbisik ke Rano. Bintang film tenar itu sedikit kaget dan langsung menyuruh Si asisten sutradara supaya aku langsung menemuinya.

Aku dibawa ke teras belakang rumah. Ternyata di sana sudah ada artis Lydia Kandou, salah seorang pemeran sinetron tersebut. Ketika aku menghampiri Rano yang tengah berbincang dengan Lydia, kontan berseru gembira; “Hai…!! Sudah lama aku mencarimu!” Nada suaranya begitu bersahabat dan familiar. Kontan gelisahku terbang entah ke mana. Rano mengajakku duduk agar menjauh dari Lydia Kandou yang tengah makan siang.

Asumsi-asumsi negatif di pikiranku tentang sosok angkuh seorang bintang seperti Rano pupus tak berbekas. Di mataku Rano seorang yang hangat, bersahabat, rendah hati, antusias terhadap teman sekerjanya, dan sangat familiar. Selama kerjasama kami membuat sinetron Kembang Ilalang, aku tak pernah menemukan arogansi pada diri Rano. Dia menjadi sahabat yang enak diajak diskusi. Berantem seru-seru-an sering kami lakukan di hari-hari kemudian. Dia sangat perhatian pada keberadaanku. Kalo kami sedang “berantem becanda”, dia suka ngakak sambil berseru; “Dasar Batak…!!” – lalu aku balas; “Dasar Padang…!!” – Kalo aku baru pulang mudik dari Medan, pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya: “Gimana keluarga di Medan, Ut? Sehat-sehat?!” – Sapaan hangat yang tak pernah kudapat dari para produser PH [Production House], yang hanya berorientasi duit.

Persahabatanku dengan Rano terjalin baik. Kalau dia sudah percaya sama seseorang, maka tak ragu dia mengajak tidur satu kamar dalam hotel, seperti yang aku alami di hotel Holiday Inn, Bandung, saat hunting lokasi sinetron yang akan kami produksi. Bila Natal tiba, Rano suka mengirim brownis ke alamat kostku sebagai ucapan selamat merayakan hari Natal.

Ada kejadian lucu ketika kami satu kamar menginap di hotel Holiday Inn. Aku yang memang wong udik dan gak biasa berkunjung ke hotel berbintang, merasa ngamang dan sedikit bigung dengan segala pernak-pernik hotel. Pergerakanku selama di kamar hotel coba kuminimal agar tidak salah-salah pegang. Namanya juga orang udik.

Sore itu setelah aku merasa lelah mengerjakan skenario di laptop Rano, dia terbangun dan melihatku sedang menonton televisi. Rano lalu menyuruhku mandi agar bareng makan ke warung Si Doel, yang baru dibukanya di Bandung kala itu. Di dalam kamar mandi, aku melihat ada handuk putih di lantai dekat bathtub. Sebelum mandi handuk itu aku gantungkan, karena kupikir terjatuh, dan kemudian kupakai sebagai handuk mengeringkan badan. Nah, begitu Rano gantian yang mau mandi, tiba-tiba kudengar dia berteriak; “Uuuuttt…! Lo pake handuk yang mana?!” – Aku kaget dan bingung. Kulihat Rano muncul di depan kamar mandi sambil memegang jijik handuk yang kupakai tadi. “Aduh, apalagi nih masalahnya?” pikirku dalam hati.

“Lo pake ini handukmu?!” sergah Rano sambil menyorongkan handuk putih. Dengan blo’on-nya aku mengangguk pelan karena masih penasaran.

“Dasar lo Batak gila, kampungan…!” seru Rano sambil tertawa.

“Emangnya kenapa, mas?” tanyaku bingung.

“Ini kan keset kaki kamar mandi! Handuk tamu hotel ada di lemari… wakakakakaaakkk…! Dasar Batak kampung!!” teriak Rano tergelak sangat keras. Wajahku terasa panas karena malu… Tepatnya, malu-maluiiiinnnn…!!!

Seperti itulah salah satu kehangatan persahabatan yang aku dapat dari seorang Rano “Si Doel” Karno. Seorang bintang besar yang rendah hati dan selalu welcome pada orang yang ingin bersahabat dengannya. Tidak seperti asumsiku pada artis-artis yang cenderung belagu padahal aktingnya nol besar, seperti mayoritas bintang sinetron saat ini yang cuma bermodal tampang doang.

Kalau sekarang Rano “Si Doel” akan menjadi seorang birokrat, sebagai Wakil Bupati Tangerang, dan diragukan banyak orang karena berangkat dari seorang “seniman”, aku pikir keraguan itu salah kaprah. Sebagai warga negara, siapapun punya hak untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin di negeri ini tanpa melihat latar belakang profesi. Soal kemampuan, itu relatif. Tergantung permasalahan yang dihadapi daerah yang dipimpinnya. Emangnya presiden mengurusi administrasi negara, apa? Toh, sudah ada pembantunya, para menteri dan jajarannya. Begitu juga seseorang yang berangkat bukan dari karier ketata-negaraan. Toh, setiap pemimpin Daerah, Provinsi, dan Pusat hanya sebagai pengambil kebijakan saja. Lebih memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Mengurangi angka pengangguran. Menciptakan peningkatan jalannya perekonomian di daerah yang dipimpinnya. Menjamin kenyamanan dan keamanan bagi rakyat. Toh, masyarakat ini tidak menuntut yang aneh-aneh kok! Ketimbang salah pilih, seorang pemimpin birokrat yang berangkat dari jenjang karier tapi otaknya cuma dipenuhi korupsi?

Aku yakin, Si Doel, Rano Karno, akan mumpuni sebagai seorang birokrat. Populis, bersahaja, dan sudah kaya. Rano sendiri dalam talk show salah satu stasiun televisi sudah mengatakan akan konsentrasi pada pekerjaannya sebagai Wakil Bupati, dan akan meninggalkan dunia ke artisan selama dia menjabat.

Jika di serial Si Doel Anak Sekolahan, hingga Si Doel Anak Gedongan, cuma sampai sebagai “tukang” Insinyur, maka sudah saatnya “Si Doel” menjadi seorang birokrat benaran. Bravo untuk mas Rano sebagai Wakil Bupati Kabupaten Tangerang!

Semoga menjadi birokrat yang dicontoh, sehingga negeri ini melahirkan birokrat-birokrat yang merakyat. Kiranya, sosok bersahaja tokoh Si Doel yang Mas Rano perankan dalam serial sinetron ini tetap melekat dalam diri Mas sebagai orang nomor 2 di Kabupaten Tangerang.
H o r a s
! ***