Si Botak “koki” warung itu, yang matanya suka liar ke kami, belakangan ini tatapannya setiap kami melewati warungnya, suka nelangsa.

diaryblogdotcom [3 Juni 2008]. – MALAM belum lagi begitu tua. Seperti biasa di penghujung aktivitas mingguan – Sabtu yang dinanti – Saya dan beberapa teman kost suka pergi makan bersama. Dalam suasana seperti ini, kami coba menghibur diri dengan joke-joke segar sebagai refresh kepenatan dan keruwetan pikiran selama seminggu kerja di kantor masing-masing. Latar belakang kami jelas berbeda. Ada Batak, Cina, Sunda, Jawa, dan Padang – tentu dengan latar agama yang berbeda pula.

Dari 9 kamar kost tempat kami menumpangkan kepenatan diri, cuma 6 orang yang kerap pergi makan bersama. Saya [yang kerap dipanggil si Abang], Andre [seorang sales marketing yang mengaku Cina Medan kelahiran Jakarta], Ronald [sales marketing salah satu TV Pay, yang mengaku memiliki darah Manado, Batak & Jawa], Ivan [yang kerap kami panggil “Baba”, seorang ‘tukang’ insinyur, yang mengaku Cina Purbalingga], Yopie [si keling, disain grafis di salah satu televisi swasta, yang orang Jawa kelahiran Bandung], dan terakhir; Si imut Dina [kembang satu-satunya di kost, seorang wardrobe di salah satu televisi swasta, yang mengaku orang Jawa kelahiran Jakarta].

Suasana di tempat kost selalu kami ciptakan ceria dan kekeluargaan. Banyak cerita yang bertabur bila sedang ngumpul. Saling menghibur bila salah seorang stress akibat pekerjaan di kantor. Dan, tentu saja si Dina paling manja karena lebih muda dan cewek satu-satunya pula.

Sabtu terakhir di bulan Mei, kami menemukan satu Warda [warung tenda] dengan label; Ketupat Sayur Daging Gorengan. Kesukaan kami memang mencoba warung yang belum pernah kami singgahi. Kalau pelayanan kurang enak, atau warung terlihat kotor dan asal jadi, sudah  dipastikan kami tidak akan ke sana lagi. Kami juga paling tidak suka kalau baru selesai makan sudah disodorin bill, seperti yang dilakukan warung baru buka yang menawarkan ayam & bebek goreng crispy [entah apa maksudnya ini?]. Coba, di gelas minuman masih tersisa setengah, dan kita masih asyik ngobrol, si pelayan sudah sodorin bill ke atas meja. Gedek kan, seperti ngusir saja. Jadinya, kami pun gak minat lagi ke sana. Si Botak “koki” warung itu, yang matanya suka liar ke kami, belakangan ini tatapannya setiap kami melewati warungnya, suka nelangsa. Mungkin bingung; kenapa kami gak mau lagi mampir di warungnya. Lumayankan kan sekali masuk 6 orang. Tiga kali aja seminggu, dia sudah kehilangan 18 orang. Makanya, sebagai pihak yang menjual harus menghargai pihak yang membeli. Pembeli itu kan ‘raja’? Kata saudagar sih

Nah, Warda Ketupat Sayur yang satu ini lumayan bersih. Boleh juga! Penjualnya pun ramah dan sopan. Awalnya kami sedikit bingung melihat keadaan warung yang begitu simple, tidak seperti lazimnya warung dengan aneka hidangan. Yang ini cuma bermodal satu kuali besar yang di dalamnya terdapat gulai berisi potongan daging seperti, iso, paru, iga, daging, “terpedo”, dan usus. Dan apa yang kami rasakan? Wiiiihhh… sungguh makanan yang enak tenan. Seturut pengakuan pemiliknya, Ketupat Sayur Daging Gorengan itu sudah turun temurun selam 45 tahun menjadi ladang cari nafkah di keluarga mereka. Sudah dipastikan kami akan ketagihan ke sana.

Usai makan, kami menuju ***mart, yang menurut saya harga di situ terlalu mahal dibanding mart-mart lainnya. Karena tidak ada pilihan, terpaksa jugalah belanja ke sana, walau bukan untuk kebutuhan bulanan.

Merasa tidak ada yang perlu dibeli, saya tidak ikut masuk. Lantas iseng, saya coba memperhatikan sekitar. Tukang parkir yang sibuk mengatur kendaraan. Warung ayam bakar yang persis di sebelah mart. Lalu beberapa anak muda yang suntuk karena tidak punya pekerjaan. Mereka ini cuman nongkrong di depan mart, entah apa yang mereka pikirkan?

Tiba-tiba mataku melihat satu stiker poster ukuran foto 10R. Tulisan yang pertama saya tangkap; Cobloslah! – Lha, Pilkada apa lagi ini, pikirku bingung. Penasaran, saya mendekat…. Alamaakk…! Rakyat negeri Simsalabim ini memang sudah kecanduan populeritas. Ternyata hanya pemilihan Kepala RW (Rukun Warga). Dalam keprihatinan, saya cuma bisa tertawa kecil. Miris melihat ‘kejiwaan’ anak negeri yang mulai terganggu. Saya tidak tahu, apa itu cuma gagah-gagahan, atau sekadar sindiran, atau memang sudah gila populeritas? Poster PilRW itu tak ubahnya poster Pilkada, lengkap dengan gambar dan visi misi-nya. Negeri ini memang negeri Simsalabim. Mungkin saya yang sudah sinting, yang kurang menyadari fenomena arah perpecahan anak negeri. Entahlah?! ***

[soal “gila populeritas” ini akan saya tulis di artikel lain]