artikel-tak-ada-kado

…kedua anaknya selalu bersemangat membanggakan bapak mereka orang hebat. Kerja di Jakarta…

diaryblogdotcom [22 Desember 2008]. HUJAN masih mengguyur Jakarta. Senja yang buram bersaput hitamnya mendung di langit, seakan ingin menelan hiruk-pikuk Ibukota negara. Jalanan di depan halte bis pasrah menerima cubitan-cubitan renai hujan. Kendaraan sipemicu kemacetan hanya satu-dua yang berani unjuk hidung. Lengang, seperti dunia tak berpenghuni.

Silomos yang sendirian meringkuk di bawah atap halte bis, menelan ludah pahit oleh kegetiran hatinya. Hari ulang Tahun Yesus tinggal sehari lagi. Kemarin, Sibulus dan beberapa temannya yang lain telah pulang ke kampung naik kapal laut. Mereka sudah 3 tahun tidak merayakan Natal bersama keluarga. Jauh-jauh hari untuk hari yang dinantikan tahun ini, telah mereka persiapkan biaya-biaya untuk itu. Tadinya, Silomos pun merencanakannya. Namun, setelah menganggur selama 4 bulan terakhir ini, uang simpanannya habis juga untuk makan dan bayar pemondokan. Metro Mini tempatnya mencari nafkah selama ini telah dijual pemiliknya karena merugi terus. Untuk berganti majikan tidaklah mudah. Karena di pangkalan atau terminal, juga banyak yang antri jadi sopir cadangan. Kalau untuk sekadar makan, Lomos masih gampang nodong sana-sini dari temannya, atau sesekali ikut jadi kondektur.

“Pa, kalau Natal nanti pulang, Roma mau dibawakan boneka Santa Klaus,” celoteh putri sulungnya yang baru berusia 6 tahun, ketika Lomos menelepon 3 bulan yang lalu.

“Sabar mau mobil-mobilan yang ada baterainya, pa…” timpal anak lelakinya yang berusia 5 tahun.

“Bapak pasti bawakan semua itu,” balas Lomos antusias, gembira sekali dia bisa mendengar keceriaan suara kedua anaknya. Rindu untuk memeluk mereka.

Ahk, sudah 2 tahun Silomos tidak melihat kedua anaknya itu. Pasti badan mereka sudah besar-besar. Apalagi si Sabar yang makannya banyak. Ikan asin pun dikasih ibunya, ia selalu menikmati makannya. Agak beda dengan kakaknya, si Roma, yang makannya sedikit. Itupun harus dipaksa ibunya. Tak heran tubuhnya terlihat agak kurus. Sewaktu dulu masih bersama di kampung, Silomos memang sedikit memanjakan putrinya itu. Setiap dia ke lapo, pasti membawa serta si Roma. Walau kala itu Roma masih kecil, tapi karena kebiasaan diberi jajan apa adanya di lapo, telah membuatnya terbiasa dengan jajanan. Silomos terlalu membanggakan putrinya yang cantik dengan kulit putih bersih. Di desanya belum ada anak secantik dan seputih si Roma. Itulah yang membuat Lomos bangga membawa putrinya itu ke lapo, seakan mau pamer.

***

Hujan mulai reda. Malam pun tiba. Lalu-lalang kendaraan mulai ramai dengan sorot lampu menghiasi jalanan di depan halte. Lomos bergeming. Matanya berkaca-kaca. Untung tak ada orang lain di sana, sehingga dia lebih leluasa menikmati kepedihan hatinya. Hatinya menjerit marah kepada Tuhan. Kenapa?! Kenapa Tuhan seakan tidak pernah berpihak padanya? Kenapa dia mesti lahir sebagai orang tak berpunya? Adilkah Tuhan ketika orang berlimpah harta, tapi tidak mengenal Tuhan secara pribadi?

Lomos begitu kesal dan gemas pada Tuhan. Janji kepada anak-anaknya tidak bisa ia penuhi. Bagaimana perasaan mereka nanti? Sudah dipastikan, mereka akan menanti dan menanti tanpa tahu kondisi dirinya yang juga hampir sekarat hidup di tengah ganasnya persaingan kota Metropolitan.

