cakeMawar valentine1lambang valentineCinta

“Happy Valentine. Biarlah kita menjadi virus untuk menebar cinta kasih di manapun langkah terjejak. Dengan begitu dunia pun akan diterangi”

SUARA SMS handphone-ku menyalak menyentakkan kenikmatan tidur. Semalam saya lupa mengecilkan volume. 14 Februari 2008, jam 05.55 WIB. Saya bangun dan membuka file pesan masuk. Dari Danda, teman kantor yang saban hari di depan komputer mengedit hasil syuting lapangan. “Tumben! Ada apa nih kawan?!” batinku penasaran. Kubaca SMS-nya: “Happy Valentine…

Alaamaakk…! Serasa “romantis” ‘kali kawan itu. Saya dan Danda kan sama-sama cowok [??]. Bingung, saya terduduk di tepi ranjang. Selama ini saya kurang peduli dengan valentine, entah jenis hari raya apa itu. Memang tiap tahun saya melihat setiap tanggal 14 Februari, khususnya remaja, akan disibukkan dengan valentine ini. Katanya sih, Hari Kasih Sayang!

Ya, sudah! Itukan miliknya kawula muda untuk mengekspresikan rasa kasih dan sayangnya terhadap sang pacar [?]. Makanya, saya balas SMS Danda singkat aja: “You too. Gbu” – Saya gak tahu mau bilang apa lagi, karena memang saya gak ngerti “ritual” valentine itu.

Sedang asyik warawiri di internet, tiba-tiba masuk lagi SMS. Dari seorang teman blogger [istri orang], berbunyi: Happy Valentine Day. Setiap kita terlahir karena cinta. Mari kita pupuk hati yang penuh cinta itu agar tumbuh subur dan mekar indah di dunia. Cinta seperti matahari. Di ufuk Timur ia memberi kehangatan dan penerangan tanpa pamrih. Di ufuk Barat ia memberikan keindahan senja-nya. Mari kita beri kehangatan dan terangi dunia seperti matahari di sana dengan hati yang penuh cinta kasih.

Saya tertegun membacanya. Selain kata-katanya indah, maknanya pun begitu dalam kurasakan. Itukah sejatinya hari Valentine itu? Saya masih penasaran. Tiba-tiba pintu ruang kerja kantor terkuak. Muncul Mila, rekan kerja, dan langusung kutodong dengan pertanyaan.

“Mila…, apa sih sebenarnya makna hari Valentine itu?”

Dengan lincahnya, Mila spontan menjawab.

“Itu kan awalnya diambil dari hari lahir Santo Valentinus, yang suka membantu orang-orang susah.”

“Ooo, gitu. Bukannya hari seseorang mengungkapkan rasa kasihnya pada orang yang paling dicintainya? Kok, sepertinya sekarang konotasi valentine day itu lebih kepada ungkapan rasa cinta [pacar]?”

“Ya, gak tahulah, bang. Persepsi orang kan berbeda-beda,” ujar Mila sambil sibuk menyalakan komputernya.

Penasaran, saya lalu mengklik Wikipedia. Apa yang dikatakan Mila tadi tak kutemukan dalam biografi Velentinus. Malah di sana dikatakan; Valentinius menjadi kandidat untuk uskup Roma (sekitar tahun 143) dan bahwa ia kalah dengan perbedaan suara yang sangat kecil, [Wikipedia]. Disebutkan juga, karena kekalahannya ini, Valentinus sangat kecewa dan marah sehingga meninggalkan imannya, dan menjadi pengajar sesat [??].

Tidak ingin terlalu “mabuk” dengan Valentine’s day, karena memang daya jangkau pikiranku tentang hari raya yang satu ini cuma mengartikan hari kasih sayang, saya lantas membalas SMS dari teman blogger itu, begini: “Happy Valentine. Biarlah kita menjadi virus untuk menebar cinta kasih di manapun langkah terjejak. Dengan begitu dunia pun akan diterangi”.

Usai makan siang, aku temukan ada cokelat di atas meja kerja yang dibalut tulisan Happy Valentine Day! Saya bingung, tidak tahu dari siapa. Muncul Agus, rekan sekantor juga, memberitahu kalau cokelat itu dari mbak Seli, bos kedua di kantor.

Valentine? Hari kasih sayang, tukar menukar kado, bagi-bagi cokelat, dan yang selalu bersimbol warna pink, terserah masing-masing sajalah mempersepsikan tujuannya. Yang pasti, aku lebih setuju dengan ucapan SMS Valentine day dari Hanna, temanku, blogger yang kerap merasa miris pada orang-orang miskin. ***