Rating cuma “pemaksaan” kepuasan penonton karena tidak ada pilihan lain yang lebih berkwalitas dari yang sudah ada.

diaryblogdotcom [30 Mei 2008]. – JUDUL di atas adalah bahasa Batak yang berarti; siapa yang seperti saya?

Ungkapan ini selalu saya rasakan mengandung kesombongan, narsisme – yang apabila ditambah penekanan aksentuasi emosi, maka kian kentallah perwujudan arogansinya. Tak ada lagi rasanya yang bisa menandingi – kehebatan, populeritas, kekuasaan dan uang. Orang lain hanya cere-cere yang mesti manut kayak ayam yang mau bercinta.

Seniman selalu dikesankan egois, merasa selalu paling benar, dan kadang terkesan pula suka mengisolasi diri. Mungkin ada benarnya juga sih. Karena saya pernah mengalami dunia yang seperti itu. Biasanya seniman-seniman muda selalu lekat dengan idealisme. Sah-sah saja untuk mendapatkan sejatinya kesenimanan itu. Hanya saja, menurut pemahaman saya, itu tidak akan berlaku ketika seorang seniman itu mencemplungkan diri demi sesuap nasi ke ranah industri. Harus lebih toleran dan membuka diri untuk sebuah kompromi bisnis. Tidak semena-mena mempertahankan idealisme sementara pasar – seturut para bisnisman – tidak menerima.

Tiga minggu akhir-akhir ini, saya cukup pusing mikirin seorang penulis skenario yang cukup rajin saya anggap mengirim puluhan sinopsis ke kantor. Semangatnya yang tinggi dan menggebu-gebu cukup sukses juga menohok rasa empati saya. Padahal, dari puluhan sinopsis yang dikirimnya, maaf-maaf saja, tidak ada yang menarik untuk dijual di ranah industri pe-sinetron-an negeri Simsalabim ini. Garing, linear, dan tidak akan bisa menarik simpati penonton bila diproduksi.

🙂 Unsur “malaikat” di diriku rupanya masih setia nongkrong. Dari puluhan sinopsis yang dikirimnya, saya melihat ada yang masih bisa dikembangkan, terutama ketajaman konfliknya. Lalu saya ajukan sinopsis itu kepada pimpinan dengan catatan; bla…bla…bla… Akhirnya disetujui.

Saya belum pernah ketemu langsung dengan si penulis, walau sebelumnya pimpinan sudah kasih gambaran. Jadi, selentingan yang saya dengar, penulis ini sudah menulis beberapa sinetron dan FTV di berbagai PH. Dia juga sudah menulis buku tentang skenario. “Waow…! Hebat nian”, pikirku. Hari ketemuan pun saya tentukan.

Tubuhnya ringkih. Sorot matanya sedikit liar, mungkin kebanyakan ide yang mau ditulisnya, dan… ini nih yang susah saya sebutkan… [saya sebut ajalah; merasa diri sangat smart] – tidak tahu lagi mau menjabarkannya kayak apa?

Saya ajak dia ke ruang meeting kecil, dan seperti biasa, saya basa-basi dulu nanya itu dan ini, yang tentu saja seputar gerak hidupnya. Sebelumnya via telepon, saya sudah suruh dia menulis skenario dari sinopsis yang sudah saya beri catatan itu. Namun, saya tidak merasakan greget dari skenario yang telah dibuatnya.

Setelah dia merasa suasana di antara kami mulai akrab dan hangat, dia lantas memberikan buku yang telah dibuatnya dan diterbitkan salah satu penerbit besar negeri Simsalabim ini. Sekali lagi; “Waoow!” [yang ini ‘o’-nya 2]. Sejenak saya lantas berpikir; gimana bisa menulis buku tentang skenario, sementara skenario yang dibuatnya sangat tidak menarik? Ya, sudah. Tidak perlu dimasalahkan.

Saya langsung to the point mengenai skenario yang telah dibuatnya. Dia hanya manggut dan membuat beberapa catatan di note-nya. Saya juga tak lupa mengatakan, kalau taste dari slot yang menjadi tanggung jawabku itu, begini dan begitu… Dia manggut juga.

