artikel-bentar-lagi-50

“Nih, saya kasih hadiah untukmu. Saya bersyukur, sebentar lagi kamu akan mati”

diaryblogdotcom [22 Jan 2009]. – SEKITAR jam 21.00 WIB,  aku beringsut dari sofa di ruang tamu kost. Kutinggalkan Andri yang masih tertawa-tawa menonton Tawa Sutra XL yang ditayangkan ANTV. Budi Anduk sebagai icon kuat di acara itu memang selalu bikin kita tertawa. Karakter tokohnya mengingatkan aku pada sosok Donal Bebek, yang selalu sial, apalagi kalau sudah ketemu dengan Paman Gober.

Di dalam kamarku sendiri ada televisi. Tapi, rasanya lebih enak kalo nonton bareng teman sambil tertawa. Namun, karena ada pemandangan kurang sedap di salah satu kamar kost, aku memilih masuk kamar aja dan nonton sendiri di dalam.

Kalau sudah di kamar, aku lebih suka pantengin TV di chanel Metro TV. Sudah terlalu muak aku untuk menonton sinetron yang gak ada maju-majunya, walau sudah diteriakin banyak orang sebagai tontonan yang membodohi.

Sambil rebahan di tempat tidur, aku menonton dialog antara Sultan Hamengkubuwono X dengan Saur Hutabarat [dongan sabutuha – teman semargaku], yang bertindak sebagai host. Intinya sih, Sultan tidak mau diposisikan sebagai cawapres. Aku sendiri mendukung pernyataan Sultan itu.

Entah karena capek, aku sudah terlelap. Jadinya televisi yang menonton aku tertidur. Bah?! – Aku terbangun kaget mendengar suara HP-ku menyalak dengan lagu Halleluyah! Aku lihat nama pemanggil, Andri. Aduh, kenapa lagi nih anak? Pikirku merasa terganggu. Gak biasanya Andri nelpon kayak gitu. Orang satu kost, ngapain mesti nelepon segala?

“Hallo…,” suaraku males banget.

“Selamat Ulang Tahun, ya, bang…” terdengar suara Andri begitu riang.

“Haaah…??!” selakku kaget. “Gak salah lo?”

“Sekarang kan udah jam 00.00, bang,” balas Andri gak mau kalah.

Aku melirik jam kecilku di atas meja televisi. Benar. Sekarang sudah tanggal 22, pikirku.

“Ke-48, ya, bang?” terdengar lagi suara Andri.

“Yah, desahku pelan. Makasih, ya…” ujarku sendu.

Kami di kost memang sangat dekat satu dengan yang lainnya. Sudah kayak keluarga. Dan, karena aku paling old, aku selalu menganggap mereka seperti adikku sendiri. Kebetulan orang yang paling dekat dengan aku, ya, si Andri ini. Dia seorang sahabat yang enak diajak berbincang. Dan, sebagai suku Cina yang tadinya anak orang kaya, dia telah dapat menerima kenyataan hidupnya saat ini, hidup sederhana. Dari adikku yang satu ini, aku banyak mendapat pelajaran soal-soal marketing.

Usai menerima ucapan dari Andri, aku kembali rebah. Baru sadar kalau televisi masih hidup. Kubiarkan saja. Mataku menerawang ke eternit kamar. Empat puluh delapan? Batinku seperti tak percaya. Bentar lagi aku lima puluh tahun, kalo Tuhan masih kasih usia yang panjang. Sungguh tidak terasa. Rasanya, baru kemarin itu aku masih main layang-layang di hamparan sawah, belakang sekolah dasarku, SD Latihan Tarutung.

Aku adalah orang yang paling ogah merayakan hari ulang tahun. Sekali-kali seumur hidup, yang namanya meniup lilin di atas kue tart baru sekali aku lakukan. Itupun karena kejebak di kantor. Biasanya, bertepatan dengan hari ulang tahunku, aku selalu bikin alasan agar tidak masuk kantor. Aku gak ingin diheboh-hebohkan. Tapi, tahun kemarin, aku tidak bisa menghindar.

Dari dulu, selalu aku heran; kenapa sih orang harus merayakan hari ulang tahun? Bukankah seharusnya bersedih, karena pertambahan usia kita, itu sama dengan makin dekatnya kita ke ujung kematian. Ngapain mesti menerima hadiah kado ulang tahun? Aku pikir, mungkin orang yang memberikan kado itu sebagai perlambang mensyukuri. “Nih, saya kasih hadiah untukmu. Saya bersyukur, sebentar lagi kamu akan mati” – Bah, sedangkal itukah aku berpikiran picik?

Pikiranku mengolah terus. Kutemukan satu jawaban; bahwa aku pantas bersyukur setiap kali melewati setahun dari hidupku. Tak ada manusia yang tidak mati. Semua menuju ke sana. Jadi, sepantasnya kita bergembira menuju kematian itu. Dunia ini hanya kefanaan. Masih ada dunia keabadian dalam kematian. Itulah tujuan akhir hidup setiap insan.

Aku merasa mendapat pencerahan. Bangkit dari tidur. Duduk di sisi ranjang. Volume TV aku mute. Doa yang tak terbilang melucur sendur dari bibirku hitamku karena banyak merokok. Aku mengucap syukur pada Tuhan yang telah memberi aku kehidupan apa adanya aku ini sekarang. Mengucap syukur karena aku masih diberi nafas kehidupan hingga melangkah ke labirin usia empat pulu delapan. Tak lama lagi gocap. Ahk, sudah tua rupanya aku ini, bah…!!

*** Happy birthday Tappang…!! Godbless you…! ***