Lomos sangat sedih membayangkan. Kedua anaknya pasti akan berlari ke arah pintu rumah ketika mendengar suara motor pengawai pos melintas, berharap kado Natal seperti yang dia janjikan sudah terkirim. Tapi, betapa kecewanya nanti kedua buah hatinya itu apabila motor pos itu cuma melewati pekarangan rumah mereka. Wajah mereka pasti kecut. Dalam kepolosan berpikir, mereka bangga punya bapak yang bekerja di Jakarta. Tidak seperti bapaknya si Tiur yang kerjanya cuma mengotori tubuhnya di tengah sawah. Seberita istrinya, kedua anaknya selalu bersemangat membanggakan bapak mereka orang hebat. Kerja di Jakarta. Tiap bulan kirim uang untuk beli baju baru dan biaya sekolah mereka. Beberapa anak sekampung, terlihat suka iri mendengar cerita Roma dan Sabar. Bah, di manakah keadilan-Mu, Tuhan? Bagaimana mungkin aku bisa membuat kedua anakku bangga kalau Tuhan tidak kasih kekayaan? – Gemas sekali hati Silomos, kian memerih hatinya.

Bis AC Mayasari Bakti berhenti di depan halte. Turun dua orang wanita dengan pakaian bagus. Sepertinya mereka mau ke pesta. Sejenak pikiran Lomos teralih. Ia tak bermaksud menikmati kecantikan wajah kedua wanita itu. Mata Lomos justru lekat ke tas tangan yang sedikit terayun oleh gerak langkah kedua wanita. Dipastikan, di dalam tas wanita itu ada uang ratusan ribu. Cukuplah untuk membeli kado Natal untuk kedua anaknya serta biaya pengiriman.

Silomos beringsut dari duduknya. Berdiri sambil terus mengawasi arah langkah kedua wanita menuju prapatan tak jauh dari halte. Lomos pikir, harus merampas salah satu tas wanita itu demi kebahagiaan anaknya untuk merayakan hari ulang tahun Yesus itu.

Kedua wanita berbelok. Lomos mengikuti. Jalanan sangat sepi. Peluang begitu besar. Di benak Lomos terus melintas wajah kedua anaknya. Langkah Lomos makin cepat mendekat. Taapp…! Salah satu tas wanita itu berhasil dirampasnya. Kedua wanita terpekik kaget. Lomos berlari sekencang mungkin. Dia tidak mendengar tidak teriakan minta tolong. Lomos tak peduli. Dia terus berlari sejauh mungkin. Merasa tak ada yang mengikuti, Lomos memperlambat larinya karena tak ingin dicurigai orang lain. Tas hasil rampasannya, ia sembunyikan di balik bajunya.

***


Rumah pemondokan Lomos sepi. Sebelum Sibulus pulang, biasanya rumah itu selalu ramai dengan teman-teman mereka yang lain sesama kru bis metro mini. Lomos tidak perlu kwatir akan dicemooh teman-temannya karena baru merampas tas orang lain.

Begitu masuk ke dalam, Lomos langsung mengunci pintu. Lalu berselonjor duduk di atas karpet usang, tempat mereka biasa tidur berhimpitan. Nafasnya masih tersengal. Irama jantungnya berdetak keras. Lomos menyandarkan tubuh ke dinding rumah. Menghela nafas, coba tenangkan diri.

Tangan Lomos bergetar ketika mengeluarkan tas dari balik baju. Tas itu berwarna cokelat dengan pita kecil dan bunga mawar menghiasi. Agak berat bila ditenteng. Lomos pikir pasti barang berharga.

Walau tangannya masih bergetar, perlahan Lomos menarik resleting tas. Hidung Lomos mencium wangi yang menyeruak dari dalam tas. Lomos memejamkan mata. Terlintas wajah kedua anaknya. Mereka tidak ceria. Roma dan Sabar hanya menatapnya prihatin. Jiwa Lomos terombang-ambing. “Bagaimana mungkin aku membelikan kado Natal untuk anak-anakku dari hasil merampok?” – Batin Lomos menyiasati. Muncul penyesalan dan rasa tidak tega terhadap kedua anaknya. Tak terbayangkan, kedua anaknya akan begitu gembira memamerkan kado kiriman bapaknya, tapi mereka tidak mengetahui dari mana uang itu untuk membelinya. “Bapak macam apa aku ini?”

