coliseumScorpion

Sebagai orang yang pernah bersenimanria di seputar kegiatan Yakoma,
tentu saja aku tak bisa berpaling.

BERMULA dari berselanjar di blog, aku menemukan satu postingan blog dengan nama yang sudah tidak asing lagi; mulaharahap.wordpress.com. Aku coba klik…, langsung tampak wajah yang sudah sangat aku kenal. Hanya saja, rambutnya yang selalu gondrong dan jenggot mirip Yesus, kini lebih dihiasi uban dalam posisi umur 57 tahun.

Dorongan untuk ngajak kongkow-kongkow membuatku meninggalkan komentar di salah satu tulisan humor segar pada blognya, sambil tidak lupa menuliskan nama. Tapi, aku tidak terlalu berharap karena kutahu kesibukan si “Lae”, begitu aku selalu memanggilnya, sangat padat dengan perusahaan penerbitannya plus dirinya sebagai pengurus IKAPI Jakarta.

Besoknya, aku klik lagi blog si Lae itu, siapa tahu komentar yang kutinggalkan sudah dimoderasi. Memang sudah! Namun tidak ada komentar balasan. Aku lantas ber-warawiri ke imelku. Rupanya si Lae malah meninggalkan pesan juga di blogku. Salah satu pesan masuk di imelku juga dari si Lae yang memberi tahu kalau sejak tahun 2007, beliau diangkat menjadi Pjs. Direktur Yakoma. Tak lupa juga si Lae meninggalkan pesan agar kami kongkow lagi seperti dulu, membuat ide-ide baru untuk program kerja Yakoma yang akan dikembalikan ke “habitat” aslinya sebagai Yayasan Komunikasi Massa.

Liburan Imlek kami sepakati bertemu jam 12 siang di kantor Yakoma, daerah Cempaka Putih. Masih di rumah, aku coba mereka-reka arah kendaraan umum yang bakal kutumpangi. Dari Kampung Melayu ada bis ke arah Tanjung Priok melewati by pass. Aku masih bisa membayangkan jalan kecil menuju Yakoma, tidak jauh dari gedung kampus Jayabaya lama.

Jalan kecil menuju kompleks perumahan itu, dulu begitu akrab dengan langkahku. Sekitar tahun 1986, bersama beberapa anggota pemuda/i gereja yang tergabung dalam bendera PGI [Persektuan Gereja-gereja Indonesia], kami menjadi anggota sanggar Bahtera dibawah asuhan Yakoma. Kala itu kami aktif mengisi Mimbar Agama Kristen di TVRI. Juga kegiatan-kegiatan teater yang saban Sabtu kami sepakatan sebagai hari latihan.

Di terminal Kampung Melayu, aku tidak melihat bis jurusan Tanjung Priok. Penasaran, aku bertanya kepada salah seorang LLD yang kebetulan lewat di depanku. Ternyata, bis yang aku inginkan itu cuma satu yang beroperasi. Itupun baru berangkat. “Alamaakkk…! Cemmananya para operator bis kota di Jakarta ini sangat tidak bertanggung jawab membeli trayek,” rutukku sedikit jengkel hati.

Kuputuskan keluar terminal. Memilih taksi yang “tarif lama”. Dingin menyengat kontan menyambutku di dalam taksi. Mungkin juga terpengaruh cuaca yang akhir-akhir ini kurang bersahabat di seantero Jabodetabek.

Menjejaki jalan by pass setelah berbelok dari arah jalan Pramuka, aku suruh sopir taksi mengurangi laju kendaraannya. Malah sopir taksi masih sempat bertanya; “Universitas Jayabaya yang mana, pak? Yang baru atau yang lama?”

Aku bilang…
“Jalan aja terus. Aku tahu kok, mas…”

Melewati Jayabaya, mataku seperti tak berkedip memandang keluar kaca. Aku masih ingat ada jalan kecil. Tapi, udah di mana? Aku mulai keder dan bingung sendiri. Sopir taksi nyeletuk; “Kalau mau ke dalam kompleks, masuknya harus dari Taman Solo, pak. Jalan yang di sini sudah ditutup”

Bah?! Cemmana ini, pikirku. Sopir taksi aku suruh berhenti. Benar adanya. Jalan kecil yang dulu tak asing bagi langkah kakiku sudah ditutupi gerbang. Aku perhatikan, ternyata ada jalan khusus pejalan kaki. Buru-buru kuayun langkahku melewati dua gerbang pagar besar.

