“Kau injak tanahku… kuinjak pulaklah tanah kau!”

diaryblogdotcom [4 Juni 2008]. – SAYA TERTARIK dengan istilah kata delusi dalam salah satu tulisan di koran Kompas, Minggu 1 Juni 2008. Setelah saya cari di kamus, kata itu diartikan dari bahasa Inggris delusion – khayalan, angan-angan, atau khayalan kemegahan.

Cukup menggeletik kata itu dipakai untuk tulisan bagaimana selebritis terjun ke ranah politik, dan sebaliknya; bagaimana politikus merambah dunia selebritis. Lumayan terkagum-kagum juga saya membaca tulisan itu, lengkap dengan ujaran nara sumbernya dari kalangan selebritis dan politikus. Isu tulisan itu makin menarik dengan mengangkat soalan Populeritas dan Gaya Hidup politikus dan keselebritiannya.

Rupanya, di kalangan politikus – khususnya mereka yang mengaku diri wakil rakyat di lembaga legislatif – “kerasukan” populeritas dan gaya hidup menjadi perhatian penting, kalau bisa disebut; wajib untuk dilakoni. Seperti pengakuan Wakil Ketua Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra dalam tulisan di Kompas itu: “Populeritas menjadi satu jalan mencapai kekuasaan. Tanpa kekuasaan, seseorang tidak bisa mencapai mimpi atau visi. Politik itu kekuatan, dan kekuatan adalah jumlah. Tentu, kekuasaan itu dimanfaatkan untuk rakyat”.

Sampai di situ, hati saya riang-riang sikit [sedikit] mengamini ungkapannya terakhir, bahwa kekuasaan harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Kenapa hatiku cuma riang-riang sikit? Yah, karena berharap wacana ini menjadi fakta di lapangan. Namun, seingat saya, kok orang yang disebut rakyat itu selalu picingkan mata melihat sepak-terjang para wakil rakyat itu, ya? Untuk kepentingan rakyat yang mana sih maksudnya? Perasaan, banyak deh ulah dari para legislatif ini yang menyakiti hati rakyat. Ujar-ujar yang sudah umum di tengah masyarakat; para wakil rakyat itu hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya. Sementara rakyat berteriak soal kesusahan hidup, para wakil rakyat yang terhormat itu malah dikotori oleh keserakahan. Minta kenaikan itulah, inilah, dan korupsi di sono-sunulah [istilah gue, maksudnya; di mana-mana]… Pantaslah banyak avonturir kehidupan ber-delusi mendapatkan kekuasaan. Karena di sana memang banyak kemegahan yang ditawarkan.

Lain lagi cara Ade Nasution dari Komisi VII DPR. Untuk mendapatkan populeritas, beliau ini memilih jalur lewat ranah dunia orang film. Ade menjadi Produser film perdananya, Bola Itu Bundar. “Saya orang politik, butuh massa. Saya bisa ngumpulin banyak orang lewat film dan artis-artis,” ujarnya dalam tulisan di Kompas itu. – Apa hubungannya, ya, produser dengan pengumpulan massa? Emangnya, orang yang menonton filmnya itu sudah dipastikan akan memilih beliau? Kenapa malu ngakuin mau coba bisnis di dunia entertainment.

Ternyata, populeritas belum cukup bagi mereka. Penampilan gaya hidup pun turut pula menjadi prioritas beliau-beliau ini. “Pakaian dan penampilan adalah gambaran mental tentang diri kita,” ujur Yusron, yang menyukai jas buatan Jepang, walau beliau ini juga memiliki koleksi jas merk Hugo Boss dan Giorgio Armani. Dan lagi, seturut tulisan di Kompas itu, Yosron melengkapi penampilannya dengan cangklong alias pipa rokok. Jumlahnya sampai 60-an dengan kisaran harga enam ratus ribu hingga lima jutaan. Dan semua itu dibeli di luar negeri. Berarti harganya bisa berlipat bila ditambah dengan ongkos dan biaya akomodasi beliau selama di luar negeri. Hmm… 🙂

Setali tiga uang dengan para selebritis yang balik arus merambah dunia politik. Semakin marak saja selebriti negeri Simsalabim ini yang berani mencalonkan diri jadi kepala daerah. Rupanya, para selebriti kita ini gak mau kalah oleh para anggota legislatif yang sudah merambah dunia selebritis. Sama seperti kisah si Hutur dan si Bursik yang gak pernah akur bertetangga. “Kau injak tanahku… kuinjak pulaklah tanah kau!” teriak Hutur setengah marah, ketika Bursik melewati tanahnya. Mungkin kira-kira gitu kale, ya, pemahaman kedua kubu politikus dan selebritis ini.

Yang menarik dari tulisan di Kompas itu, “Si Oneng” Rieke Diah Pitaloka justru mengantisipasi bahaya yang akan terjadi bila seorang politikus merangkul seorang artis yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa. “Lebih bahaya lagi jika ajang pilkada dipandang sebagai aji mumpung untuk mengantisipasi meredupnya ketenaran di dunia hiburan,” ujar Diah.

Ngeri kalilah kalo sampai itu terjadi. Mau dibawa ke manakah negeri Simsalabim ini sebenarnya? Sudah tidak punya nuranikah para avonturir itu? Kenapa dari gedung bundar legislatif sana belum pernah terdengar pembelaan untuk kesejahteraan rakyat negeri ini? Kok malah yang terdengar lebih rame hanya soal skandal korupsi dan bugil-bugilria para anggotanya? Apa yang sudah diperbuat para selebritis, yang kaya raya karena kecantikan dan ketampanan, ketika mendengar ada anak negeri ini yang buruk gizi, bahkan ada yang mati karena kelaparan?

Memang sih. Semua anak negeri punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi seseorang. Baik sebagai politikus, pimpinan daerah, maupun jadi selebritis. Persoalannya, sejauh mana sepak-terjang itu bisa membuat negeri ini aman, berpolitik yang jujur, mensejahterakan kehidupan rakyat, dan tentu saja saling menghormati ragam perbedaan yang ada. Jangan cuma mau berdelusi demi arogansi diri.

Saya kutip lagi pernyataan pengamat politik M. Chudlori dalam tulisan di Kompas itu, yang mungkin bisa jadi renungan buat para politikus: “Jika politisi masuk dunia hiburan terlalu dalam, dia hanya mencapai populeritas semu ala artis. Padahal, populeritas itu seharusnya dibangun dari kinerja dan komitmen memperjuangkan aspirasi rakyat.”

Langit mulai temaram. Koran Kompas saya letakkan begitu saja. Di depan saya, melalui layar televisi, chanel HBO sendang menayangkan film 300, tentang perjuangan rakyat Spartan. Gigih sampai ujung nyawa melawan kebringasan serdadu Persia. Semua demi harga diri rakyat Spartan. Tidak ada delusi. Hanya kepolosan hidup dan jiwa heroik demi keutuhan martabat bangsa.

Pikiran saya menerawang, teringat ujur-ujar purba: “Orang kaya SULIT masuk Sorga…” – Bah, cemmana pulak ini ?! ***