Lomos merasakan tangannya dingin. Airmatanya membuncah tak tertahan.

“Oh, Tuhan. Iblis apa yang telah merasuk hatiku hingga aku melakukan yang kupantangkan selama ini?”

Lomos mulai meratap dalam penyesalan. Lama dia menangis, hingga akhirnya bisa lebih tenang. Perlahan ia periksa isi tas. Selain beberapa make up, di dalamnya ada Alkitab. Jantung Lomos serasa berhenti. Dengan tangan gemetar, ia keluarkan Alkitab. Tak ada lagi isi tas selain uang 20 ribu di dalamnya.

Lemas sudah segala persendian Lomos. Ia telah merampas tas orang yang hidupnya pun tidak jauh beda darinya. Di antara halaman Alkitab, Lomos menemukan secarik kertas. Ternyata satu surat untuk seorang ibu di Sangir Talaud sana. Dalam surat itu, Deby penulis surat, minta maaf pada ibunya karena tidak bisa mengirimkan uang untuk persiapan Natal tahun ini. Ia baru saja di PHK, sebagai imbas dari krisis global yang melanda dunia. “Tapi, ngana percaya. Tuhan Yesus adalah kado yang terbaik buat kita sepanjang hidup,” Akhir surat Debi, yang dibaca oleh Lomos.

Jiwa Lomos makin tak karuan. Ia merasakan, saat itu Tuhan sedang menamparnya sangat keras. Airmata penyesalan semakin deras membasahi pipinya. Bagaimana kalau almarhum bapaknya, yang seorang penatua gereja, mengetahui hal jahat perbuatannya? Hanya untuk alasan kebahagiaan keluarga harus melakukan kejahatan? Alasan yang terlalu dicari-cari untuk membenarkan tindak kejahatan.

***

Telah larut malam. Lomos melangkah gontai menyusuri trotoar menuju prapatan dekat halte. Jalanan sudah terlihat mulai mengering. Lomos mencoba susuri arah kedua wanita tadi berbelok. Ternyata, di ujung prapatan sana ada kemeriahan. Di salah satu rumah paling ujung terlihat suasana terang. Dari jauh, Lomos melihat banyak anak jalanan dengan segala atribut mereka bersukaria di depan rumah.

Ketika langkah Lomos berhenti di depan rumah yang penuh hiasa itu, ia baru menyadari kalau tempat itu adalah Rumah Singgah anak-anak jalanan yang tengah merayakan Natal. Di depan pintu rumah yang difungsikan sebagai mimbar, Lomos melihat kedua wanita pemilik tas yang dirampasnya tadi. Salah seorang sedang memimpin doa safaat.

Nafas Lomos tercekat ketika ia mendengar dalam doa wanita itu; “Ya, Yesus… secara khusus saya berdoa buat lelaki yang telah mengambil tasku tadi. Ampunilah perbuatannya yang tidak berkenan di hadapan-Mu, dan berkati juga hidupnya. Mungkin dia sangat membutuhkan isi tasku itu untuk dipergunakan. Semoga isi tas itu menjadi berkat bagi hidupnya…

Lomos tertunduk, malu sendiri. Apapun alasannya, perbuatan jahat tidaklah ada pembenarannya. Apa adanya, itulah hidup. Lomos duduk di pinggiran trotoar. Ada rasa lega di hatinya, karena ia harus mengembalikan tas itu. Biar pun tahun ini ia tak bisa mengirim kado untuk kedua anaknya, namun ia tahu kalau kelahiran Yesus adalah kado yang tak ada usangnya bagi setiap orang yang percaya pada DIA. ***

Saya dan keluarga mengucapkan:

Selamat Natal 25 Desember 2008

&

Tahun Baru 1 Januari 2009

Iklan