Masih ragu-ragu, aku berbelok sedikit seturut ingatanku jalan yang dulu sering aku lewati itu. Benar saja! Aku melihat papan nama; YakomaOh, my God! Aku tidak percaya melihat areal Yakoma yang sudah kayak rimbunan “hutan” kebon binatang Ragunan. Bagunannya pun sangat asing bagiku. Pendopo terbuka tempat dulu latihan teater, atau berdiskusi soal kebudayaan, sudah berganti bangunan padat, mirip kantor, atau kayak rumah tempat tinggal. Kantor Yakoma yang dulu mengesankan gedungnya orang-orang kreatif, juga berubah. Lebih mengherankan lagi, bangunan yang ditambah telah disulap jadi semacam penginapan. Aku sempat ragu; jangan-jangan aku salah masuk?

Karena memang hari libur suasana sekitar Yakoma jadi sangat sepi. Betul-betul seperti berada hutan kecil. Lae Mula belum muncul. Oleh penjaga aku diajak ke salah satu ruang tempat nonton televisi.

Hampir setengah jam lewat dari janji, aku coba call ke HP si Lae. Mailbox! Aku mulai resah. Namun oleh penjaga, hatiku sedikit lega akan kepastiannya yang mengatakan; “Pak Mula kemarin, emang sudah bilang akan datang jam 12. Dia pasti datang.”

Tak lama, Si Lae memang muncul dan langsung menyalamiku seraya tersenyum dan sedikit basa-basi bertanya, sudah berapa jam nunggu? – Akupun lantas diajak ke balairung pendopo baru. Biar lebih santai, katanya.

Masih penasaran melihat keberadaan Yakoma, yang menurutku sedikit memprihatinkan, si Lae lalu menceritakan bagaimana ia sampai mau ditunjuk sebagai pimpinan. Ada keinginan yang juga datang dari pemerhati Yakoma, agar Yakoma dikembalikan kepada “habitat”-nya – fungsi semestinya lembaga komunikasi yang selalu melakukan pembinaan terhadap gereja-gereja dan para kadernya.

Dari obrolan yang begitu panjang, si Lae mengajak agar aku turut serta memberi sumbangsih pemikiran untuk kembali mengibarkan Yakoma seperti dulu. Memang tidak mudah. Para seniman, budayawan, dan cendekiawan Kristen di era kemajuan tehnologi dan juga menjamurnya televisi swasta, terkesan berpaling akan sepak terjang Yakoma selama ini. Boleh jadi mereka melihat Yakoma tak lagi mengemban misi sebagai lembaga komunikasi yang dapat diandalkan oleh gereja-gereja. Yakoma seperti tidak tahan bersaing dengan kelompok-kelompok Kristen aliran baru yang kini merajai slot mimbar Kristen di televisi-televisi swasta.

Sebagai orang yang pernah bersenimanria di seputar kegiatan Yakoma, tentu saja aku tak bisa berpaling. Sumbangsih pikiranku mungkin tidak seberapa dibanding mereka yang pakar di bidang komunikasi. Namun, aku juga ingin melihat Yakoma bisa bangkit lagi dibawah kepemimpinan si Lae. Yakoma bisa lagi diharapkan gereja-gereja untuk membina para calon komunikator sesuai bidang masing-masing. Tentu saja untuk menarik perhatian yang telah berpaling selama ini, Yakoma harus membuat banyak kegiatan.

Di awang-awang pembicaraan kami, si Lae menyodorkan satu ide kegiatan. Membuat Festival Film Pendek Rohani. Aku pikir ini satu ide yang baik untuk menarik kembali perhatian para pemuda gereja berpaling ke Yakoma. Agar mereka juga merasa terwadahi dalam berkreasi. Aku juga menawarkan agar dalam waktu dekat diadakan juga sayembara menulis naskah drama Kristiani. Hal ini aku anggap perlu karena selama ini gereja-gereja sangat kesulitan mendapatkan naskah drama panggung untuk dipentaskan pada hari-hari Raya Kristen. Semoga!

Memang banyak pemikiran-pemikiran yang coba kami telaah dalam perbincangan itu. Pada intinya, aku bilang; Yakoma harus kembali bangkit! Untuk memperkenalkan Yakoma kepada generasi baru, dibikinlah satu acara, mungkin seperti nonton bareng sambil “iseng-iseng” mendengar masukan dari kaum muda, apa yang ingin mereka buat dengan Yakoma? – Yakoma: Bangkit dong! ***