artikel-aku-bingung

Hukum di negara tercinta ini selalu diintervensi demi kepentingan tertentu

 

diaryblogdotcom [02 Desember 2008]. SETELAH gak update hampir 4 bulan, tiba-tiba hatiku tergelitik membaca dua berita di Kompas.com. Memang begitulah adanya aku seperti yang awal nge-blog aku ungkapkan, bahwa aku akan menulis sesuka-suka akulah! Jadi, buat teman-teman yang suka mampir di blog ecek-ecekku ini, harap maklum aja. Selain kadang disibukkan pekerjaan yang benar-benar menantang adrenalin imajinasi, juga mikirin dan merasa gemas melihat bangsaku yang kian gemar tawuran. Kok bisa, ya?!

 

Yang menggelitik hatiku pagi ini sehingga harus kuposting di blog, ada 2 soalan; Pertama, soal sidang Muchdi Pr, terdakwa pembunuhan kasus Munir, yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Aku bingung sekaligus geli, gemas, dan sedih membaca tulisan itu. Sepertinya, ruang pengadilan itu tak ubahnya arena pertandingan. Siapa saja yang berperkara diperbolehkan membawa “suporter”. Ya, sah-sah saja sih bawa rekan-rekan kalau hal itu tidak bersifat provokatif. Misalnya, “suporter” itu datang untuk memberi dukungan moril. Mereka merasa prihatin atas kemalangan si terdakwa. Namun suporter Muchdi Pr dalam berita di Kompas ini, terasa menciduk sanubariku. Kenapa mesti pake atribut segala dengan seragam biru dan tulisan “Nasionalisme Muchdi Pr, Tegakkan Keadilan Bebaskan Muchdi”, yang provokatif?

 

Lha, kenapa mesti mereka yang sok ngajari penyidik? Kalau memang tidak bersalah so pasti jo dibebaskan, begitu toh? Tanpa embel-embel atribut yang berbau provokatif pun hukum benar-salah harus tetap ditegakkan.

 

Inilah yang sering bikin aku bingung. Hukum di negara tercinta ini selalu diintervensi demi kepentingan tertentu. Bahkan, kadang yang gak bersalah suka dikambing “biru” kan. [gak nyebut kambing hitam, karena terlalu gelap. Aku lebih suka biru]. Konyolnya, para Hakim pun jadi mudah disuap. Boleh jadi ketakutan melihat para “suporter” salah seorang terdakwa cenderung provokativ ala premanisme.

 

Kedua. Setelah rada muak membaca berita dari ranah pengadilan itu, aku berselancar lagi di web yang sama. Masih ingat toh pacarnya si Roger Danuarta yang tertangkap karena memiliki narkoba? “Yee, siapa lagi kalo bukan si Sheila Marcia. Bintang sinetron yang tiba-tiba makin terkenal karena kasusnya itu, lho…” – kayaknya dia gak mau kalah sama Ryan pembunuh berantai yang belom bisa nandingin rekor dukun AS dari Medan. Ryan kan mau rekaman album di penjara.

 

Ini juga aku anggap pelecehan hukum. Bagaimana mungkin seorang terdakwa, maupun sudah atau belum memiliki hukuman putusan tetap, bisa menghasilkan uang dari balik teralis penjara? Ada apa sebenarnya Hukum di negara ini? Konon kata berita Kompas.com itu, band pendatang baru yang bernama Seventeen akan mengajak Sheila jadi bintang di video klip mereka. Awal sih, personil band ini ragu karena Sheila seorang tahanan. Tapi, eksekutif produser label perusahaan rekaman yang menaungi mereka berkata; “…nanti izinnya diurus.” – Lha, ini produser ngerti hukum gak, ya? Setahu aku, karena sering dapat kontrak kerja dari beberapa Rumah Produksi, ada pasal yang menyatakan kalau Pihak Kedua tersandung kasus hukum dan dipenjarakan, maka Pihak Pertama akan memutus kontrak secara sepihak tanpa ada tuntutan apa-apa. Kira-kira gitu deh esensinya.

 

Aku bukan pakar hukum atau yang sok tahu tentang hukum. Tapi, logika hukum yang ingin aku pertanyakan. Bagaimana mungkin seorang terpidana bisa dikomersilkan dan mendapat bayaran pula? Jangan dong memanfaatkan ketenaran dari jalur perkara si terdakwa, dijadikan untuk mengangkat salah satu jualan. Ini yang membuktikan, bahwa para produser di negara ini tak peduli untuk kecerdasan bangsa. Mereka hanya berdiri pada angle keuntungan bisnis yang sebesar-besarnya. Gak peduli, itu ranah hukum kayak apa, bangsa ini tetap jadi bodoh juga gak peduli! Di manakah pemerintah ketika hal-hal seperti ini terjadi? Apakah hukum di negeri “Simsalabim” ini gak konsekwen?

 

Kalau kita menghormati hukum negara, marilah sama-sama tunduk terhadapnya. Karena hukum itu yang membuat adalah kita-kita juga. Bercerminlah setiap waktu agar kita memiliki prinsip yang konsekwen.

 

Berita yang tiap hari kita baca, maupun yang disajikan televisi dipastikan selalu memberitakan “kerusuhan-kerusuhan” dibeberapa daerah. Pemaksaan kehendak demi kepentingan kelompok bak jamur di musim hujan. Mahasiswa bertingkah laku bak preman. Pilkada yang selalu meninggalkan persoalan rasa tidak puas. Desa anu dengan desa ono berperang gara-gara perbatasan tanah. Waaduuhh, sedihnya negeri tercinta ini kok kayak jadi zaman purba?

 

Namun, tetap kembali soal penegakan hukum yang adil dan benar. Memang, siapapun atau di negara manapun, kalau keadilan dan kebenaran diacak-acak, tidak perlu heran bangsa negara tersebut juga akan membalas mengacak-ngacak sistem hukum. Mereka akan terus membuat “rusuh” untuk membela keadilan dan kebenaran.

 

Yuk, rame-rame tegakkan hukum yang positif demi kesejahteraan rakyat! Ya, sama-samalah kita. Penegak hukum saling bahu membahu dengan rakyak, Yuukk…!  ***