_42532829_afp_taksi416.jpg

Berhasil melewati jalan Patra, papa berharap menemukan angkutan umum menuju Grogol. Ternyata tak satupun yang beroperasi. Makin dongkollah hati papa karena harus berjalan kaki sampai Grogol, kira-kira 2-3 Km.

Kepada Istri dan kedua anakku di Medan:

DUA BULAN setelah papa menghabiskan cuti tahunan bersama kalian di Medan, kesibukan di kantor agak menurun. Beberapa konsep sinetron yang ditawarkan bos-bos belum juga ada yang disetujui pihak programing.

Dengan begitu, meeting yang kerap menyita waktu papa hingga jam 10 malam di kantor, menjadi sepi. Papa pun akhirnya selalu on time, jam 17.30 teng, pulang ke pondokan di daerah Pancoran.

Kenikmatan papa setiap hari naik angkutan umum sudah merasuk. Malas mau beli sepeda motor yang akhirnya capek banget menghadapi kemacetan Jakarta. Papa lebih suka rutinitas naik angkot 03, Srengseng-Meruya-Citraland.

Tak jauh dari pintu Tol Kebun Jeruk, menjadi tempat papa naik angkot 03 itu. Sampai diperhentian terakhir, tidak jauh dari Citraland Plaza, papa cukup membayar dua ribu limaratus perak. Kemudian diteruskan naik bis kota PPD 46 jurusan Kp. Rambutan-Grogol. Papa akan turun di daerah tugu Pancoran, dan diteruskan naik Metro Mini 62 ke arah Manggarai.

Di bibir awal bulan Pebruari 2008, Jakarta diguyur hujan lebat sejak malamnya. Masih beruntung ketika berangkat ke kantor hujan sedikit reda. Sepanjang perjalanan menuju pintu Tol Kebun Jeruk, papa mulai curiga dengan kemacetan sepagi itu.

Kecurigaan papa terbukti. Menjelang pintu Tol Kebun Jeruk, jalan tol sudah tergenang air sepanjang kira-kira 100 meter. Dapat dimaklumi kendaraan lebih hati-hati memilih kemiringan jalan tol yang lebih tinggi untuk menghindar kedalaman genangan air.

untitled-1-copy.jpgTurun di shelter pintu Tol Kebun Jeruk, hujan kembali deras. Sepatu kets papa yang putih mulai dilumuri lumpur. Jalan di depan kompleks RCTI ternyata sudah digenangi air hampir selutut. Dengan hati dongkol, papa terpaksa membuka sepatu, lalu menggulung celana hingga di atas lutut agar tidak basah menyeberangi banjir yang sudah melanda jalan Pejuangan. Papa dongkol karena pemerintah daerah DKI Jakarta belum juga bisa mengatasi banjir yang saban tahun berulang. Banjir kok dipelahara, ya?

Tiba di kantor, papa ditertawakan mas Bambang, OB [office boy] kantor yang sudah langganan bikin kopi papa setiap siang harinya. Papa hanya masem masih diliputi rasa dongkol sambil berlalu ke ruang kerja.

Istri dan anak-anakku. Hujan terus melanda Jakarta hingga sore [sempat berhenti, mungkin kecapekan, ‘kali]. Kalau waktu-waktu yang lalu papa cuma bisa prihatin melihat orang tertimpa banjir, rupanya papa harus juga turut merasakannya.

Seperti papa katakan di atas; karena kesibukan produksi di kantor belum padat, papa pun pulang on time. Melihat mendung masih begitu tebal di langit Jakarta, papa lantas buru-buru menuju pintu tol Kebun Jeruk.

Karena angkot 03 banyak, penumpang tidak terlalu lama menunggu. Dengan sok yakinnya, papa main naik saja tanpa tahu persoalan. Kebiasan angkot ini selalu ngetem sebentar di depan apartemen Kedoya. Papa curiga melihat tumpukan penumpang di sana. Dua orang penumpang yang berdiri di trotoar bertanya kepada si sopir angkot;

“Citraland, ya, mas?”

“Gak bisa, mbak. Cuma sampai Asem…” balas sopir, membuat papa terhenyak bingung.

“Lho?! Gak nyampe ke Citraland, mas?” tanya papa rada blo’on.

“Enggak, pak.”

“Gimana sih? Kenapa gak bilang dari tadi,” rutuk papa sambil turun dari angkot. Ternyata bukan hanya papa yang terkejut. Penumpang lain pun jadi ikut-ikutan turun.

Papa bingung. Mau naik apa pulang? Mau naik taksi, takut malah kejebak banjir sehingga membuat argonya membengkak. Dalam kebingungan, papa mencoba ke jalur angkot 14, yang juga menuju Citraland. Angkot inipun tidak ada yang nongol. Hampir sejam papa nunggu, tak juga menampakkan ujudnya. Makin banyak papa lihat penumpang yang terlantar berkumpul.

Ya, sudah! Papa lalu putuskan naik angkot 03 lagi tanpa harus memusingkan akan diturunkan di mana. Yang penting, lebih dekat ke Grogol akan lebih mudah mendapatkan transportasi.

Pikiran papa yang “digenangin” pertanyaan-pertanyaan, akhirnya terjawab. Angkot yang papa tumpangi cuma sampai di ujung jalan Patra, daerah Green Garden. Sepanjang jalan Patra sudah digenangi air, sehingga sepeda motor dan mobil berpikir untuk melewati. Namun, ada juga yang nekat.

