Dua hari yang lalu, HP Silomos, Nokia 5110, yang kalau dipake nimpuk anjing akan pingsan, berdering disaat ia dan Sibulus tengah istirahat makan siang. Ternyata dari si Meta, adik iparnya, yang diusia kepala tiga belum juga menikah karena terlalu menikmati pekerjaannya sebagai penenun ulos.

Boleh jadi kisah Silomos & Sibulus 1

diaryblogdotcom [12 Juli 2008]. MATAHARI masih malu-malu menampakkan wajahnya. Memacu pandang ke sudut-sudut Jakarta, ada kabut mengambang; bertebar seakan merangkul gedung-gedung jangkung. Bukan sisa embun kesehatan seperti di pedesaan atau di daerah pengunungan, namun hanya kabut sisa polusi yang tak lagi tertampung awang. Udara Jakarta memang sudah tidak menjanjikan kesehatan.

Sepagi itu, Silomos masih enggan bangun dari rumah kontrakan di daerah kumuh, sekitaran Jakarta Barat. Walau matanya sudah lebar memandang ruang sempit rumah yang disewanya bersama Sibulus, namun semangatnya tak seperti hari-hari kemarin. Biasanya, sesubuh pagi disaat adzan berkumandang merdu, ia selalu dengan sigap dan penuh semangat menyambut hari baru menghidupkan Metro Mini yang disewanya. Lalu, setelah semua dirasa beres, Silomos akan mandi dan sarapan ala kadarnya. Barulah ia siap berangkat setelah memanjatkan doa agar hari itu ia bisa membawa pulang setoran yang lumayan.

Sudah tiga tahun ini Silomos merantau dengan meninggalkan istri dan dua orang anaknya di kampung. Ia belum punya nyali membawa keluarga kecilnya itu ke Ibukota Negara karena biayanya terlalu tinggi. Belum lagi kondisi perpolitikan yang belum bisa dikatakan kondusif.

“Mungkin belum saatnya, lae,” jawab Silomos, ketika Sibulus iseng menanyakan perihal dua dapur yang akan ditanggungnya. “Bisa jadi saya terlalu pengecut. Takut ada kejadian lebih parah seperti tahun 1998. Jujur saja, saya terlalu mencintai istri dan kedua anakku. Saya tidak mau mereka nantinya mengalami kejadian seperti itu.”

Sibulus, teman Silomos sejak kecil di kampung dan sudah jauh lebih dulu merantau, tertawa kecil mendengar alasan Silomos, yang menurutnya terlalu didramatisir. Boleh jadi Sibulus enak sekali mengatakan itu karena dia sendiri belum berumah tangga. Di usianya yang sudah berkepala empat, Silomos belum pernah sekalipun melihat sahabatnya itu menggandeng seorang wanita. Kalau iseng ia diledek, Sibulus akan berkelit mengatakan dirinya memang tidak diplotnya untuk memiliki istri, apalagi sampai punya anak. Terlalu ribet dan memusingkan; begitu alasannya.

***

Seharian itu, Sibulus terpaksa membawa Metro Mini sendirian. Biasanya, dia dan Silomos aplusan setengah hari. Berhubung pikiran Silomos masih kalut, tugas ngejar setoran hari itu terpaksa dibebankan ke pundaknya. Ia memang turut prihatin mendengar cerita Silomos.

Dua hari yang lalu, HP Silomos, Nokia 5110, yang kalau dipake nimpuk anjing akan pingsan, berdering disaat ia dan Sibulus tengah istirahat makan siang. Ternyata dari si Meta, adik iparnya, yang diusia kepala tiga belum juga menikah karena terlalu menikmati pekerjaannya sebagai penenun ulos.

Tadinya, Silomos pikir adik iparnya itu paling minta kepastian soal pinjaman uang untuk modal pengembangan usaha pertenunan ulosnya. Nyatanya, di hari secerah dan segaring itu udara Jakarta, Silomos seperti tersambar petir mendengar cerita adik iparnya itu.

“Bagaimana bisa jadi seperti itu?” suara Silomos bergetar melalui HP-nya.

“Kepastiannya aku belum tahu, bang. Tapi, sepertinya begitu yang aku lihat. Kakak seperti tidak risih menerima lelaki tua itu selalu bertandang ke rumah kalian,” beber Meta dengan nada sangat prihatin.

Silomos terdiam sesaat. Pikirannya melambung ke kampung. Ketika tahun lalu ia pulang, istrinya memang sempat memperkenalkan Sudono, lelaki tua keturunan Jawa itu, yang lebih memilih tinggal di pinggiran danau Toba, setelah pensiun sebagai pegawai penyuluhan pengembangan ikan mas pada peternakan keramba.

Tujuh tahun sebagai kepala penyuluhan, rupanya telah membuat Sudono sudah merasa seperti orang Batak. Dia tidak memiliki anak. Istrinya meninggal dua tahun yang lalu, dan dikuburkan di sekitar tepi danau seturut permintaan Sudono kepada raja-raja huta yang sudah menganggapnya sebagai kerabat. Keinginan Sudono memang beralasan. Almarhum istrinya sangat mengagumi keindahan danau Toba. Sampai katanya, beliau ini berharap kelak ia meninggal ingin dikuburkan dekat danau.

“Aku masih tak percaya kalau kakakmu berani melakukan perselingkuhan itu,” kata Silomos, masih berusaha untuk tidak mendengarkan kepastiannya.

“Kami juga berharap itu belum pernah terjadi. Cuma, abang… Aku tidak suka melihat pak Sudono itu selalu berbicara porno-porno. Apa maksudnya itu, bang, kalau bukan untuk mancing-mancing? Tapi yang aku sesalkan, kakak malah menimpalinya tanpa merasa risih,” keluh Meta, mulai merasa tidak enak mendengar dengus nafas Silomos melaui HP itu.

Setelah mendapat berita tak mengenakkan itu, malamnya Silomos langsung menghubungi istrinya. Mereka bertengkar hebat melalui handphone. Istrinya sampai nangis-nangis, malah balik menuduh Silomos yang pura-pura curiga agar tidak dicurigai sudah punya istri di Jakarta.

“Baahh…?! Jadi aku pulak yang kau tuduh dalam menutupi kebohonganmu,” marah Silomos dengan suara keras. “Apa yang kurang kuberikan sama kalian? Tiap bulan tidak pernah telat mengirim uang! Anak-anak bisa sekolah dengan baik. Aku memang sudah lama curiga akan gelagat-gelagatmu. Tapi aku masih berusaha tetap berpikiran positif. Sekarang, berita ini datang dari adik kandungmu sendiri. Bagaimana aku tidak percaya?”

“Alaah…, sudahlah! Kalau kau lebih percaya sama si Meta, terserah kau! Kalau kau tidak percaya lagi sama aku, lebih baik kita cerai!!” sentak istri Silomos sambil mematikan HP.

Bergetar dada Silomos mendengar kata “cerai” dari mulut istrinya. Begitu mudahnya kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Sepertinya tata krama boru Batak itu tak lagi menaungi martabat dirinya.

***

Silomos tersentak dari lamunannya ketika Sibulus menepuk pundaknya. Ia baru menyadari kalau dirinya sudah hampir empat jam duduk di bawah pohon jambu, di depan rumah kontrakan mereka itu. Rupanya Sibulus baru habis narik sewa. Pakaiannya masih terlihat dekil menandakan dirinya baru bertarung dengan kehidupan Jakarta.

“Tak bisalah kau macam gini terus, Lomos,” ujar Sibulus seraya duduk di samping sahabatnya itu.

Sibulus menyodorkan bungkus rokok kretek. Silomos menghela nafas berat sambil menerima. Disulutnya sebatang. Asap rokok ia tiupkan keras hingga terlihat berantakan di udara, seperti pikirannya yang masih kacau.

“Cemmana aku gak percaya kalau yang bilang itu adik iparku sendiri,” sahut Silomos, lalu kembali menarik hisapan rokoknya. Kali ini ia coba menikmati asap mematikan itu.

Sibulus terdiam. Sebatang lagi rokok disulutnya. Dia juga tidak tahu mau bilang apa lagi. Serba dilematis kalaupun ia coba menghibur hati Silomos dengan kata-kata bijak. Jika cerita adik ipar sahabatnya itu ternyata benar, cemmana pulak?

“Yang aku bingung, ke manakah perginya doa-doaku selama ini untuk istri dan anak-anakku? Kau tahu itu kan Bulus? Sampai kau ngejek aku sok alim karena tidak pernah lepas dari doa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi sama keluargaku?” sergah Silomos memecah keheningan sesaat di antara mereka.

“Aalaah, kau tanya pulak aku soal itu. Ke gereja pun aku tak pernah. Cemmanalah aku mau bilang. Yah, mungkin doa kau itu hanya sebatas di awang-awang. Cobalah kau bayangkan, per detik itu berapa ratus juta doa yang antri mau dicatat di komputer para malaikat?” kata Sibulus asal saja.

Silomos menatap rekannya itu. Payah memang orang macam Sibulus itu. Semua hidupnya serba berpasrah. Sama seperti arti namanya; pasrah dalam segala hal. Mungkin karena itu pula yang membuat dia tak sedikitpun untuk menikah.

“Walau aku masih suka menggugat doa, tapi masih ada sisa keyakinanku pada doa. Mungkin inilah cobaan hidup yang sengaja Tuhan letakkan padaku. Atau, boleh jadi aku terlalu menganggap enteng hidup terpisah dengan istri dan anak-anakku,” tutur Silomos mencoba mengusir kebimbangan dalam hatinya.

“Kau coba teleponlah kembali istri kau. Bicaralah kalian baik-baik. Akupun tak suka lihat keluarga kau berantakan. Dari kecil kita sudah bersahabat. Istri kau itupun aku kenal betul. Masih ragulah aku dengan gosip itu,” balas Sibulus sok berbijak diri. Mulutnya menguap oleh lelah rutinitas keseharian menangkup sejengkal hidup.

***

Malam makin tua. Silomos masih duduk sendirian di depan rumah kontrakan. Wajah kedua anaknya menari-nari dalam benaknya. Roito, anak gadisnya yang sudah beranjak remaja, dan bercita-cita jadi wartawan. Tak ada yang lebih membanggakan bagi Silomos oleh kecantikan borunya ini. Dan kepadanya, Silomos menekankan keras agar tidak dulu pacaran sebelum tamat SMA.

Lalu, pengembaraan pikirannya beralih menangkap sosok nadi darahnya, Si Togu, anak lelaki kebesaran jiwanya yang kini sudah di masa akhir SMP. Anaknya yang satu ini sangat dekat sekali dengan ibunya. Adakalanya Silomos kurang suka melihat kedekatan itu. Ia tidak ingin anak lelakinya itu akan jadi cengeng seperti perempuan. Harapannya kepada nadi darahnya ini menjadikannya seorang pengacara terkenal.

Ahk, betapa bergeloranya jiwa Silomos membayangkan kedua buah hatinya itu. Dengan karunia Tuhan yang maha dahsyat itu, apa masih mungkin istrinya melakukan perselingkuhan? Sementara kebutuhan bulanan mereka tak pernah mandek. Setidaknya, ngutang pun, Silomos pasti melakoninya, asal bulanan untuk keluarganya di kampung tidak sampai mandek.

Malam yang kian lelap tak membuat Silomos ingin beranjak ke peraduan. Ia masih ingin berbicara dengan Tuhan, walau seperti kata Sibulus doanya mungkin hanya terangkat sebatas awang-awang. Silomos masih tetap percaya, doanya akan terjangkau Tuhan biarpun tergantung di batas awang. Mungkin juga ada baiknya, dengan berdoa, gosip tentang istrinya itu tidaklah benar. Silomos masih menaruh kepercayaan pada orang yang sangat dicintainya itu. Ia tidak ingin anak-anaknya menjadi korban broken home. Setidaknya, walau pedih membayangkan, istrinya masih punya nurani untuk berpikir jernih.

“Siapa sih manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan?” batin Silomos, coba menenangkan jiwanya. “Sejauh awang-awang pun doaku, tapi awang-awang juga adalah ciptaan-Mu, Tuhan. Aku masih ingin terus berdoa pada-Mu”

Silomos pejamkan mata. Ingin tenang. Di bawah cakrawala malam Jakarta. Esok akan selalu lebih baik bila beguru dari pengalaman. ***