Harry Potter
Begitu hidup, menarik, bertutur, dan sangat indah.

 

NASI SUDAH JADI BUBUR. Mungkin ungkapan ini cocoklah saya alamatkan untuk sinetron-sinetron yang sudah tak terbendung lagi kehadirannya. Menjadi tayangan primadona hampir disemua televisi swasta untuk maraup keuntungan dari slot iklan. Untuk hitungan bisnis sah-sah saja. Akan tetapi, apakah bisnis itu harus menjadi dewa meloloskan segala cara untuk sepang terjangnya? Apakah bisnis itu bernurani?

Sulit saya menjawabnya, karena memang tidak mengerti; bisnis itu sejatinya apa sih? Paling juga yang saya tahu, bisnis itu adalah perputaran uang untuk mendapatkan keuntungan. Tak peduli jurusan bisnis apa yang digarapnya. Dan, yang saya dengar-dengar, bisnis itu masih saudara kandung dengan industri. [bah, mengapa pula dulu saya meninggalkan bangku kuliah ekonomi sehingga terasa bodoh tentang bisnis dan industri?]. Biarlah!

Salah seorang petinggi salah satu stasiun televisi, dan dianggap pakar karena kiprahnya sudah sejak zaman monopoli TVRI, pernah berujar: “Televisi (broadcast) harus ditempatkan dalam dua posisi. Sebagai industri budaya dan sebagai institusi bisnis. Dalam melangkah di dua posisi itu, akan selalu terjadi pertarungan antara dua kepentingan, yaitu antara idealisme dengan realita bisnis.” – Heheheehe… dan yang sudah pasti jadi pemenang adalah “bisnis”, kereta kencana para kapitalis.

Yang mengganjal pikiranku; sinetron/film sejak awal sudah diplot mati ke kategori bisnis industri. Tak ada yang perlu diperdebatkan. Titik! Memang betul, tanpa hitung-hitungan uang kesinambungan produksi akan tersendat. Saya juga mengamini hal ini. Masalahnya, kenapa produk hiburan ini tidak diikuti dengan para pembuat [kreator] yang mumpuni dibidangnya? Kenapa tidak memberi – sedikit saja – pencerahan jiwa bagi kemajuan berpikir anak-anak bangsa ini?

Kita tidak usah heran bin bingung. Kiprah pertelevisian di negeri “simsalabim” ini belum dapat disebut “tersegmentasi”. Masih terlihat gamang satu dengan lainnya. Rating terlalu menjadi ideologi televisi. Mungkin, karena tuntutan rating ini pulalah para pengelola programing televisi jadi enggan bersusah pikir untuk membuat program yang bersifat idealistis. Sehingga dengan membeo booming acara salah satu stasiun televisi lain dianggap sah-sah saja. Tiru meniru tidak lagi dianggap “dosa”, dan duplikasi program dijadikan “kebanggaan” para kreatif programing. Iiiihhh… menyebalkan!

Awal menceburkan diri ke dunia “industri” broadcast, saya masih rada gamang, sedikit traumatis, bagaimana diera jayanya film negeri ini begitu sulit menjadi pekerja film. Ada kriteria dan tahapan tertentu. Menjadi seorang sutradara, penulis skenario, penata lampu, penata kamera, dan lain sebagainya – tidaklah begitu mudah untuk diraih seseorang. Harus ada rekomendasi dari KFT – Karyawan Film & Televisi – sebagai wadah insan pekerja film. Sebagai contoh; Untuk menjadi sutradara, seseorang harus terlebih dulu menjadi asisten sutradara minimal 5 judul film.

Beda dengan sekarang yang serba instan. Tidak memerlukan rekomendasi-rekomendasian. Makanya, KFT mati suri. Seseorang yang tadinya penata lampu, atau seseorang bagian artistik, tiba-tiba saja sudah menjadi sutradara. Seorang yang tadinya cuma sebagai script lapangan atau seorang clepper boy, tiba-tiba saja sudah menjadi penulis skenario. Padahal, belajar menulis skenario saja belum pernah. Yang simsalabimnya lagi, ada pula rekan sutradara sekarang yang bangga dan merasa sukses bisa menyelesaikan syuting filmnya dalam tempo 7 hari. Film apa sinetron, tuh? Yah, sinetron yang diputar di bioskop kale, yee!

