You are currently browsing the category archive for the 'feature' category.

“Kamu kan mau makanan khas daerahku. Di sinilah tempatnya,” sergah Dik begitu melihat wajahku yang enggan masuk ke warung itu.

Si Botak “koki” warung itu, yang matanya suka liar ke kami, belakangan ini tatapannya setiap kami melewati warungnya, suka nelangsa.


Tinggal memasang tali, lalu dimasukkan ke lobang sarung, sudah bisa ditarik ulur persis layar opera. Read the rest of this entry »
![]()
![]()
![]()
“Happy Valentine. Biarlah kita menjadi virus untuk menebar cinta kasih di manapun langkah terjejak. Dengan begitu dunia pun akan diterangi” Read the rest of this entry »
Berhasil melewati jalan Patra, papa berharap menemukan angkutan umum menuju Grogol. Ternyata tak satupun yang beroperasi. Makin dongkollah hati papa karena harus berjalan kaki sampai Grogol, kira-kira 2-3 Km. Read the rest of this entry »
![]()
![]()
![]()
![]()
Tak dapat dipungkiri bahwa keadaan huta di Batak sono sudah sangat memprihatinkan. Tidak ada kemajuan dan perkembangan.
“Ini kan keset kaki kamar mandi! Handuk tamu hotel ada di lemari… wakakakakaaakkk…! Dasar Batak kampung!!” teriak Rano tergelak sangat keras. Wajahku terasa panas karena malu… Tepatnya, malu-maluiiiinnnn…!!! Read the rest of this entry »
“Pa, kenapa gak nyari kerja di Medan aja? Kenapa gak pindah aja kita ke Jakarta?” Read the rest of this entry »
![]()
![]()
![]()
[Adalah lebih baik bila kita mau belajar dari yang telah lalu. Berpikirlah bahwa hari, minggu, bulan, dan tahun selalu melahirkan kemajuan dalam setiap gerak hidup kita]
[puisi ini saya tulis sekitar tahun 80-an, dan dipublisir dalam bentuk Bunga Rampai, yang diterbitkan kelompok kerja PERPENA - Persekutuan Penulis Nasional, dibawah arahan penerbit Bina Kasih]. Read the rest of this entry »
[setiap Natal menjelang, hati selalu bias pada kenangan masa kecil. Natal selalu indah dikenang ketika kepolosan hati seorang anak memaknai Natal sebagai pesta yang penuh kebahagiaan]
Di lambung kapal ketika perjalanan “kalah berperang” di tanah rantau itu, aku merenung dalam diam yang bingung. Bagaimana aku bisa hidup di tanah orang Melayu itu nanti, sementara geliat senimannya tak pernah terdengar? Di manakah Tuhan ketika dera kegamangan hidup melanda diri?
[Orangnya selalu pengin dimanja. Mungkin kepengaruh dari dirinya yang seorang anak bontot alias bungsu. Dan tak sungkan membeberkan kedekatannya dengan sang ibu.]
Biasanya pengendara sepeda motor selalu nyelonong se-enaknya. Aku sendiri kerap jengkel dibuatnya. Kadang tinjuku mau kulayangkan…
“Gue tahu odol lo apa…! Gue tahu pasta gigi lo apa…!” Lho? Emangnya odol sama pasta gigi ndak sodaraan ape?
Orangtua hampir tidak ada yang protes ketika mendapati di betis anaknya ada memar karena dipukul guru pake penggaris kayu. Read the rest of this entry »
“Aku hanyalah pensil dalam tangan Tuhan. Tapi, Dia-lah yang menulisnya,” Read the rest of this entry »
Si ibu muda jadi merasa terganggu oleh prilaku pria di sebelahnya. Iapun berguman saking dongkolnya: “Huh…! Menyebalkan! Ingin rasanya kutampar saja mukanya!”




















Komentar Terakhir