Pola pikir hidup manusia layaknya sebuah bangunan. Tidak serta-merta lahir menjadi seorang cedekiawan, ahli ekonomi, atau ahli agama…etc.

diaryblogdotcom [19 Mei 2008]. Ketika masuk ke ranah blog seorang teman, saya lumayan mikir baca postingan teman itu tentang pernyataan seseorang yang bernama J. Krishnamurti. Saya tidak tahu si Krishnamurti ini siapa, walau di toko buku sering saya lihat buku-buku dengan nama dia. J. Krishnamurti, sopo toh?

Saya lumayan mikir karena di postingan blog teman itu ada pernyataan Krishnamurti sebagai berikut: “Saya nyatakan bahwa kebenaran adalah wilayah tanpa jalan [Truth is a pathless land], dan kalian tak dapat mendekatinya melalui jalan apa pun, melalui agama apa pun, melalui sekte apa pun. Itulah sudut pandangku, dan saya berpegang pada itu secara mutlak dan tanpa syarat.”

Menurut postingan di blog teman itu [baca di sini], Krishnamurti menyatakan hal itu ketika dia membubarkan tarekat yang dipimpinnya setelah mendapat pencerahan – entah dari mana pula dia mendapat pencerahan tiu.

Lantas berikutnya dari pernyataan itu Krishnamurti menyatakan: Kebenaran, yang tanpa batas, tak terkondisi, tak dapat didekati melalui jalan apa pun, tak dapat diorganisir; tidak semestinya dibentuk suatu organisasi untuk menuntun atau memaksa orang menempuh suatu jalan tertentu. Anda mungkin membentuk tarekat-tarekat lain, Anda akan terus masuk organisasi lain untuk mencari kebenaran.”

Saya benar-benar lumayan mikir membacanya. “Lho, Kebenaran sejatinya itu menurut Krishnamurti, apa dong?” – Bukankah manusia harus memiliki satu pondasi keyakinan – iman, sehingga manusia bisa mengetahui kebenaran itu kayak apa? Pola pikir hidup manusia layaknya sebuah bangunan. Tidak serta-merta lahir menjadi seorang cendekiawan, ahli ekonomi, atau ahli agama…etc. Ada proses. Ada peningkatan cara pikir sesuai dasar bimbingan orangtua, yang suatu waktu akan terakumulasi dengan sisi kiri-kanan di mana manusia itu berinteraksi dengan manusia lainnya. Bersinggungan dengan ilmu-ilmu yang didalaminya. Namun, setiap manusia tetap berangkat dari pondasi ajaran [pencerahan, kalo boleh disebut] seturut spritual yang dianut orangtuanya. Kalau memang suatu hari kelak cara pandang seseorang itu berubah terhadap pondasi spritual turunan dari orangtua, sah-sah saja tanpa harus memposisikan diri sebagai yang ‘terbenar’.

Saking tergelitiknya pikiranku yang lumayan kenes, saya lantas meninggalkan komentar di postingan blog teman itu: Wah, berabe juga tuh, sli… Mungkin terikat secara fanatisme memang jadi kendala. Namun menurut saya, boleh-boleh aja tuh manusia memiliki komunitas, yang tentunya untuk saling menghargai perbedaan. Toh, manusia tidak hidup sendirian di muka bumi ini. Harus memiliki interaksi. Kalo semua menjadi individualistis, dasar berpijak kita untuk sebuah keyakinan, apa dong? Memang, si A atau si B masuk sorga apa enggak [?] tergantung dari prilakunya sesuai ajaran dogma agama yang dianutnya. Si Krishnamurti sejak lahir, apa sudah langsung jadi seperti sekarang cara berpikirnya? Pasti dong di masa-masa kecilnya dia dicekokin ajaran salah satu agama? Itu yang disebut pijakan awal. Manusia tidak ujug-ujug jadi begini atau begitu.”

Sepertinya, pernyataan Krishnamurti dalam postingan yang saya baca itu; mencoba memprovokasi orang agar tidak membentuk tarekat/organisasi, apalagi yang berbau-bau keagamaan. Saya pun lantas lumayan heran; Bukankah dengan mengeluarkan pernyatann seperti itu Krishnamurti telah memobilisasi orang untuk mengamini pemikirannya itu? Menghimpun pemikiran orang agar seperti pemikiran dia? Secara organisatoris memang tidak terstruktur. Namun, disadari apa tidak; Krishnamurti telah membuat tarekat secara pola pikir. Bahkan sedikit “memaksa” dengan pernyataan yang begitu meyakinkan.

Untuk selanjutnya pernyataannya, Krishnamurti ngomong gini lagi: “Aku tidak menginginkan pengikut. Pada saat kalian mengikuti seseorang, kalian tidak lagi mengikuti Kebenaran. Oleh karena aku bebas, tak terkondisi, utuh, bukan bagian, bukan relatif, melainkan seluruh kebenaran yang abadi, aku menghendaki mereka yang ingin memahamiku, untuk bebas pula, bukan mengikutiku, bukan membuat dariku sebuah kurungan, yang akan menjadi sebuah agama, sebuah sekte”.

Membaca pernyataan ini, saya melihat bahwa Krishnamurti mencoba ‘silat lidah’ – lumayan diplomatis agar tidak terkesan memaksakan pola pikirnya. Ya, memang. Terserah orang mau mempersepsikan kayak apa. Menurut saya, dengan pernyataan terakhirnya itu, Krishnamurti sesungguhnya telah menunjuk dirinya seorang yang arogan, yang cuma mempercayai dirinya suatu kebenaran yang abadi.

Manusia memang memiliki hak kebebasan yang sejati untuk memilih, mengikuti, dan menerapkan apa yang didapatnya dari setiap segi pergerakan hidupnya. Monggo! Namun cara pikirku; Tetaplah bijak dalam kehidupan ini. ***