lembah-7.jpg

Boleh dibilang, warisan tanah oppung ini masih “numpuk” karena belum pernah terbagi selama empat generasi. Sampai kelahiran ayah, naik tiga generasi ke atasnya, leluhur kami selalu punya anak lelaki satu.

foto-gue-02-copy.jpg

DONGAN SABUTUHA, bagi orang Batak sama artinya dengan saudara satu marga. Si Jaultop Hutabarat dan Si Jaborngin Hutabarat, walau tidak bersaudara [family] kandung akan menyebut diri mereka Dongan Sabutuha, karena sama-sama ber-password “Hutabarat”. Jangankan satu marga, sesama orang Batak sendiri bila bertemu, entah di “hutan” manapun di dunia ini, dipastikan mudar na mangkuling [darahnya berbunyi – ungkapan simbolik menyatakan kekuatan kekerabatan bagi orang Batak]. Dan ini boleh dicatat sebagai kebanggaan orang Batak untuk saling bersinergi dalam menata kehidupan ini.

Kenapa dengan judul tulisanku Dongan Sabutuha?

Aku tidak ingin membahas masalah kekerabatan ini, karena aku sendiri masih lumayan tolol untuk mengimplementasikan diri sebagai orang Batak sejatinya sesuai adat-istiadat dan budayanya. Permasalahan yang muncul untuk bangga sebagai orang Batak, khususnya sesama Dongan Sabutuha, ketika tanah sejengkal bisa menjadi gara-gara untuk saling menindas. Betapa gak ironis gara-gara sejengkal tanah, yang tadinya Dongan Sabutuha, bisa jadi Alo Sabutuha [lawan semarga – berkonotasi bermusuhan/perang].

Aku lahir di Tarutung, dan sangat bangga dengan kota kelahiranku itu, walau besarnya jadi hidup di rantau. Aku tahu betul segala sudut-sudut kota yang dalam ungkapan puitisnya disebut Rura Silindung itu. Aku hafal betul bentuk rumah oppung di Sipolas, Parbaju Julu, Hutabarat. Aku juga tahu betul di mana-mana saja tanah basah dan tanah kering warisan oppung. Boleh dibilang, warisan tanah oppung ini masih “numpuk” karena belum pernah terbagi selama empat generasi. Sampai kelahiran ayah, naik tiga generasi ke atasnya, leluhur kami selalu punya anak lelaki satu.

Satu yang paling aku kagumi dari oppung Polin, orang tua ayah kami, ketelatenannya membuat tulisan-tulisan semacam buku harian. Kami cucunya pernah tertawa membacanya. Di “buku harian” oppung Polin itu dicatat bahwa ayah pernah dipukuli karena tidak mau sekolah. Ada lagi catatan yang menyatakan; oppung si Anu [tidak usah menyebut nama], ketangkap basah mencuri ikan mas oppung dari kolam. Pada lembar berikutnya, oppung mencatat bagaimana ia bersama salah seorang putrinya menanam pohon keras di Gonting-Gonting, tanah di gunung yang luasnya sekitar 4-5 Ha.

Wow! Oppung Polin the best deh! Buku harian “harta karun” yang ditinggalkan sungguh membuat kami kagum sekaligus bangga. Begitu telatennya oppung Polin dengan tanggal-tanggal tulisannya di buku harian itu. Satu spirit yang membuat kami cucunya berani bertarung ketika ada orang lain mengklaim tanah warisan oppung.

Seseorang, atau sekelompok orang yang pulang kampung dan menetap tentu banyak penyebab. Bisa jadi karena memilih hari tua [pensiun] ingin menghabiskan sisa hidup di tanah kelahiran. Ada juga karena ingin mengembangkan daerah dengan modal yang dibawanya dari rantau. Namun, ada juga yang karena “kalah”, tidak mampu bersaing di kota, alias tidak makan lagi…

Kelompok yang aku sebut terakhir ini menjadi bumerang bagi kami. Tiba-tiba saja mereka mengklaim tanah di Gonting-Gonting seluas kira-kira 2 Ha adalah warisan oppung mereka. Mereka ini hanya sebatas Dongan Sabutuha, tidak satu paradaton lagi. Dari silsilah Si Raja Nabarat, mereka ini masih tergolong adik kami, Parbaju. Setahu aku, Hutabarat digolongkan tiga besar; Sisonggulon, Hapoltahan, dan Pohan/Na Tumandi [maaf kalo rada salah] – Nah, keturunan Pohan/Na Tumandi ada 2; Partali dan Parbaju [masih ada sub-subnya ini]… Walaaah…, kok jadi matarombo pulak aku?!

Kelompok yang mengklaim tanah oppung Polin itu adalah dari golongan Partali, yang seturut sejarah yang dipaparkan orang mereka sendiri, adalah kelompok terakhir datang dari Pagarsinondi ke daerah Hutabarat sekarang. Karena seturut uraian si pemapar sejarah itu, keturunan marga Hutabarat pertama datang ke desa Hutabarat sekarang adalah kelompok Parbaju, Si Abangan. Jadi, sangat tidak dimungkinkan perbatasan daratan langsung berbatas kepada golongan “Si Pengklaim”. Masih lebih baik Parbaju berbatas kepada kelompok oppung *** [lupa namanya, tapi masih abang si pengklaim], ujar pemapar sejarah, ketika persoalan ini sampai ke hadapan Camat Tarutung sekitar 3-4 tahun yang lalu. Menurut pemapar sejarah, ketika Si Abangan Parbaju merantau ke Tarutung, ia juga membawa adiknya kelompok oppung ***. Tidak mengherankan bila sampai sekarang yang terlihat batas-batas daratan Parbaju lebih condong kepada kelompok oppung ***.

