brave_one.jpg
Kau tahu, hakim jalanan itu tak pernah ada.
Itu hanya perbuatan berandal jalanan yang berpesta membunuh…

 

DISAAT seseorang begitu mencintai hidupnya, dan kota yang membuatnya nyaman tiba-tiba menjadi angkara murka diri, apa yang harus diperbuatnya? Tidakkah disetiap negara, hukum begitu disanjung, walau kadang diplintir se-enak udel para penguasa? Di manakah ajaran agama ketika dendam harus dibalaskan – nyawa dibayar nyawa?

Tokoh Erica Bain, yang diperankan Jodie Foster begitu apiknya dalam film The Brave One, bertransformasi dari seorang kolumnis siaran radio di kota New York menjadi sosok yang tak lagi melihat hukum sebagai pagar keadilan.

Lewat siaran Street Walk melalui radio WNKW, Erica selalu mengumandangkan bahwa kota tempat dia tinggal sebagai kota teraman. Kota dengan segala iming-iming kisah menarik hingga membius orang untuk menyentuhnya. Erica tidak pernah menduga bahwa kota yang begitu ia puja akan menorehkan kejadian yang sangat memilukan lewat kekerasan yang dia alami bersama kekasihnya, David Kirmani (Naveen Andrews) oleh berandalan kota. Dalam kemesraan menikmati langit cerah kota New York di salah satu taman, Erica dan David bertemu dengan tiga berandalan yang kegemaran membantai orang sambil disyuting dengan betacam. David sampai tewas dipukuli berandalan. Erica harus koma selama tiga minggu.

Film yang disutradarai Neil Jordan, peraih Oscar lewat film debutannya; The Crying Game, mencoba lebih fokus pada alur cerita ketimbang menawarkan look kota New York, yang suka dipertontonkan film-film Hollywood lainnya. Alur cerita gambar yang disuguhkan begitu padat hingga membuat penonton seperti baru memulai padahal sudah berakhir.

Walau film ini kurang menawarkan pemandangan indah, atau lebih tepatnya sedikit suram, namun di tangan juru kamera Philippe Rousselot, peraih Oscar lewat film A River Runs Through It, gambar jadi sangat menarik dengan angle-angle yang dapat memberikan ketegangan pada penonton. Suram tapi tidak terkesan kumuh.

Lewat kepadatan frame-frame yang ditawarkan, semakin mempertegas ekspresi kuat Jodie Foster sebagai Erica. Jodie begitu intens masuk ke tokoh Erica sehingga sangat kuat menggugah penonton untuk mengamini perbuatannya sebagai “hakim jalanan”. Bagaimana Erica berubah menjadi seperti seorang psikopat yang membenci kejahatan di jalanan. Hal mana membuat detektif Mercer (Terrence Moward) hampir putus asa oleh ulah “hakim jalanan” yang terus memuntahkan peluru dari pistol otomatik 9mm kepada para penjahat jalanan.

Dalam kebingungan mengungkap Si “hakim jalanan”, detektif Sean Mercer malah berkenalan dengan Erica Bain, penyiar Street Walk, idolanya. Mereka menjadi sahabat baik yang suka membahas soal kejahatan jalanan di New York.

“Kau tahu, Erica. Aku suka bertanya pada diriku; jika ada kenalanku melakukan kejahatan, sanggupkah aku menagkap mereka?” beber Mercer ketika mengajak Erica makan siang.

“Lalu…?” tanya Erica penasaran, mencoba memahami ke mana arah bicara Mercer.

“Aku selalu berharap bahwa aku punya keberanian dan dedikasi…” jawab Mercer, seakan ingin berkata bahwa “hakim jalanan” yang sudah mulai terindentifikasi seorang wanita, bukanlah Erica.

Harapan itu menjadi lain manakala Mercer akhirnya mendapati bahwa “hakim jalanan” yang selama ini ia buru adalah Erica sendiri. Mercer tidak bisa menjadi seorang pegak hukum yang berdedikasi. Ia tidak bisa membawa Erica ke depan hukum setelah melihat hasil rekaman para berandalan yang dikirim seorang pelacur kepada Erica.

Film berakhir jadi sedikit melankolis. Mercer malah menyuruh Erica menembak mati berandalan yang telah membunuh kekasihnya. Erica menyerahkan diri untuk ditangkap, tapi Mercer berkelit.

“Kau tahu, hakim jalanan itu tak pernah ada. Itu hanya perbuatan berandal jalanan yang berpesta membunuh. Mereka melakukannya di Central Park. Mereka membeli pistol. Lalu mereka saling bunuh seperti biasanya,” beber Mercer, dan menyuruh Erica agar menembaknya sebagai alibi bahwa Mercer baru saja saling tembak dengan para berandalan jalanan. Dengan begitu, Erica akan terbebas dari tuduhan.

Mercer tahu kalau Erica begitu membenci para berandal jalanan yang suka menyakiti bahkan membunuh orang demi kepuasan mereka. Ia ingin Erica tidak lagi sebagai orang yang pendendam. Dengan menembak Mercer, kemarahan Erica diharapkan dapat terlampiaskan kepada para berandal jalanan. Mercer mengakui kalau dirinya dulu sempat bergabung dengan club berandal jalanan.

Jodie Foster (45), yang pada film Panic Room dan Flightplan berperan sebagai perempuan biasa menjadi perkasa, dalam The Brave One (Si Pemberani), ia tertantang memerankan perubahan karakter tokoh, dari yang memiliki hidup nyaman menjadi pendendam yang harus dibalaskan.

Kekuatan akting Jodie dalam film ini sungguh hidup dan bagus. Memang harus diakui kalau wanita kelahiran Los Angeles, California, AS, 19 November 1962 ini, adalah aktris kelas Oscar sebagai mana yang disabet melalui film Silence Of The Lambs dan Accused. Sejak membintangi film pertamanya Taxi Driver di era 70-an, Jodie memang sudah diprediksi akan menjadi seorang bintang berkelas. ***