Papa sudah tidak memusingkan persoalan yang ada di hadapan papa. Hidup tidak selamanya enak. Papa harus pasrah menerima kenyataan, menenteng sepatu dan menggulung celana hingga ke paha. Papa terpaksa mengikuti orang lain melewati genangan air setinggi 50-60 cm. Basah sudah celana papa hingga ke pantat.

Berhasil melewati jalan Patra, papa berharap menemukan angkutan umum menuju Grogol. Ternyata tak satupun yang beroperasi. Makin dongkollah hati papa karena harus berjalan kaki sampai Grogol, kira-kira 2-3 Km.

Papa coba mencari-cari jalan pintas. Karena air juga menggenangi jalan di depan Pasar Kopro, papa terpaksa mencari jalan alternatif. Masuk gang keluar gang. Papa lumayan sukses tersesatnya karena memang belum pernah lewat di daerah itu. Hanya satu arah patokan papa; puncak gedung Citraland.

Walau capek dan kedinginan membebat tubuh, papa sampai juga ke jalan tempat perhentian akhir angkot 03. Aman? Ternyata tidak! Malah lebih parah dari yang papa lewati tadi. Papa seperti tidak percaya melihat jalan utama dan jalan tol kota di depan Citraland sudah seperti laut.

Kepalang basah! Papa lalu naik ke jembatan penyeberangan. Banyak orang lalu-lalang, tentu dengan pakaian setengah basah. Tidak ada lagi rasa malu dengan penampilan diri. Di seberang papa berharap menemukan undakan trotoar yang belum tergenang banjir. Perkiraan papa meleset! Genangan air sudah menutupi trotoar sampai menyentuh ujung tanjakan fly-over Grogol. Di atas fly-over papa lihat antrian panjang kendaraan yang sempat terjebak.

Dengan langkah hati-hati, takut kejebak lobang parit, papa kembali menerobos genangan air mengikuti orang lain. Kami berbaris satu-satu melangkah menaiki undakan pagar jalan Tol yang lumayan tinggi. Susah sekali melangkah seraya mencengkram pagar jalan Tol. Tapi mau apa lagi? Papa harus segera sampai di pemondokan.

Lepas dari banjir yang sangat mendongkolkan hati, papa harus berjalan kaki lagi sampai ke daerah Tomang. Seorang tukang ojek menawarkan diri. Papa bilang; mau gak ke daerah Pancoran?

“Bapak mau tawar berapa?” ujar tukang ojek. Matanya nanar memandangi celana papa yang sudah kuyup. Sepatu papa juga basah. Rasanya dingin sekali.

“Lho, yang tukang ojek aku apa mas? Kok, aku yang disuruh kasih patokan harga?” balas papa mulai tidak enak hati. Papa tahu, orang-orang seperti ini otaknya suka picik. Mereka sering memanfaatkan penderitaan orang untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.

“Nanti kalo saya bilang, bapak marah. Kalo mau bayar 50 ribu saya antar deh.”

“Haah…?! 50 ribu?!” – Benar kan yang papa bilang tadi. Dia mau ambil kesempatan dalam penderitaan papa. Bangsa negeri kita ini memang makin parah! Tidak ada lagi rasa Kasih. Pada setiap penanggulangan bencana alam, selalu dimanfaatkan orang-orang serakah untuk memperkaya diri.

Karena kesal merasa mau dimanfaatkan, papa cepat berlalu tanpa peduli dengan tawaran si tukang ojek yang lebih rendah. Papa sudah keburu hilang simpatik.

Papa terus berjalan hingga melewati prapatan Tomang. Di sana papa lihat tumpukan penumpang yang menunggu bis kota. Tidak ada angkutan umum yang lewat, kecuali bis luar kota dari arah Merak. Taksi pun tak ada yang muncul.

Tak ingin kemalaman, papa putuskan berjalan terus. Tak peduli kalau harus jalan kaki sampai di pemondokan. Sudah nasib papalah hari ini apes karena banjir di Jakarta masih dipelihara.

Tak jauh papa berjalan, seorang tukang ojek lain yang meluncur melawan arah menawarkan diri. Duapuluh lima ribu. Papa tawar duapuluh ribu, tak mau dia. Ya, sudah! Papa pun mengalah saking udah gak tahan dinginnya.

Inilah salah satu dilema yang dimiliki kota Jakarta, sebagai Ibukota Negara, sehingga papa masih berat mengajak kalian pindah ikut papa. Belum lagi macet di mana-mana. Tingkat kriminalitas yang naik terus. Menjadi kota “pengemis” saking banyaknya gelandangan, pengamen, dan tukang minta-minta, yang entah gimana pikirannya bisa berani datang ke Jakarta tanpa memiliki skill untuk siap bersaing.

Konyolnya lagi, Pemerintah Daerahnya suka bikin banyak Perda [Peraturan Daerah], tapi hanya macan di kertas doang! Implementasinya di masyarakat: Emangnya gue pikirin?! – Yeaah… begitulah, isteri dan anak-anakku. Papa harus melewati semua itu demi melanjutkan hidup kita ini. Salam peluk cium dari Papa…! ***

***