Revisi pertama dikirim. Saya belum juga merasa puas. Apalagi dialog-dialognya yang sangat bahasa baku – bukan keseharian lazimnya interaksi sosial di masyarakat. Pimpong dialog antara tokoh pun sangat tidak menarik.

Agar lebih obyektif, saya lantas menyuruh produser pelaksana dan koordinator kreatif untuk membacanya. Hasilnya? Sama dengan pemahaman saya. Kami sepakat untuk memanggil si penulis kembali, dan bertemu dengan kami bertiga. Saya sudah mulai kurang suka dengan dia, karena kecendurangan dia yang malah ngajarin kami. “Lha, duit yang mau produksi skenarionya itu punya siapa?”

Sampai revisi ke-2, yang berarti draft tiga, juga belum sreg bagi kami, saya lantas putuskan gak akan meloloskan skenario itu. Saya lantas menyuruh koordinator kreatif untuk menghubungi dia, karena saya sudah malas duluan. Soalnya, beberapa kali dia kirim SMS yang isinya bernada ‘mengajari’. Pokoknya, dia sudah berdiri di tahta ungkapan: Ise Na Songon Ahu? – Dengan arogannya, di SMS-nya mengatakan bahwa sinetron-sinetron yang dia tulis di beberapa PH selalu menjaring penonton yang banyak alias rating tinggi. – “yang mana, ya?

Terus terang, saya kurang simpati pada penulis-penulis yang kepada mereka dicap sebagai Penulis rating. Memangnya sinetron negeri Simsalabim ini kwalitasnya sudah sehebat apa? – Rating tidak menjadi jaminan untuk dibuat sebagai acuan kwalitas penulisan skenario. Rating cuma “pemaksaan” kepuasan penonton karena tidak ada pilihan lain yang lebih berkwalitas dari yang sudah ada. Bagaimana mereka bisa bangga dengan sebutan Penulis rating kalau hanya sebagai “budak” kuli disket dari sceneplot yang didatangkan dari luar negeri sono? Dari segi income… kayalah memang mereka. Tapi, tidak secara kwalitas penulisan skenario yang benar. Kebanyakan tidak memiliki feel. Mereka hanya manut kepada selera produser tok!

Di ranah pe-sinetron-an negeri Simsalabim ini… wiiihh…, banyak nian orang yang heboh berdiri di atas tahta Ise Na Songon Ahu? – Merasa diri paling hebat, paling tahu, dan paling terkenal. Tak terkecuali di area penyutradaraan. Ada sutradara yang lagaknya minta ampun, sok intervensi soal penulisan skenario. Kalo memang sudah jago, kenapa gak nulis sendiri dan sutradarain sendiri? Untuk kepentingan shot, atau mungkin untuk keperluan angle camera dia, masih memungkinkan diadakan diskusi bersama script editor (supervisi skenario) dan penulis skenario. Namun kalo sudah menyinggung soal struktur, scene by scene, dan segala tetek-bengek alur dan roh sebuah skenario, saya pikir; nanti dulu, bos! Apalagi si sutradara itu dari awal tidak ikut mendisain track dari skenario itu. Dan, kurang ajarnya lagi; sering seorang sutradara, kalo sudah di lapangan merubah skenario se-enak dewe. Hmm… Sangat sok tahu banget deh!

Saya pikir, orang yang seperti ini adalah sutradara pemalas yang tidak mampu mengaplikasikan tuntutan skenario ke dalam bentuk gambar. Orang ini cenderung menggampangkan. Dia tidak peduli akan ‘roh’ dramatisasi yang diciptakan penulis skenario. Sepertinya; “kalo skenario sudah di tangan dia, mau dia kentutin pun itu gak ada yang boleh protes”. Lha, piye toh, mas?! ***

** Penulis Rating: Bukan maksudnya menulisi rating, tapi penulis skenario yang “menurut dirinya” tulisannya dia menjadi sinetron yang memperoleh rating tinggi.