uis.jpgtoba-batak-huis-3-kl.jpg271134-berlayar-di-danau-toba-cruising-lake-toba-1.jpguis1.jpg

Tak dapat dipungkiri bahwa keadaan huta di Batak sono sudah sangat memprihatinkan. Tidak ada kemajuan dan perkembangan.

MASIH dalam suasana hati dongkol, kesal, dan marah akibat terkena imbas banjir, Jumat 1 Februari 2008, SMS ke handphone-ku masuk, berbunyi; “Lae, besok datang, ya, ke Toba Dream. Kita mengadakan Coffee Morning…” – Aku cuma membalas; Moga-moga aku gak sakit, Lae. Seharian kena hujan terus…

PAGI itu langkahku terhenti di pelataran parkir cafe Toba Dream. Banyak mobil mewah terparkir di sana. Ada keraguan dalam hati untuk mengikuti coffee morning itu. Tapi, hatiku membatin; kapan lagi, Ut, kamu bisa bersinergi dengan sukumu sendiri? – Bukan apa-apa, aku orang yang suka gak pede berada di tengah-tengah orang kaya.

Merasa bingung sendiri, kuputuskan menelpon Desy Hutabarat. Ternyata dia sudah di dalam. Ia muncul sambil ngeledek; “Kenapa sih mesti dijemput-jemput, uda? Langsung aja masuk! Salamlah dulu, kita belom tahun baruan…” cerocos Desy seperti biasa, kayak mamak-mamak yang cerewet di pasar Sentral Medan.

Memasuki cafe Toba Dream, aku langsung dibawa lae Suhunan Situmorang, sobatku yang meng-SMS semalam, ke salah satu sofa cafe agak di pojok. Di sana sudah duduk beberapa orang yang belum kukenal. Aku lalu diperkenalkan, ternyata beberapa sudah sering saling bersapa melalui blog. Aku mulai merasa nyaman. Tak lama, kami disuruh agar duduk lebih ke depan. Kami mengambil meja di deret kedua, persis depan panggung mini cafe. Mataku menangkap tulisan di layar; Batak Itu Keren… – Wow! Batinku lumayan kagum. Walau sedikit narsis, namun ada juga perasaan bangga. Siapa lagi memuji kita kalau bukan diri sendiri! Boleh jadi, bagi para pemikir, slogan pendek itu laksana pecut sebagai pendorong untuk membuktikan bahwa Batak itu memang keren.

Tiga pembicara orang Batak yang sudah populis; Komjen Pol Togar Sianipar, Wakasad Letjen TNI Cornell Simbolon, dan Trymedia Panjaitan, SH [anggota DPR dan menjadi Ketua Komisi III yang membidangi Hukum], satu per satu memaparkan bagaimana kiat suksesnya mereka hingga seperti sekarang. Kesanku, kesuksesan mereka di bidang masing-masing selalu diawali dari tekanan hidup tidak berpunya sebagai latar hidupnya. Mereka sama-sama anak yatim pada usia dini. Kehidupan keluarga boleh dibilang sangat tidak memungkinkan untuk melanjut ke sekolah tinggi. Seperti pengakuan Togar Sianipar dan Cornell Simbolon, bahwa dulu mereka sampai masuk Akabri karena terpaksa. Tidak perlu biaya. Hanya saja, mereka bertekad ingin keluar dari simpul kemiskinan keluarga. Harus jadi orang pintar dengan belajar sungguh-sungguh!

Salut dan kagum, tentu saja aku memberi simpati yang dalam bagi ketiga penelis itu. Saat ini mereka begitu dikenal masyarakat Indonesia. Sebagai orang Batak, sudah pasti bangga.

Coffee Morning yang diprakarsai para Toba Dreamer dan disokong penuh oleh Amang Monang Sianipar, pengusaha sukses, pemilik MSA Cargo, sekaligus ayah kandung Viky Sianipar, seorang musikus muda Batak yang sangat berbakat, menurutku, bisa dijadikan cikal-bakal untuk mengajak para perantau Batak yang sudah sukses untuk bersama-sama membangun huta [kampung]. Tak dapat dipungkiri bahwa keadaan huta di Batak sono sudah sangat memprihatinkan. Tidak ada kemajuan dan perkembangan. Yang lebih mengenaskan lagi, Danau Toba dicoret dari kunjungan Visit Indonesia Year 2008… keterlaluan! Namun, yang salah siapa??

Menurut Trymedia, yang perlu lebih dibenahi adalah mentalitas masyarakatnya. Ia memberi contoh pengalamannya ketika berkunjung ke Prapat dan menginap di hotel berbintang. Trymedia yang cuma membawa satu tas tenteng harus di antar oleh 4 orang roomboys. Konyolnya, ketika Trymedia memberi tips seratus ribu, ke-empat roomboys minta tambah. Emangnya pemberian tips itu kewajiban, apa? Belum lagi para pedagang di sana yang selalu aji mumpung menaik harga sampai tiga kali lipat.

Coffee Morning Toba Dream yang baru pertama kali ini dilaksanakan, menurut para peserta dan beberapa orang populis Batak yang hadir seperti, Cosmas Batubara, Panda Nababan, dan Jansen “Ethos” Sinamo sebagai moderator, perlu ditindak-lanjuti agar visi dan misinya lebih konkret. Tidak sebatas wacana, sebagaimana selama ini sudah sering dilakukan. Seperti kata ujar-ujar: Iman tanpa perbuatan sama dengan bo’ooonngg…! Jadi, harus ada follow up yang konkret. Aku pikir juga, semua orang Batak perantau harus mendukung pembangunan huta itu, kalo kita mau sama-sama beriktiar menjadi Batak Itu Keren! Seperti pengakuan panitia bahwa komunitas Toba Dreamer bukan melulu orang Batak Toba. Tapi semua puak Batak; Mandailing, Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak.

Salut buat rekan-rekan komunitas Toba Dreamer yang punya visi dan misi sebagai kalangan kaum muda Batak, berani lebih inisiatif. Kiranya komunitas Toba Dreamer lebih merangkul lagi, tidak sebatas gaung sekitar Minangkabau, Manggarai. Lebih disosialisasikan. Jangan runtuh oleh cibiran yang mungkin datang dari orang-orang kita sendiri. Seperti kesepahaman yang tidak tertulis dalam pertemuan coffee morning itu; HOTEL [Hosom, Teal, Elat, dan Late – berkonotasi keirian, sirik dan membenci] dari sebagian sifat orang Batak, harus kita buang jauh-jauh. Marilah kita sama-sama menciptakan bahwa Batak itu memang keren. Dukungan penuhku buat Amang Monang Sianipar dan rekan-rekannya kaum tua, yang sangat memberi suport kepada visi dan misi para Toba Dreamer.

Seperti diberitahukan, dalam waktu dekat komunitas Toba Dreamer akan mengadakan penanam seribu pohon di pulo Samosir. Siapa lagi memang yang mau melestarikan budaya, tatanan kemasyarakatan, dan penghijauan huta kalau bukan kita sendiri, Batak Keren? Horas! ***