Amin-amin saja sih dari yang enggak basic menjadi seseorang yang beda asal memang memiliki kecakapan dan kedalaman. Yang sering terjadi diproduksi sinetron/film kita, seseorang yang cuma baru mengetahui kulit ilmu penyutradaraan atau penulisan skenario, sudah berani mengaku diri, bisa! Mungkin mereka berpikir bahwa membuat sinetron/film itu sama seperti seorang koki [tukang masak]. Betul! Siapa saja memang bisa memasak. Tapi, masak apa dulu? Air teh atau mie instan? Anak kecil juga bisa! Tak heranlah sinetron/film kita banyak yang garing [yang penting keryuk-keryuk, soal rasa nanti saja]. Cerita dan visualisasinya tidak memiliki kedalaman [cita rasa]. Sorry-sorry aja kalau saya selalu menyebut frame shot by shot sinetron kita sebagai; telor ceplok. Ceplok sana ceplok sini – frame gambar tak bermakna. Hasil caplokan kamera yang statis. Kayak bidikan tukang gambar keliling dengan kamera polaroid. Sialnya, bila kita coba kritisi, para kreator karbitan itu dengan entengnya menjawab; “Itukan permintaan produser.” – Jadi dilematis dan sangat tidak mau pintar. Bahkan ada yang dengan sok idealisnya menyalahkan shooting day’s yang cuma 3-4 hari per satu episode. Ya, berabe dong kalo cuma saling melempar kesalahan, tapi tidak berusaha lebih maksimal. Kalau seseorang sudah memiliki kedalaman – cita rasa – tentang pekerjaannya, orang tersebut pasti berusaha mengantisipasi pola kerja yang harus diterapkan sehingga melahirkan hasil yang maksimal. Bukan lantas dalih berdalih!

Sebelum menjadi orang kantoran, saya paling gak mau menonton telenovela, serial Korea, Taiwan, dan Jepang. Aku pikir, apa bedanya dengan sinetron dalam negeri. Toh, acuan bisnisnya terinspirasi dari keberhasilan negara-negera tersebut menjual karyanya. Namun karena tuntutan kerja, mau tidak mau saya jadi banyak menonton serial Korea dan Taiwan. Apa yang saya dapat dari sana?

Aku tersentak, seperti baru dibangunkan. Ternyata serial Korea dan Taiwan sangat menarik. Baik dari unsur kekuatan cerita, maupun pembuatannya yang lebih mendekati ke film sesungguhnya. Frame shot by shot mereka tidak telor ceplok. Begitu hidup, menarik, bertutur, dan sangat indah. Walau penuturan alur ceritanya terasa lamban, namun tidak membuat kita jenuh. Ada sesuatu yang kita tunggu sehingga betah untuk melanjutkan ke episode selanjutnya.

Saya pikir, Korea dan Taiwan sudah berhasil menerapkan pola pembuatan serial gaya Amerika. Hasil “terkaman” kamera mereka terasa luas, namun punya kandungan kekuatan cerita. Tidak asal full shot. Sebaliknya, sinetron negeri kita malah berusaha untuk lebih minimalis. Istilah kerennya di lapangan; gambar padat-padat – close up to close up. Suasana sangat tidak terbangun. Bahkan kadang, establish rumah tinggal tokoh utamanya penonton tidak mengenali.

Sudah amburadul konsep filmisnya, konon sinetron/film kita diperparah lagi dengan usungan cerita yang sangat dangkal – hasil curian [jiplakan] lagi dari serial sinetron negara-negara yang saya sebut di atas – lantas ditambah pencurian cerita-cerita film dari negerinya si Shahrul Khan. Hasil dari pencurian [jiplakan] inilah yang berperan besar melahirkan penulis-penulis skenario karbitan, yang sering dielu-elukan produser sebagai penulis rating. Kasihan memang! Satu-dua orang memang ada juga yang berhasil jadi penulis benaran. Namun, tetap saja pola awalnya tidak bisa dilepas. Suka bikin dialog tokoh ceritanya ngomong sendiri kayak orang gila. Hebatnya lagi, terlalu seringlah scene plot didatangkan dari luar. Istilahnya, penulis kita cuma mengikuti scene plot dari penulis luar, lalu dibuatkan dialog bahasa Indonesia.

Terus terang, saya itu masih punya pengharapan bahwa sineas negeri ini masih bernurani untuk lebih pintar dalam berkarya. Kenapa Korea, Taiwan, dan Jepang berhasil memadukan idealisme dengan bisnis dalam produksi sinetron/film mereka? Seharusnya ini bisa menjadi pemacu kreativitas para kreator sinetron/film dan produser negeri ini untuk lebih memberi warna pada pembentukan pola pikir anak-anak bangsa akan sesuatu hal dalam kehidupan ini. Tidak cuma mikirin untung berlimpah, tapi miskin dalam memberi pembelajaran. Janganlah selalu bangga melempar jargon; Sinetron dan Film itu adalah produk industri. Tidak perlu sok berbijak deh. Kalau sedikit idealisme bisa jadi industri, kenapa tidak? Hmmm… ***