Kelompok Si Pengklaim tanah oppung Polin terlalu mengada-ada jadinya. Ketika pertemuan di kantor Camat Tarutung pun kala itu, dua kepala desa yang ikut, di hadapan wakil Camat, menyatakan; kalau di pengadilan kami yang pasti menang. Mereka tidak bisa menunjukkan bukti-bukti konkret kepemilikan/warisan oppung mereka, selain ninna tu ninna [kata-katanya, alias kabar angin]. Cuma bermodal provokator [seorang pegawai kantor bupati, yang tahu betul master planning pengembangan kota Tarutung], mereka memberanikan nyali mengklaim. Walaaah…!

Harus dilihat, hingga pertengahan tahun 90-an, boleh dibilang tak ada orang desa yang mau naik ke Gonting-Gonting karena dianggap tidak akan membawa hasil baik. Namun, ketika negeri ini dilanda demokrasi yang terkesan kebablasan, lantas dibangunlah perumahan Pemda yang langsung berbatas ke tanah warisan oppung Polin, ditambah adanya pengusaha sukses dari Jakarta membangun hotel bintang 3 [katanya], tidak jauh dari pertapakan tanah warisan, menggeliatlah manusia-manusia tak tahu diri itu terprovokasi. Ironisnya, mereka meng-anggar-anggar-kan [jagoannya], family mereka seorang Kolonel TNI yang sudah pensiun. Jangankan yang pensiun, yang belom pensiun pun kalau demi kebenaran dan keadilan, dikira takut apa? Emangnya, jabatan TNI & Polisi mau dipergunakan untuk urusan premanisme, apa? Malu dong anggar-anggar jabatan/pangkat, sudah pensiun lagi! Ingat dong kode etik jabatan! Gaji yang diberikan untuk makan keluargamu adalah dari rakyat! – Kalo memang merasa pemilik, buatlah gugatan ke pengadilan berdasarkan bukti-bukti. Bukan cuma ninna tu ninna [kata-katanya].

Kebodohan yang pernah mereka deklarasikan; “Kalau punya tanah/sawah di jurang, otomatis tanahnya sampai ke atasnya,” ujar mereka kala pertemuan di kantor Camat. Alamaakk…! Yang bodok kalilah Dongan Sabutuhaku ini, pikirku saat itu. Urusan jurang dan bukan jurang, tanah gak ada putus-putusnya. Kenapa gak mengklaim aja seluruh pulau Sumatera tanah warisan oppung kalian? Kan gak ada putusnya itu kalau dilihat dari sawahmu yang di jurang itu!

Malu aku sama Dongan Sabutuha itu! Serius! Sungguh malu aku jadi Mardongan Sabutuha dengan mereka. Selama ini kami keturunan oppung Polin tidak pernah mengaku-ngaku tanah yang bukan diwariskan kepada kami. Memang dapat dimaklumi, kebanyakan tanah di desa-desa manapun seluruh negeri ini masih jarang yang belum bersertifikat. Jadi, hal ini sangat mungkin dimanfaatkan orang-orang serakah, yang kebanyakan mereka muncul dari siboto surat [intelek, pegawai negeri, atau pengusaha]. Mereka masih beranggapan bahwa rakyat negeri ini masih bodoh. Kasihan banget, ya, orang-orang seperti mereka ini, bangga melihat bangsa sendiri masih bodoh.

Oh, Dongan Sabutuha! Sampai ke tingkat tinggi Pengadilan apapun di negeri ini, kami tidak akan surut selangkah. Miris aja aku melihat watak kotor kalian, kok sesama Dongan Sabutuha bukannya diajak membangun huta, malah mau menciptakan “perang”. Malulah sebagai orang Batak yang dikenal seluruh bangsa di dunia ini, suku yang kental dengan kekerabatan dalam ikatan Dalihan Na Tolu. Sekiranya tidak ada tona [pesan] dengan bukti-bukti, yang bukan saja surat, tapi mayoritas penduduk desa mengamini tanah Gonting-Gonting itu milik oppung Polin, kami keturunannya tidak akan pernah mengklaimnya. Di rantau kami tidak kurang makan, pren! Sadarlah para provokator di desa, jangan sampai turun murka Tuhan kepada keluargamu! Hidup di dunia hanya sementara. Kekayaan tidak terbawa mati. Tapi, laku dan perbuatanmu di dunia akan dihitung sebagai hukuman laknat bagimu nanti!

Kekuatan provokasi harus diakui, dan sangat berbahaya. Di antara Si Pengklaim terdapat pula Dongan Sabutuha, yang masih satu paradaton. Dalam punguan [kumpulan] adat masih satu klan, hingga punguan di tanah rantau. Namun, dasar “anak ini” tidak pernah makan sekolah, ikut-ikutan pula memihak Si Pengklaim, ngaku-ngaku bahwa tanah dia berbatas ke Si Pengklaim. Tanah yang mana? Sedang kami sudah dapat pengakuan dari empat orang pemilik tanah batasan yang menyatakan bahwa oppung Polin-lah batas mereka. Itu dituangkan dalam surat pengakuan batas di atas meterai. Aneh bin ajaib kan yang Mardongan Sabutuha itu? Kenapalah, hanya karena tanah yang tak seberapa, cuma dilandasi keserakahan, Pardongan Sabutuhaon tercabik-cabik?? Plis-lah, dongan [kawan]ku sesama suku Batak, kita lebih bijak dalam menghadapi era globalisasi ini. Lebih merapatkan persatuan, membangun bersama huta [kampung] kita itu. Botima! ***