artikel-breaking-news

Good government? Kenapa tidak…!

diaryblogdotcom [11 Februari 2009]. – LAGI asyik-asyiknya mentertawakan perdebatan partai di salah satu televisi swasta, tiba-tiba saya dikejutkan dengan memotongan gambar ke “breaking news” . Maka terlihatlah wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono [SBY] sedang berdiri di podium. Kamera statis, tidak berubah. Wajah SBY sepertinya memancarkan kekesalan. Dalam hati aku bertanya; “Breaking news apa nih?!”

Saya menonton bersama Andri, teman kost. Kami coba menyimak, ada apa kok sampai orang nomor satu di negeri ini malam-malam memberi pengarahan? Sempat terpikir; apakah negara dalam keadaan genting?

Simak punya simak, ternyata SBY sedang mengklarifikasi pernyataan Ahmad Mubarak, Wakil Ketua Umum DPP partai Demokrat. Diketahui, dalam satu kesempatan, Mubarak memberikan statemen kepada pers, kalau partai Golkar dalam pemilu kali ini hanya bisa mendapat 2,5% suara.  Rupanya, hal itu telah membuat SBY begitu gusar, mengingat kedekatannya selama ini dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla [JK], sampai-sampai harus mengundang pers ke rumahnya di Cikeas, malam-malam pula itu.

Buat saya, breaking news itu sangat aneh dan tidak penting banget. Atau, memang televisinya yang sok aktual, menganggap itu perlu untuk diketahui seluruh rakyat negeri ini? – Wartawan/reporter, atau redaktur media di zaman ini memang makin nyeleneh saja. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kerap membuat kuping panas mendengarnya. Suka garing, istilah gaulnya.

Kembali ke breaking news SBY. Yang aneh menurut saya, ketika salah seorang wartawan mengajukan pertanyaan, mungkin memposisikan SBY sebagai Presiden, kontan Beliu protes seakan mengatakan posisinya saat itu bukan sebagai Presiden RI.

Aneh dong? Lantas selama hampir setengah jam itu, Negara kita ini tidak punya Presiden dong? Kalau tiba-tiba negara mengalami chaos saat itu, Presiden kita siapa? Sementara Wakil Presiden masih di luar negeri. Waallaaahh, runyam benar negera ini.

Kalau cara pola pikir para pejabat negara seperti itu, maklum sajalah negara ini saya sebut negeri Simsalabim, serba instan. Dalam hitungan detik seseorang bisa berubah jabatan – karena memang terlalu rakus merangkap-rangkap jabatan. Seharusnya, pejabat negara tidaklah merangkap, atau nyambi, menjabat di salah satu organisasi, atau lembaga apapun namanya itu. Hal inilah yang menjadi pemicu mudahnya seorang penjabat memelintir statemennya di masyarakat. Dengan anteng saja mereka akan mengatakan, “Saya mengungkapkan ini bukan sebagai pejabat ‘anu’, tapi sebagai kader partai anu.” – Lhaaa…?? Enak benar jadi pejabat di negeri Simsalabim ini, ya…

Saya jadi ingat mantan Presiden Amerika Serikat, George W Bush. Ketika negerinya dilanda hiruk-pikuk pemilu kemarin, dia malah bertandang ke Irak, sampai dilempar sepatu oleh salah seorang wartawan setempat. Ini menunjukkan, bahwa negeri paman Sam itu memang sudah dewasa dalam bernegara. Bush tidak ikut sibuk dengan partai Republik. Ia tetap menjalankan tugasnya saat itu sebagai Kepala Negara.

Sangat menarik pernyataan Capres independen, Fadjroel Rachman: “Susilo Bambang Yudhoyono melecehkan Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Pratomo, dengan mengambil alih wewenang Hadi Purnomo dalam “Kasus Pelecehan Golkar 2,5 persen.”

Padahal SBY hanyalah ketua dewan pembina. Kasus ini menunjukkan SBY memang berguru total pada Soeharto yang memperlakukan Golkar sekadar perpanjangan tangannya saja, padahal Soeharto juga hanya ketua dewan pembina seperti SBY,” ujar aktivis demokrasi Fadjroel Rachman. [Kompas.com, Rabu 11 Feb 2009].

Bukankah begitu seharusnya para pejabat di negeri ini? Memang sudah sepantasnyalah dibuat peraturan, agar setiap pejabat publik dilarang merangkap jabatan, terutama yang berhubungan dengan partai. Karena hal ini jelas akan mempengaruhi kebijakan mereka.

*** Bagaimana teman-teman? Silahkan memberi pendapat masing-masing.