Stop KelaparanLauk

“Puasalah kau! Makanya, ibu tidur-tiduran biar laparnya diam…”

 

Jakarta Tempo Dulu

AKU PIKIR ada baiknya seandainya rasa-perasaan kutuang dalam larik puisi. Kadangkala, bila

kejenuhan membeban pikir – melihat ketidakadilan dihukum mati – melihat kekasih hati mendua bijak – tergulung prihatin, rakyat jelata menjerit tak mampu injak pasar – kesemerawutan kota idaman bangsa – pembodohan masyarakat terjadi disegala lini – Sehingga aku merasa capek mengasah benak untuk menulis yang belum tentu dengar-dengar bagi para pemimpin.

Kegalauan jiwa yang ingin berontak, kadang lebih enak aku ucap dalam baris puisi, walau diri tidak merasa sebagai penyair. Marah diri selalu melahirkan penyakit, toh negeri ini masih jauh untuk berpintar. Yeah, mungkin itu saja dulu…

Kegundahan Si Ibu

“Bu! Hari inikan hari pasar. Kenapa juga ibu belum pergi belanja?”
Prihatinkita menegur ibunya yang masih malas-malas tiduran di bale.
“Memangnya gaji bapakmu sudah naik?”
Balas ibu seraya menggeliat miringkan badan dengan kaki ditekuk miring setengah meringkuk kayak orang penyakitan.
“Apa hubungannya, bu? Selama ini juga sudah gitu.”
Bawel Prihatinkita, tidak suka melihat ibunya bermalas-malas.
“Gaji bapakmu tidak naik, tapi semua dagangan di pasar pada naik. Para pemimpin negara ini tidak becus mengurus rakyatnya. Mereka sih enak. Gaji gede, tunjangan besar, dan sampingan lebih banyak lagi. Bapak kau?! Cuma OB [office boy] – Kalo OB yang di tivi itu masih lumayan, bisa terkenal. Ini, cuma OB yang bergaji dibawah satu juta…”

Rutuk si Ibu kesal karena kesantaiannya terusik.
“Jadi, hari ini kita makan apa dong, bu?”
“Puasalah kau! Makanya, ibu tidur-tiduran biar laparnya diam…”

Prihatinkita mendengus kesal. Berbalik dan melangkah menuju kamarnya yang hanya berpintu tirai dekil.

Untuk mengusir rasa laparnya, Prihatinkita membuka buku puisinya. Ia ingin menulis puisi tentang angkara murka negeri ini, namun otaknya tak dapat lagi diajak becanda. Lalu dibaliknya lembar terakhir puisi yang ditulisnya seminggu yang lalu. Tentang kekasihnya yang akan menikah minggu depan. Kesedihan Prihatinkita kontan berlipat-lipat. Sudah ditinggal kekasih, konon lagi persediaan makanan di rumah tidak ada.

Tiba-tiba hati Prihatinkita ciut. Ia teringat berita di tivi yang ditontonnya di rumah tetangga tentang kematian ibu dan anak di Makassar karena kelaparan. Ketakutan menyelimuti benak Prihatinkita. Ia tidak mau mati seperti ibu dan anak itu. Prihatinkita masih mau hidup – wong belum kawin – gimana mau rela mati karena kelaparan?

Leluhur DarwinSebentar Prihatinkita tercenung. Kemarin dia ketemu si Panggosa. Dia diajak kerjasama untuk mencuri, menodong, atau mencopet.

“Gak capek. Lu punya nyali, lu pasti makan,”
Prihatinkita teringat ocehan si Panggosa.

Prihatinkita bimbang, apa yang harus dilakukan? Dia benci kelaparan. Dia benci pengangguran. Dia sebenarnya benci perbuatan jahat. Dia juga sudah muak melihat tingkah laku para pemimpin yang selalu tak punya inisiatif.

/ Ada gak rekan-rekan pembaca yang bisa kasih solusi buat prihatinkita?

 

 

[puisi kegundahan cinta Prihatinkita, katanya] – [asal aja!]

Si Merpati Mungil

mengepak sayap merpati mungil
mengembara di awang cinta
menghilang di peluk kekasih
malam tak lagi punya mimpi

mengapa harus lara
yang tinggal di ujung asa
merpati punya kekasih
tak tergugat oleh umur baya

mengepak sayap merpati menjauh
bersama kekasihnya menguntai pelaminan
coba ukur jalan di depan
hanya gugu yang kupunya

diam…
diamlah serunai getar asmara
tak terajut berpadu harmoni
terlalu jarak waktu kelahiran
puluh tahun tak bisa mengikat
janur kuning tak perlu dipasang

hanya pandang yang bias menerawang
merpati mungil menghilang di balik awan
setangkup rasa ingin mencinta
kulepas tak berarti

 

Tulisan terkait: