“Kamu kan mau makanan khas daerahku. Di sinilah tempatnya,” sergah Dik begitu melihat wajahku yang enggan masuk ke warung itu.

diaryblogdotcom [21 Juli 2008]. SABAN hari selalu kulakukan begitu tiba di kantor dan menghidupkan komputer adalah mengklik email [imel] yahoo.com. Biasanya, selalu ada minimal 5 pesan masuk. Imel yang satu ini memang paling mobile dari imel-imelku yang lain, karena bersangkut-paut dengan pekerjaan di kantor.

Hari ini, begitu klik imel langsung tertangkap mataku nama yang sudah kutunggu-tunggu kehadirannya muncul lagi di Ibukota negara; Fardik Rudiyanto – yang akrab aku panggil, Dik! Sohibku ini tinggal di Lawang, Malang, karena memang asli orang sana. Pertemanan kami sudah seperti saudara sendiri. Aku pernah dolan-dolan ke kampung ibundanya yang begitu ramah di desa Karang Ploso, Batu Malang. Satu dari sekian banyak sejarah perjalanan hidupku yang tertoreh dan begitu mengesankan.

Imel yang terkirim dari Dik: Boss, sorry, aku belum bisa menepati janji datang ke jakarta. Ini tugasku harus aku selesaikan dulu, mengerjakan pesanan web dan buku orang. Kebetulan, bulan ini juga berbarengan dengan anakku, Jantera, masuk SMP. Ya, selain kebut cari uang lebih, ya aku temani dulu beberapa saat karena sekolahnya sekarang di kota malang, 15 km dari Lawang. Juga masih ada pertemuan wali murid.

Jessica tentu juga sudah besar, ya? SMP atau SMA?

Ya, tugas orang tua memang mengantar mereka menemukan pendidikan yang lebih baik, meski kita dulu sekolah dan bermain seenaknya, ternyata deg-deg kan juga mengantar mereka menjalani hidup. Ironis, kita suka aburadul, tapi sama anak maunya disiplin, rajin belajar dll. Ya, inilah egoisme orang tua. Mereka pun kelak juga begitu.

Tersentuh aku membaca imel dari Dik. Kukenal dia sebagai orang yang apa adanya akan hidup ini. Pintar dibidang literatur sesuai disiplin ilmu yang didapatnya dari Sekolah Tinggi Publisistik (IISIP, sekarang). Ulet mempelajari segala hal. Dan, boleh dibilang, aku mulai akrab dengan dunia komputer karena dia. Dik yang banyak mengajari aku gimana-gimananya pengganti mesin ketik itu, dan dunia maya yang melingkupinya. Sampai imelku saja, Dik yang bikinin kala itu.

Balasan imelku ke Dik: Orang Batak bilang: Anakhon Hi Do Hamoraon Di Ahu [Anak adalah kekayaan yang paling berharga bagiku] Apapun itu risikonya, orangtua wajib melindungi anak-anaknya, membimbing, dan mengarahkan ke masa depan mereka. Memang, ketika anak kita mulai menginjak usia remaja, ada kerepotan tersendiri di otak kita. Banyak hal yang kita serba kwatirkan. Bertahun-tahun aku selalu jauh dari anak-anakku, hanya doa yang bisa aku panjatkan agar Tuhan yang melindungi dan memakai mereka menjadi Garam & Terang sesuai talenta yang Tuhan berikan pada mereka.

Iyalah, Dik… Kalo udah beres aja semua urusanmu. Memang Niken selalu menanyakan; “Kapan bang mas Fardik datang?” – Biarlah kehendak Tuhan yang kau minta untuk waktu yang tepat kau ke Jakarta.

Wah, kalo Jessica sekarang sudah remaja total; kelas 2 SMA – Carlos, adiknya, sudah kelas 3 SMP. Makin beratlah hidup kita [orangtua] ke depan. Karena itulah, aku mencoba lebih menata kehidupanku. Puji Tuhan, sekarang sudah agak bisa tidak mengkhawatirkan biaya hidup dan sekolah mereka, walau itu masih pas-pasan. Makanya sekarang, aku selalu tidak menampik lagi kalo ada orderan, tanpa melihat besaran duitnya. Idealisme telah aku pangkas separoh.

Kami tunggu kedatanganmu. GBU

Salam

Kupanggil dia: Dik! – Dilihat dari usia, aku memang lebih tua dari dia, namun menjadi panggilan dari akhir nama dia juga: Fardik… Hidupnya selalu low profile walau segudang kebolehan talenta dimilikinya. Pantang menyerah dan berjiwa petualang. Tak peduli pada penampilan. Kumis awut-awutan tak terawat. Rambut ikal, sering tak tersentuh sisir. Sepintas orang melihatnya bisa menduga kalau Fardik orang Ambon. Gak tahunya, asli Jawa-Madura. Tapi, kedekatannya kepada kultur Ambon makin kental setelah ia menikahi putri dari negerinya pahlawan Pattimura itu.

Sekitar tahun 2001, ketika dolan-dolan ke Karang Ploso, ada kesan yang gak bisa aku lupain. Seperti biasa kalau aku berkunjung ke suatu daerah, yang pertama aku cari adalah makan khas daerah tersebut.

Kata Dik, makanan khas terkenal Jawa Timur adalah Rawon. “Mak, makanan apa pulak itu?” pikirku, coba mengira-ngira makanan itu masih berhubungan gak, ya, dengan tawon? Barangkali bahannya dari sarang tawon yang diolah jadi makanan.

Dik membawa aku ke satu warung, tidak jauh dari pasar Karang Ploso. Warung rumah tua yang hampir rewot. Aku pikir, aku pasti gak selera melihat warung itu sedikit kumuh dengan segala isinya yang masih nampak kayak dari zaman Majapahit.

“Kamu kan mau makanan khas daerahku. Di sinilah tempatnya,” sergah Dik begitu melihat wajahku yang enggan masuk ke warung itu.

Merasa gak enak hati, aku hanya mengangguk sambil mengikuti Dik memasuki warung yang lumayan sempit itu. Tidak menggambarkan lazimnya warung makan. Etalase kecil dan sudah rapuh menghadang di depan kami. Mirip lemari kecil milik oppungku di Tarutung sana. Sebidang frame etalase yang terbagi empat bagian oleh pipih kayu penjepit kaca, membuat etalase itu kayak jendela kaca rumah. Isinya, rantang-rantang tua tempat lauk tahu-tempe bacem.

Dik duduk agak ke dalam. Aku lebih memilih dekat pintu masuk pada posisi membelakangi jalan raya. Di hadapanku ada semacam dandang besar yang ditaruh di atas tungku agar isinya tetap panas. Itulah tempat rawon dimasak.

Pemiliknya, dua orang wanita uzur, yang kalo kutaksir usianya sudah di ambang 70-an. Walaah! Masih gesit juga. Mungkin nenek itu sudah buka warung masih zaman jepun menjajah negeri ini. Aku jadi teringat komik-komik silat kegemaranku dulu yang selalu bersetting tanah Jawa. Melihat penampilan kedua wanita uzur itu dan segala perabotan warung, aku serasa hidup di dunia Jaka Sembung, Si Buta Dari Goa Hantu, Si Tolol, dll.

Tentu saja selera makanku kian menipis melihat kekumuhan warung itu. Aku rasa, Dik mengetahui pikiranku. Tapi dia cuma senyum-senyum saja, cuek membiarkan perasaanku tak tentu rasa.

Ketika wanita uzur menyodorkan piring nasi, aku terkejut. Nasi di dalam piring menggunung kayak kebiasaan pekerja sawah kalo makan. Aku menatap Dik seperti ingin protes. Dik cuma tersenyum geli. Kumis awut-awutannya merebak seakan mengejek kekisruhan hatiku. “Cemmananya kawan ini gak ngerti perasaanku?” Hatiku merutuk, tapi gak tega juga protes melihat kepolosan wajah nenek pemilik warung. Lalu wanita uzur yang satu lagi menghidangkan rawon yang warna kuahnya hitam sekali. “Bah?! Makanan macam apa pulak ini?” batinku, makin hilanglah selera makan.

“Ayo, kau coba dulu,” sergah Fardik, karena melihat aku masih ragu untuk mencicipi.

“Kok hitam, Dik?” Keluar juga akhirnya protesku.

“Itulah rawon! Makanan khas daerah ini,” balas Dik ceuk, lalu mulai menyantap makanannya. Kumisnya yang tak terawat bergerak-gerak seperti turut mengunyah rawon begitu nikmat.

Kepalang basah setengah hati, akupun mulai mencicipi sedikit kuah hitam rawon. Aku icip-icip sebentar. Jreeengg…! Wih, kok enak?! – Fardik melihat ekspresi wajahku yang mulai berubah nyaman. Ternyata rawon itu enak tenan. Aku mulai lahap makannya.

“Gimana?” usik Fardik melihat aku mulai menikmati.

“Enak banget, Dik!” seruku jujur.

Fardik menyuruhku memakan daging yang warnanya kehitam-hitaman. Terasa kenyal dikit, namun gurih dan enak sekali. Mungkin aku memakan sampai empat kerat potongan daging itu. Herannya, nasi yang menggunung di piringku bisa-bisanya sampai minta tambah lagi. Benar-benar menakjubkan rasa makanan di warung rewot itu.

Aku bilang ke Dik, kalau besok harus makan lagi di warung itu. Tapi, ketika esoknya kami makan lagi di situ, aku tidak lagi menemukan daging yang kehitaman itu. Padahal, aku suka sekali memakannya. Yang ada cuma daging goreng biasa. Ketika kutanya ke Dik, dia bilang; daging yang di depanku itu sama dengan yang kemarin. Akupun mencicipi, tapi rasanya tidak se-enak kemarin. Dik tertawa. Aku mengerjit heran. Dik menceritakan bahwa daging yang kemarin kami makan itu adalah daging yang gosong. Bah?! Cemmana pulak itu jadinya? Masya daging gosong lebih enak? Wualaah, ada-ada saja makanan khas daerah Dik ini!

Kupanggil dia, Dik! Suatu kebersahajaan hidup seorang manusia. Dalam titik nadir tak bermaksud ingin goyah. Ingin tetap eksis sebagai pena Tuhan. Menata hidup dalam petualangan-petualangan langkah panjang. Begitu cuek pada godaan hidup, tapi sangat mengasihi keluarganya.

Maka selalu kupanggil dia, Dik! Karena dia punya nama Fardik Rudiyanto, juga sudah kuanggap sebagai adikku.

“Siapa yang tahu hari esok, Dik? Mungkin saja kamu menjadi seorang publisher yang ternama, walau kau kurang menyukainya. Siapa yang tahu hari esok, Dik?” ***